Senin, 19 November 2012

Terlalu Bodoh #2

Cerita sebelumnya : Terlalu Bodoh

Kini aku tepat berada dihadapan seorang wanita paruh baya yang sejak tadi menelponku, aku sedikit terkesimak, dia berada tepat di sebuah cafe terkenal disepenjuru kota dengan pakaian serba hitam dia sangat mencolok dan cukup menarik perhatian orang-orang sekitar.
"Hallo nak"
"Iya tante" wanita itu memulai percakapan, aku baru manyadari bahwa suara asli wanita ini sangat berbeda saat di telephone tadi, sedikit lebih sendu.
"Boleh ikut tante nak?"
"kemana Tante?" hatiku menjadi berat dalam beberapa saat.
"Tante tak ada niat jahat, hanya ingin memperlurus semua permasalahan. jadi bisa yah? ini akan membuatmu jauh lebih tenang."
"baiklah." tak ada pilihan lain, jika aku tak menurutinya aku takut rasa penasaran akan terus menghantuiku, toh jika aku dicelakan aku bisa menghubungi polisi. hanya itu yang terpikir dalam otakku, tak sekalipun aku memikirkan haal-hal menyangkut Rifaldy, yang ku pikirkan apa tujuan ibu paruhbaya ini terhadapku?
*****
Kini tepat aku berada didalam mobil yang dikendarai ibunda Rifaldy, aku merasa sangat cangung, aku berada ditempat yang tak semestinya, sangat asing.
"Bisa buka amplop yang ada di depanmu nak?"
ku tatap sebuah amplop berwarna pink yang sedari tadi memang berada tepat didepanku, yang sebenarnya sudah menarik perhatianku sejak awal masuk kedalam mobil ini tapi aku tak cukup lancang untuk menyentuh ataupun membuka amplop itu. namun kini aku telah dipersilahkan untuk membuka amplop yang sedari tadi menyita perhantianku. aku membukanya dengan sedikit keraguan.
"hay, bidadariku, putriku, cintaku.
mungkin saat kau membaca surat ini, semuanya sudah terlambat.
maafkan aku, maafkan poppy yah, aku berharap semuanya bisa kau terima dengan lapang dada.
With love


Rifaldy"
Keningku berkerut, tak satupun kalimat dalam surat ini yang bisa ku mengerti, ku tatap wanita paruh baya disampingku dan pada saat yang sama aku melihat tetesan air mata meluncur deras dipipinya.
aku tertegun.
Rifaldy? aku tenggelam dalam pikiranku mengenai pria itu, pria yang selama ini masih terus berada dihatiku. selama kejadian itu, aku belum berani menggeser tahtanya dan memberikannya pada pria lain. jujur saja aku masih mencintainya, namun rasa kecewa dan sakitku lebih besar.

*****

"Kau bisa turun nak"
"Pemakaman? untuk apa tante kepemakaman?" 
"Ada tamu lama yang pasti ingin kau kunjungi."
"Tante, aku semakin tak mengerti"

Rifaldy Budi Anggara
13 september 2012

Tubuhku dalam sekejab mematung, bahkan sama sekali tak bisa merasakan apa-apa seluruh tubuhku kaku membaca sebuah nisan putih di hadapanku. otakku berputar-putar berusaha mencerna apa yang terjadi, apa yang kubaca tadi, apa yang ibu ini maksud. tuhan, tubuhku terbujur lemas, aku terduduk, tak mampu menopang berat badanku sendiri. tak mampu merespon otakku sendiri untuk tetap berdiri, dan sama sekali tak mampu mengendalikan perasaanku.
"Rifaldy sudah tiada nak, dia telah lama mengidap penyakit gangguan hati, dia menyembunyikannya darimu, dia tak ingin terlihat sakit sekalipun lemah dihadapanmu, ia ingin kau mencintainya sebagai pria hebat bukan pria penyakitan. dia tak ingin kau menemaninya karena kasihan. Dia meninggal 2 bulan yang lalu, dan yang tante tau dia meninggal dalam keadaan mencintaimu"
"Bohong, Tante berbohong"
"Nak, apakah semua tetesan air mata yang keluar dari mata tante kurang menyakinkanmu? Semua perselingkuhan itu hanya skenario belaka, dia ingin kau membencinya, agar suatu saat jika kau mengetahui fakta yang sebenarnya kau tidak akan terlalu terluka, Sebesar itulah cinta Rifaldy padamu nak, diakhir-akhir hidupnya pun dia tetap merencanakan skenario agar hidupmu tak ikut hancur, agar hidupmu tetap indah. dia mencintaimu, kau wanita terakhir dalam hidupnya nak."
*****
Aku tertegun, semua kenangan indahku bersama Rifaldy terputar kembali. aku menyadari aku sangat mencintainya, seluruh hidupku telah akrab dengan segala hal mengenai Rifaldy. Aku terlalu terlambat untuk menyadari ini semua, menyadari bahwa Rifaldy tak bersalah. aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa sosok Rifaldy terlalu mencintaiku. Tanpa kusuruh kejadian perselingkuhan waku itu terulang kembali dalam benakku dan aku baru kudapati sebuah keganjilan. Poppy memintaku datang kerumahnya, dan disaat itulah aku mendapati mereka berdua berselingkuh, logikanya sebodoh apa Poppy sampai-sampai menghubungi kekasih selingkuhannya dan memintainya bertemu disaat yang sama saat mereka sedang selingkuh.
"Rifaldy, selamat jalan, Maafkan aku yang terlalu bodoh dan terlambat menyadari semua ini.
Aku mencintaimu, tempatmu kini abadi, dan ku harap kita akan segera bertemu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar