Senin, 19 November 2012

Terlalu Bodoh

Pria itu terus menatapku, aku merasa geli dilihatnya dengan pakaianku yang sedikit minim ini aku merasa sangat terganggu oleh tatapannya, sudah sekitar 10 menit matanya fokus menatapku, aku menangkap bibirnya tersungging. dan dalam sekejap aku merasa sangat tersinggung."Hey, apa maumu?" ku tunjuki pria itu tepat di dadanya yang berbentuk kotak, aku baru manyadari matanya cokelat sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih.
"Aku? aku hanya menatapmu. apa salahnya?"
"Kau fikir aku pajangan yang bisa kau tatap sesuka hatimu?" tubuhku mulai gersang, aku semakin haus untuk mencaci pria ini, tapi matanya itu seakan terus memberiku tumpuhan air yang meneduhkan, tapi aku tak ingin dikalahkan hanya karena tatapan teduh.
"Aku tak mengagapmu pajangan, aku hanya terkesimak melihat wanita sepertimu"
"Maksudmu? seaneh apakah aku? sehingg membuatmu terkesimak? jika kau ingin semakin terkesimak tataplah wanita itu" Ku tuunjuk seorang wanita yang sedang mengendong bayi, kulitnya sangat cokelat, tubuhnya lusuh, dan dia sedang duduk diemperan toko beralaskan kardus bekas air mineral.
"Kalau kau wanita yang baik, ku harap kau bisa menjaga ucapanmu!"
Seluruh tubuhku terguncang, sejenak aku tertunduk banyak emosi yang sedang berkalut didalam diriku, ada amarah, kepedihan, kemarahan tapi semuanya lebih dominan pada rasa bersalah.
"Maafkan aku" aku tersentak entah kenapa kata-kata tak pantas seperti ini yang meluncur keluar dari bibirku, dan aku sudah terlambat untuk meralatnya.
"Tak apa. oh yah, kenalkan aku Rifaldy. jujur saja sejak pertama melihatmu dengan mini dress cokelat yang semakin memancarkan warna kulitmu aku jadi penasaran ingin mengenalmu, kau terlihat sangat anggun"
"Aku Triska. dan aku harap kata-katamu itu benar-benar berasal dari hatimu" aku luluh, aku kalah oleh mata itu, mata kecoklatan yang senada dengan warna dress ku saat ini. Tuhan kenapa semudah ini aku luluh dengan pria yang baru kukenal.
hatiku bertanya-tanya, setajam inikah pesona pria yang bernama Rifaldy ini. dan dengan pesonanya yang seperti ini, kenapa ia memilih mengenal gadis sepertiku?.
*****
Senja hari ini kulewati sepenuhnya bersama dengannya, Pria tampan yang selama ini terus menggandeng tanganku, mengajariku mencintai dan dicintai, pria yang terus membawa kebahagiaan dalam hidupku, dan aku akan menjadi orang terbodoh jika melepaskannya. saat bersamanya aku merasa cinta lebih manis dari pada gula ataupun cokelat.
"Liat deh, Tuh orang ngeliatin kita, kayaknya mereka mengomentari kita deh" suara seraknya itu membuyarkan lamunanku.
"Hah? mengomentari bagaimana?" ku tatap dua orang kekasih yang berada sekitar 7 meter dari tempatku saat ini.
"Yah, dia mengomentari, katanya kenapa bidadari sepertimu bisa kumiliki" Wajahnya tersenyum, aku hanya berharap dia tak memperhatikan rona merah dipipiku saat ini.

*****
"Faldyku sayang, entar temenin ke Mall yah, pengen nyari wedges baru nih"
"Maaf Triska, hari ini aku ada jadwal ke... ke... ke.."
"Kok ragu gitu, kemana sayang?, nga apa-apa deh entar aku minta ditemenin Sofhy aja."
"Kerumah sakit, maaf yah yang aku nga bisa nemenin"
" Hah? Rumah sakit?, kamu sakit yang?"
"Nga kok, cuma mau beli vitamin aja, tapi harus konsultasi dulu, untuk umur setua aku ini, vitamin yang cocok, vitamin apa."
"Oh, kirain kamu sakit."
"Nga kok Triskaku sayang" entah kenapa aku merasakan ada kebohongan di kalimat terakhir yang diucapkan Rifaldy, tapi otakku membantahnya, jika memang Rifaldy sakit pasti orang pertama yang ia kabari adalah aku, Triska, Kekasihnya yang telah menemaninya hampir 2 tahun terakhir ini.
*****
Pipiku basah menerima puluhan kecupan darinya, dari pacarku dari Rifaldyku sayang, ini tepat ulang tahun hubungan kami yang ke-2. yah aku telah menemaninya selama 2 tahun terakhir ini, dimulai dari pertemuan dimana aku jatuh cinta pada matanya yang cokelat, dan menemani hari-harinya yang merintis karirnya sebagai pengacara mulai dari nol. akulah wanita yang terus bersamanya, aku terdiam, dalam hati aku terus memanjatkan do'a. "tuhan jangan cabut kebahagiaan ini"

"Sayang" suara serak Rifaldy membuatku kembali kealam sadarku.
"Iya, kenapa sayang?"
"terima kasih yah buat 2 tahun ini, aku berharap aku bisa terus-terusan berada di sampingmu"
"Aku janji akan terus bersamamu, Rifaldy jika suatu saat kau ingin meninggalkanku, sebaiknya terlebih dahulu kau membuatku terluka, jikalah tidak aku akan sangat merana. kumohon jangan tinggalkan aku."
"I do dear, hanya maut yang akan memisahkan kita" aku tertegun, yah benar hanya maut yang mampu memisahkan kami saat ini, dan seterusnya.
Aku manatapnya, mata kecokelatannya itu membalas tatapanku, aku menyadari bahwa hubungan ini akan semakin indah, sangat indah. tapi ternyata aku salah.
*****
Tangan kanannya memelukku hangat, sangat erat, yah saat ini Rifaldy pria tak tau diri ini berada tepat disampingku, tepat diruang kerjaku. dan aku sangat muak melihatnya bahkan sangat malas melihat matanya yang kecoklatan, mata itu tak terlihat indah lagi dimataku.
"Triska, ada apa? kau sangat dingin padaku!"
"Hah? kau pikir aku bodoh? Tidak! kau salah!"
"Apa maksudmu Triska?"
"Kau mempertanyakannya?"
"Iya, jelas sajalah. aku tak mengerti"
"Hentikan sandiwaramu, kau bukan pemeran protagonis dalam naskah kisah hidupku, kau jangan berlagak tak bersalah Rifaldy!"
"Apa maksudmu! jelaskan"
"Kau dimana 2 hari yang lalu? tepat pada pukul 8 malam! Hah? kau dimana?"
"Kau mengetahuinya? kau melihat semuanya?"
"Yah Rifaldy, aku melihatnya, melihat dengan sangat jelas! Kau dan wanita jalang itu!"
"Poppy bukan Jalang Triska"
"Hah? yah, kalian berdua tak tau malu! keluar dan pergi dari hidupku sekarang! jangan pernah nampakkan wajahmu! enyah dari hidupku"
"I do"
Rifaldy melangkah keluar dari kantorku, setelahnya aku  benar-benar sendirian disini, aku terduduk bisu, aku sangat ingin marah, sangat ingin memukul sesuatu, aku sangat ingin menikam mereka! mereka berdua! Sahabat dan pacarku! apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisiku? dimanaa tepat dua hari yang lalu kau memergoki sahabat dan pacarmu berciuman sangat mesra. seluruh tubuhku tak bisa berdusta, aku terluka, aku ingin membuang mereka semua dalam hidupku, bahkan aku sempat berfikir untuk enyah dari dunia ini. walaupun bagian lain dari hariku tak rela, tak rela mati, tak rela kehilangan Rifaldy, semua kenangan indah bersamanya, dan aku berbohong jika aku berkata aku tak mencintainya. tapi sakit ini harus segera ku kubur. harus ku musnahkan!
*****

Aku menikmati hari-hariku, bergelut dengan semua lembaran-lembaran kertas dimeja kantorku. Semenjak kejadian perselingkuhan Rifaldy dan Poppy aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan Rifaldy. dan ini mungkin sudah sekitar 3 bulan lamanya. perlahan-lahan aku mulai melupakan sakit hatikuku, meranaku, lukaku, walaupun aku yakin luka ini tak akan pernah sembuh total akan selalu berbekas.
Ringtone ponselku sekejap membuyarkan lamunanku. Nomor baru.
"Hallo?"
"Hallo, benar ini dengan Triska?" terdengar suara wanita paruh baya dari balik telephone.
"Iya benar, ada apa?"
"Aku ingin bertemu dikafe sebelah kantormu, ini dengan ibu Rifaldy. 5 menit lagi aku tunggu"
tut.. tut.. tuut.. panggilannya terputus, tubuhku terpatung, Ibunya Rifaldy? mengapa ia menghubungiku? aku tak ada lagi hubungan dengan Rifaldy, ada apa ini?

*Bersambung*

1 komentar:

  1. hmm, lumayan ceritanya, mskipun belum tau ni crita bakal ngarah ke mana. btw, blog ga dirapihin tuh? sayang kan konten blog udah banyak tapi index nya ga rapih

    BalasHapus