Rabu, 07 November 2012

Semuanya sudah terlambat

Tubuhnya terbaring lemas, tak bergerak, kaku, kulitnya yang putih jadi semakin terlihat putih, kulitnya yang mulus semakin tidak terurus. sekejap aku mengagumi dirnya, yah dia cantik, sangat cantik, bibirnya mememang terlihat gelap namun dimasa lalu bibir itu sangat merah, hidungnya yang mancung, kini tak terlihat indah lagi, karena selang yang mengganggu pemandangan, yah alat bantuan pernafasan, tubuhnya yang putih bersih kini tergores-gores sayatan. hatiku miris melihatnya, lebih miris bahkan sangat miris mengingat dia orang terdekatku.
Dia orang yang berkecukupan, sangat berkecukupan, di cantik, yah dia model, dia sahabatku, kini aku berdiri tegap, kaku, tak tahu harus bagaimana, disampingku hanya ada tante Ani, wanita separuhbaya yang hanya berpakaian piama. aku tak melihat ibu sahabatku, kabar yang menjamah telingaku, ibunya kini ikut sakit melihat keadaan anaknya.
Ayahnya? tak ada yang mengetahui, yang jelas kini ayah sahabatku marah padanya, marah dan malu memiliki anak sepertinya, pertanyaanku, jika hari ini hari terakhir sahabatku, adakah rasa penyesalan dari ayahnya?.
entahlah, semua ini, semua kekacauan ini, karena Adrian!
***************

"ohh, jadi sekarang lebih mentingin Adrian dari pada sahabat sendiri?" tubuhku membara, emosi sedang menguasai tubuhku, ku hardik gadis cantik yang berada tepat dihadapaku.
"ngga Tif, Cari kadonya kan bisa besok, Adrian minta aku nemenin dia ke bandung, dan ini penting."
"Stoop Fany, Adrian itu pengedar narkoba! loh perlu tau itu!"amarahku semakin menjadi.
(Praaaaakk) tangan kanan fany mendarat mulus dipipiku.
"Ello berubah Fan, sangat, mulai sekarang kita bukan sahabat lagi, urusin tuh Adrian! kalo lo kecanduan narkoba jangan cari gue!" kesabaranku habis, hatiku benar-benar membara.

****************

"Eh, ello temanya Fany kan, pacarnya Adrian.?" sapa seorang remaja berusia sekitar 2 tahun lebih muda itu.
"Ahh, iya, kenapa?"
"Ehh, For Your Information, Adrian itu pengedar narkoba, yah bandar narkoba tepatnya, haarapan gue sih ello bisa hati-hati aja, Fany juga perlu kayaknya, perlu banget" Tatapan matanya serius.
"Ehh, ello jangan suka Fitnah-fitnah orang yah! sana deh ello, lo pikir gue percaya gitu? ello sendiri aja orangnya sok kenal banget!"
"Yah, setidaknyakan udah gue kasih tau" jawabnya acuh-takacuh.
Dia melangkah menjauh, stylenya casual santai, biasa saja. Sejenak aku memakinya tapi kenapa 5 menit setelah kepergiaannya hatiku merasa cemas.

*****************

Handphoneku bergetar, pertanda ada sebuah telephone, ku raih Hpku, tanpa menyadari bahwa itu bukan kata-kata yang ingin ku dengar.
"Tifaaa, loh dimana?" ku kenali suara itu, suara cempreng yang biasa meneriakiku disekolah.
"Dirumah Tesya, kenapa?
"Tif, ello masing sering contackan ma Fany, nga? yah yang gue denger sih sekarang dia lagi koma dirumah sakit sudah ada 2 minggu kayaknya."
Tubuhku terbujur kaku, aku tak tahu harus bagaimana, ku dengar suara dari telephone, halo, halo, halo, aku tak mampu menggubrisnya, ku sadari bahwa semenjak perkelahianku dengan Fany aku sudah tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya, yah sudah sekitar 1 bulan ini.

*****************

Kudapati tante Ani sedang mengunci pintu rumah, yah setelah mematikan telephone segera ku putuskan untuk pergi kerumah Fany, saat dijalan aku berharap Tesya membawa kabar yang tak benar.
"Tante Ani? mau kemana?" sapa ku memulai perakapan tepat didepan rumah bercat abu-abu itu.
"Tifa?"
dalam hitungan detik tante Ani menarik tubuhku, memelukku sangat erat, dibahu kiriku aku dapat merasakan basahnya tetesan air mata yang membasahi bajuku, aku tertegun, sebenarnya apa yang telah terjadi?.
"kamu kemana saja nak? ini masa-masa yang sulit bagi Fany" tante Ani masih memelukku, masih dapatku rasakan guncangan tubuhnya kibat tangisannya.
"apa yang terjadi tante?" air mataku seolah terbawa oleh suasana, perlahan-lahan menetes tanpa kuperintah.
"Adrian nak, semuanya karena adrian"
mendengar namanya, mendengar bahwa Adrian lah penyebabnya, tubuhku serasa ingin memberontak, meremuk-remukan sosok adrian
"Ayo kerumah sakit nak, tante cerita disana, kasian Fany nga ada yang jagain" aku menurut.

********************
"hay tifa, maaf atas perkelahian kita yang kemarin, maaf aku tak mendengarkan semua kata-katamu, maaf aku bersikap keras kepala, dan aku sunguh-sunguh minta maaf atas tamparan yang mendarat di pipimu.
Tifa semakin hari tubuhku semakin lemah sangat lemah, maafkan aku sahabat, maafkan atas segala kebodohanku, maki aku jika itu bisa membuatmu memaafkanku.
Tifa, ketahuilah, kau adalah sahabat dan orang yang terbaik yang pernah ku temui dalam hidupku,
jaga dirimu, aku menyayangimu.

With all my love


   Fany.                                                "

**********************

"Yah, seminggu setelah kepulangan Fany dari Bandung bersama Adrian, Fany berubah, dia jarang bergaul, pendiam, bahkan tante nemuin bekas sayatan dilengannya. entahlah, awaalnya tante anggap itu biasa, mungkin luka, tapi setelahnya, tante nemuin Fany dalam keadaan tak sadarkan diri dikamarnya. ternyata saat itu fany sedang Sakau hebat, dia sangat membutuhkan narkoba, tapi Adrian sudah tidak pernah muncul lagi, dari keterangan terakhir yang tante dapati, Adrian tak ingin bertanggung jawab atas kejadian dimalam itu, saat mereka diBandung, Tante tau, tante tak perlu menjelaskan kejadian apa, tante tau kau sudah bisa menebak kejadian apa itu Tifa"
"HAAAH?" seluruh tubuhku bergetar, marah, sedih, kecewa semuanya bergabung menjadi satu.
"Adrian yang membuat Fany seperti ini, mungkin Fany mengkomsumsi narkoba sudah sejak awal hubungan mereka, sepertinya itupun bukan atas dasar keinginan Fany, Tante yakin Adrian yang ingin merusak hidup Fany, mencari kepuasaan, apalagi kau tahu sendiri, Fany orang yang sangat polos, Ayah Fany marah padanya, tak mau lagi mengangap Fany sebagai anaknya. kalo ibu Fany, sekarang ada di bogor, ai ikut sakit mengetahui kejadian apa yang menimpah anaknya. Tante menghadapi ini semua sendiri, dan kata dokter, jika memang Fany akan tetap hidup atau pulih resikonya dia akan mengalami gangguan jiwa karena tekanan yang ia terima selama ini" tetesan air mata keluar tak terbendung dari ujung-ujung mata tante Ani, aku tertegun, aku tak tahu harus bagaimana, aku marah, aku ingin mematahkan tenggorokan Adrian saat ini, Sahabatku? dalam waktu kurang 3 bulan, hancur berantakan.
Dan terlambat sudah bagiku untuk menghentikannya, sungguh terlambat, andai waktu bisa diputar,
tapi semuanya sudah terlambat.
Maafkan aku Fany.


1 komentar: