Minggu, 25 November 2012

Dipenghujung tahun ajaran baru, (Maaf aku tak bisa membalas perasaanmu)

"Ibu, Atisya nyontek bu" suara itu keluar dari mulut Ridwan membuyarkan kesibukanku mengerjakan soal ulangan. membuyarkan keheningan ruang ujian.
"Hah? apa? fitnah kau!" aku menunjukkinya, aku kesal difitnah olehnya, dia bercanda disaat yang salah.
"Alah, nga usah ngelak Atisya"
"Atisya, benar kamu nyontek?"
"Ngak bu, sumpah. ini murni otak saya, kemarin saya menyempatkan belajar 2 jam buat persiapan ulangan ini."
"Iya bu, emang tuh Ridwan dari dulu nga pernah bisa berhenti ngegrecokin hidupnya Atisya, selalu aja nyariin Atisya masalah atau kalo nga ngejekin Atisya." sahut Tini menyakinkan guru bidang studi matematikaku.
demi apapun hari itu aku ngak nyontek, dan memang benar kata Tini, entah saya yang terlambat menyadarinya atau bagaimana, Ridwan sejak awal tahun ajaran sampai sekarang memang hobi mengganggu ketenangan hidupku bak hantu yang sedang mangintai ketenangan hidupku. entahlah hantu jenis apa Ridwan ini. sayangnya iya terlalu ganteng untuk menjadi hantu.
*****
"Atisya, lo cantik yah?"
"Baru nyadar yah lo?"
"Bukan baru nyadar, tapi baru aja gue boongin ello" lidahnya menjulur keluar, seluruh darah dalam dadaku terpompa sangat cepat, aku sangat ingin menyumpel mulut Ridwan tapi sayangnya dia sudah berlari jauh sebelum aku sempat menyumpelnya dengan batu disampingku, batu inipun dengan refleks ku bidikkan tepat ketubuh jenjang Ridwan, namun sayang, bidikanku tidak tepat sasaran dan meleset dengan sempurna, larinya sangat kencang.
Ridwan, pria ini tampan, cukup tampan. Tahun ini merupakan tahun sial bagiku, karena harus menerima kenyataan bahwa aku sekelas dengan sosok makhluk seperti Ridwan. kini aku telah menginjak masa akhir SMAku, mungkin ada sekitar 6 bulan lagi Ujian Nasional, dan aku akan meninggalkan sekolah ini, dan hal baiknya aku tak akan diusik lagi oleh Ridwan. Ridwan bisa dikatogerikan pria yang tampan, parasnya manis, tawanya mampu melelehkan wanita kecuali aku, aku tidak meleleh sama sekali. Ridwan ibarat parasit dalam hidupku, yang terus-terusan menggangguku.
*****
"Atisya, ello besok ikut lomba modeling di Graha Pena ngak?"
"Ahh, nga nih, lagi boke, sedih banget" Ridwan kembali mengingatkan kekecewaanku, sejenak aku kembali gunda, kembali meratapi kesedihanku. yang terlalu bodoh menghabiskan uang 700 ribu rupiah hanya karena sebuah tas, yang sebaiknya uang itu kugunakan untuk mendaftarkan diri di kompetisi modeling juga membeli  busana yang bisa kugunakan saat show. aku mengutuk diri yang terlalu mudah tergiur oleh benda mewah.
"Ahh, bohong, bilang aja takut kalah" aku tertawa, ledekan Ridwan memang terkesan pedas,namun aku tak menganggap itu penghinaan, aku malah terhibur, dalam waktu beberapa detik kesedihanku hilang digantikan tawa. Mungkin suatu saat aku akan merindukan ledekan Ridwan.
"Heyy, kurang ajar kau" tanganku mulai mengepal ingin menghajar sosok Ridwan, namun aku kalah cepat, Ridwan sudah melangkah seribu langkah didepan. aku mengejarnya.
*****
Entah, hal apa yang membuatku jatuh cinta dan tertarik pada Atisya, gadis ini sangat manis, dia jutek dan dia terkesan tertutup pada lelaki, ini membuatku semakin penasaran. jujur saja saat melihat tawanya disetiap hari-hari sekolahku merupakan bonus tersendiri bagiku, yang walaupun mungkin hanya berlaku selama 10 bulan, karena setelah UAN, tak ada lagi jam belajar seperti biasa. Aku suka menggrecoki hidupnya Atisya, selalu ada ketertarikan sendiri dari dirinya saat ia menggerutu memarahiku, itulah alasan mengapa hari-harinya selalu ku jahili, dan disetiap aku menjahilinya, aku terus-terus disuguhi muka penggerutunya, muka marahnya dan disaat yang sama aku juga semakin mencintainya.
Karakternya yang tertutup pada lelaki, membuatku takut mendekatinya sebagai calon pacar, maka dari itu, sudah sekitar 4 bulan ini aku mendekati Atisya sebagai "Lelaki yang selalu menggrecoki hari-harinya"
Aku ingin mengenalnya lebih..
Ingin mencintainya lebih...
tapi bisakah aku?
*****
"Ridwan, ello bakalan lanjut dimana entar?"
"Ahh, nga tau nih Atisya, kayaknya bukan dimakassar deh" ada tatapan sendu dimata Ridwan. yang tergambar sangat jelas. entah kenapa melihat matanya aku ikut terbawa suasana hatinya yang sedang kelam.
"Loh? dimana? kok bisa?"
"Dibandung Tis, Ortuku ada urusan pekerjaan dibandung selama 5 tahun, dan karena aku anak tunggal, aku harus ngikut mereka."
"Terus kalo gitu, hal yang paling bakalan ello rinduin dari Makassar apaan Ridwan?"
"Ello Atisya" jawaban itu menyentakkanku
"Hah, becandaan lo rusak banget"
"Aku serius Atisya" dan dia melangkah pergi menjauhiku yang duduk terpaku.
Tuhan, selama ini Ridwan melihatku sebagai apa? Adiknya yang selalu diusili? Sahabat yang jadi korban aniyayahnya? ataukah Orang yang paling ingin ia tarik perhatiannya?
*****
yah, setelah akhir tahun ajaran ini, aku akan pindah kebandung, meninggalkan hidupku dimakassar, meninggalkan kenangan manis dimakassar, aku sudah sangat akrab dengan daerah ini, perasaanku berat meninggalkan makassar, memang tidak lama hanya 5 tahun. tapi ini menjadi pekerjaan yang berat saat mengetahui aku akan meninggalkan makassar dan juga akan meninggalkan Atisya. jelas Aku akan merindukannya. 4 bulan penuh melihat tawanya, melihat muka jengkelnya, muka kesalnya, muka rusuhnya. sudah menjadi satu ketergantungan tersendiri bagiku.
Sanggupkah aku?
Sanggupkah aku meninggalkanmu Atisya?
*****
Apakah Ridwan bercanda?
Jika iya, kenapa iya bercanda dengan memujiku, sejauh ini Ridwan selalu bercanda dengan celaan, mengapa kali ini berbeda?
Ataukah kali ini ridwan serius? apa yang sebenarnya terjadi?
tapi tatapan Ridwan, tatapan matanya yang bulat itu sangat tidak bisa dikatakan sipit, bola matanya yang bulat hitam dengan alis yang bersambung. disaat aku menatap matanya, baru pertama kali ini aku melihat binar dimatanya, mengapa? apakah ini pertama kalinya ia jujur padaku? ataukah ini termasuk tipuan?
Tapi, jika memang Ridwan pindah keBandung?
Akankah aku kehilangannya?
kehilangan sosok sepertinya?
ataukah aku malah akan merindukannya?
Tidak, aku sama sekali tidak tertarik padanya.
*****
Ujian akhir sekolah telah berlalu,Semua siswanya dinyatakan lulus 5 menit  yang lalu oleh kepala sekolah, aku sangat bahagia, seluruh masyarakat sekolah merasakan hal yang sama. namun ada sebuah keganjalan dihatiku.
yang sampai sekarang belum bisa kutemukan apa itu.
"Atisya, lo bisa ikut gue bentar ngak?" suara Ridwan membuatku berbalik kebelakang, dia terlihat sangat rapi, tapi dia tidak mengenakan baju putih abu-abu seperti anak lainnya. dia mengenakan Polo Tshirt dengan celana jeans.
"Loh? ada apa ini?" Ridwan mengacuhkanku, dia hanya berbalik dan terus berjalan, seperti perintahnya agar aku mengikutinya, akupun mengikuti langkahnya dari belakang.
*****
Entah bagaimana lagi caraku untuk menyampaikan perasaanku pada sosok Atisya,sosok yang paling ku cintai. hari ini adalah hari terakhirku diMakassar, pengumuman hasil ujian diumumkan jam 9 tadi, sedangkan aku harus pergi bersama ayah kebandara tepat jam 12 siang ini. itulah alasanku  berpakaian non-formal. dan aku hanya punya waktu 2 jam untuk Atisya.
yah, itu dia, gadis yang kucari, rambut panjangannya yang pirang maron serta jepitan berwarna abu-abu yang menjadi tanda pengenalnya.
"Atisya, lo bisa ikut gue bentar ngak?" Atisya berbalik, wajahnya sedikit kebingunggan.
"Loh? ada apa ini?" aku tak mampu menjelaskannya ditempat ini, aku memilih untuk bungkam dan terus saja berjalan, membiarkan gadis ini mengikuti aba-aba dariku.
tibalah kami di taman sekolah, disini cukup sepi, anak-anak yang lain berkumpul diAula, inilah tempat yang paling sempurna untuk jujur pada Atisya.
"Aku mencintaimu Atisya" tanpa ba-bi-bu aku langsung ke inti permasalahan.
"hah? ku kira kau hanya menggaapku sebagai teman biasa, tak lebih"
"Aku menggapmu lebih Atisya, Maaf aku mengatakan perasaanku, disaat-saat terakhirku dimakassar, sebentar lagi aku akan berangkat kebandung Atisya. aku tak berharap engkau membalas cintaku, cukup kau tau isi hatiku. ini sudah sempurna."
"Aku, aku akan merindukanmu Ridwan, merindukan ledekanmu, merindukan gangguanmu, semuanya"
"Aku juga Atisya, aku akan merindukan segala hal tentang dirimu. aku mencintaimu" tanpa aba-aba aku langsung mengecup dahi Atisya, menggambarkan rasa sayangku yang selama ini ku pendam padanya.
"Ridwan, Maaf aku tak bisa membalas cintamu" kata-kata yang terlontar dari mulut Atisya memang menyakitkanku, tapi setidaknya telah menjawab semua kegundahaku, mungkin DiBandung aku akan menemukan Atisya-Atisya yang lain yang Atisya yang ingin membalas cintaku.
*****
Kini semuanya terjawab, semua tingkah bodoh dan menjengkelkan Ridwan, semua itu didasari karena ingin menarik perhatianku, tapi mengapa aku yang ia inginkan ? sangat banyak wanita dimuka bumi ini? wanita normal? kenapa ia memilih yang berkelainan seperiku?
Dia salah, Ridwan salah memilih. dan dia tidak mengetahui kesalahannya.
Hal yang saat ini bisa ku rasakan hanyalah rasa bersalah tak bisa membalas Cinta Ridwan.
bukan karena aku telah mempunyai pacar.
bukan karena aku mencintai orang lain.
bukan karena aku ingin sendiri.
bukan karena Ridwan bukan tipeku.
bukan karena aku menginginkan orang lain, atau karena Ridwan kurang tampan.
hanya saja Aku tak mencintai Pria.
Dan cukup aku yang tahu, aku tak ingin membiarkan Ridwan maupun keluargaku mengetahui hal ini.
Hanya aku sendiri yang mengetahui keabnormalanku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar