Senin, 12 November 2012

you are my EVERYTHING #2

Cerita Sebelumnya : you are my EVERYTHING
Suamiku belum sadarkan diri, bahkan belum ada tanda-tanda bahwa dia akan bangun dari tidurnya, tapi hal yang ku ketahui saat ini adalah 4 jam lagi Raka, Putraku, Putra kecilku akan meninggalkan Makassar. Hatiku semakin berat. aku memang sangat marah padanya, Raka yang menyebabkan kecelakan pada suamiku, pada ayahnya sendiri, tapi? apakah ini yang terbaik? membohongi suamiku? berusaha meyakinkannya bahwa Raka meninggal karena kecelakaan ini?.
Aduh, Cukup aku sudah kehilangan kedua anak kandungku, Raka memang bukan anak kandungku, namun aku yakin. aku menyayanginya, emosi terlalu menguasaiku, menguasai otakku, hingga tak bisa menyadari bahwa aku mencintai Raka sama seperti aku mencintai kakak-kakak Raka.
Tiba-tiba otakku berputar kemasa lalu, Memang dulu aku jatuh cinta pada ayahnya Raka, aku jatuh cinta pada caranya berbicara pada semua kliennya, yang membuat semua klien mau menanda tangani proyeknya, aku jatuh cinta padanya, saat itu aku seorang janda dengan 2 orang, dan saat melihat mata Raka, saat melihat cara Raka berbicara layaknya orang dewasa di umurnya yang masih 4 tahun aku bertambah jatuh cinta pada ayah Raka, pada Raka, hingga aku bersediah menjadi ibu untuk Raka.
kini, aku sudah kehilangan kedua anak kandungku, sanggupkah aku kehilangan Raka lagi?
*************

"Mama, Kak Dimas dan kak Adit udah nga ada, Raka janji akan jadi Spiderman buat mama kalo lagi belanja, Raka janji akan jadi superman buat ngusir nyamuk yang ganggu mama, Raka janji akan jadi badut kalo mama lagi sedih, Raka janji akan jadi tukang kebun terus bantuin mamam nyira tanaman tiap sore, Raka janji akan jadi juara kelas buat banggain mama. 
Mama, Raka janji akan gantiin kak Dimas, dan kak Adit ngisi hari-harinya mama.
Emang kak Dimas dan kak Adit udah pergi jauh mama, tapi mama masih punya Raka dan papa. 
Mama jangan nangis terus, entar tambah tua loh,
ketawa yah mama, Mama ketawa dong!!"
Aku tertawa disela tangisanku, aku tertawa sangat lepas melihat tingkah bocah kecil berusia 9 tahun ini, Raka ia cuma anak tiriku, awalnya aku marah padanya, tapi melihat tawanya, melihatnya tersenyum, semua dukaku pergi, bahkan serasa Dimas dan Adit ikut tertawa bersamaku melihat tingkah Raka yang berlagak menjadi orang dewasa, bahkan caranya berbicara sudah seperti anak sma yang meyakinkan pacarnya saat mereka sudah diujung tanduk hubungan mereka.
Raka, terima kasih nak!

*************
"Hallo Raka?" Suaraku tertahan oleh Tetesan air mata, aku merasakan, aku merindukan bocah jangkung berkulit putih ini. bocah yang kemarin ku maki dengan kata "Anak pembawa sial" dan kini aku menyesal.
"iya hallo mah, aku lagi mau berangkat ke bandara kok mam"
"Jangan ke Bandara nak, Mama tak bisa membayangkan hidup tanpamu nak, Maafin mama?"
"Mama? Maafkan Raka mam, Semuanya kecelakaan dan kesialan ini karena Raka ma!"
"Raka, ini bukan salahmu nak, mama mohon, kerumah sakitlah segera, peluk mama, cium mama, beri mama kekuatan. jangan paksa mama menghadapi masa kritis ayahmu sendirian nak, Mama mencintaimu nak, sangat, maaf jika mama tidak mengatakan mama mencintaimu setiap hari."

**************

Aku tertegun, dibawah redupnya lampu kamarku, bodohnya aku, mengapa aku mencintai sosok Raka, aku mengaggap Raka segalanya bagiku, namun baginya aku bukan apa-apa. semudah itu dia meninggalkanku, semudah itu dia menelantarkanku sendirian, aku sangat lama menunggunya, nyamuk-nyamuk ditaman itu turut menambah kegelisahanku, dengan mengigiti tangan dan kakiku. bahkan saat ini air mataku sudah kering.
Raka, apa maumu? kenapa kau menyakitiku. ku harap kau punya alasan yang jelas untuk menyakitiku ataukah kau punya alasan yang kuat yang bisa membuatku membencimu!!
"Aku lelah menangisimu bodoh! aku tau kau tampan! aku tau kau bisa hadirkan kebahagian dalam hidupku, yah dan kau juga bisa menghadirkan kesedihan mendalam bagiku! Raka! bodoh! bego! ribuan makianpun takkan membuatku membencimu, marah padamu. tapi setidaknya ku mohon jelaskan padaku, apa alasanmu melakukan hal bodoh ini!!"

**************

"gimana kondisi papa ma?" ku tatap wanita yang biasanya terlihat cantik itu, kini tubuhnya sangat lelah, ia butuh istirahat, istirahat total.
"Yah, tak ada perubahan Ra'"
"Mama mendingan pulang, biar Raka yang jagain papa. yah?"
"Nga, mama bisa tidur dirumah sakit, kamu aja yang pulang."
"Mama, aku kan spidermannya mama, aku akan selalu punya tenaga ekstra buat bantuin mama!"
"Hahahha. jangan sok kuat!"
perlahan aku menatap mama, lalu papa, aku menatap mereka bergantian dalam beberapa detik.
"Kalian lebih mesra dari pada Romeo and juliet yah? sesakit sesehat. hahhaha" aku tertawa kecil berusaha tidak mengegerkan seisi ruangan.
"Hey, anak nakal!!"
mama menjitakku dengan tangan kanannya, tak sakit sama sekali tidak, Mama kembali kedirinya, kedirinya yang selalu menyayangiku, bukan mamaa yang kemarin yang membentakku, mengusirku, memakiku, mengataiku anak sialan!. yah aku tak marah, aku senang melihatnya kembali menjadi pemeran protagonis dalam naskah perjalanan hidupku.
"Maafkan mama" kata-kata itu meluncur dari bibir mama yang membuatku tertegun sejenak.
"Aku juga minta maaf mama"
"Maaf mama mengusirmu"
"Maaf menghanguskan uang mama buat beli tiket mahal-mahal ke singapura" aku berdehem sebentar, selanjutnya aku mendengar mama tertawa lepas, sangat lepas bahkan tak memerdulikan bahwa kita sedang berada dirumah sakit.
"Hey sebaiknya kau mengganti uang tiket mama dengan memeluk mama!"
"Mama! Pelukanku lebih mahal dari harga tiket pesawat Tau!!"
kami tertawa, mama tertawa, mungkin jika papa sedang sehat, tawanya lah yang paling menggegerkan suasana. aku sangat bahagia, walaupun berada dirumah sakit aku tetap bahagia memiliki orang tua seperti mereka. Makasih tuhan kau hadirkan mereka, yah walaupun mama yang disampingku ini hanyalah mama tiri, tapi ini lebih dari cukup, sangat cukup.
Beberapa menit setelah mama melepas pelukannya, aku merasakan ada sesuatu yang ganjil, ada sesuatu yang kulupakan.
"ANDINI!!!"

*************
Brukk!!
"aduhh" kepalaku terhantam kaki ranjang, aku baru sadar aku tertidur dalam lelahku semalam, saat aku menangis, menyelami dukaku, menghayati sedihku, beberapa detik kemudian aku tertidur, dan bodohnya aku tertidur disamping kaki ranjang. ini hal pertama dalam hidupku, tidur ditempat yang sangat jauh dari kata empuk.
Ahh, hal pertama yang kuingat pagi ini adalah sedihku, kesakitanku, kepiluhanku, namun tak bisa kupungkiri, aku merindukan telephone Raka dipagi hari yang mengingatkanku untuk beribadah.
Tok.. Tok..
"Ahh. siapa lagi yang mau merusak hariku!!" gerutuku dalam hati sudah cukup sakit kemarin sekarang akankah berita buruk lagi? atau mama yang memberitahu bahwa aku harus menjaga adikku yang super bandel itu?.
"Andini, Raka nungguin kamu dibawah" suara mama terdengar dari balik pintu, suara yaang selalu ku dengar tiap harinya, tapi bukan masalah sumber suaranya. tapi apa bunyi dan isi suara itu.
Raka?? didalam rumahku? nungguin dibawah? Maksudnya?.
Aku sudah tidak memikirkan untuk berdandan, dengan tubuh lecek, bau, rambut berantakan, mata sembab, tubuh penuh keringat. aku menemuinya.
"Hay, Andini, baru berpisah denganku kau sudah selecek ini, bagaimana kalo 2-3 bulanan yah atau selamanya?" yah tak salah lagi, suara nyolot itu, suara angkuh itu, suara bodoh itu, ejekan itu, ejekan tolol, ejekan idiot, ejekan makian yang selalu kurindukan itu berasal dari bibir Raka, sosok yang ku tangisi semalaman.
"Apa mau mu? Andini sudah mati,  yang kau lihat ini arwahnya" aku menjawabnya acuh.
"hey arwah yang baik, bisakah kau mandi dulu sebelum menemui tamumu, aku tak kuat mencium bau keringat dari ketekmu itu."
Bruukkk
Sendal rumahku yang bergambar mickey mouse merah hitam berbulu yang tadinya membungkus kaki kananku, kini melayang menghantam perut Raka.
"Ampuunnn.."ia meringis kesakitan dengan wajah yang sangat memprihatikankan namun lucu.
Ahh. ku mohon Raka, jangan pasang wajah memelasmu itu. aku tak sanggup marah jika kau pasang wajah malaikat kesakitan itu.
"Keluar Raka! aku malas melihatmu!" 
Aku mengertaknya, aku mengeluarkan semua amarahku, aku tak ingin bersikap lembek terhadap Raka, sama sekali tak ingin!
****************

"cokelat? toko aksesoris? bunga? boneka? toko buku? toko music? tiket concer?.
ayolah Andini, katakan padaaku, caraku meminta maaf padamu apa? ingin ku belikan apa? ingin ku bawakan apa?"

"Andini sayang, balas sms dong.."

"Andini bodoh, bego, jalan yuk?"

 "Andiniku sayang.."

"Andini............. balas, 5 menit lagi aku kerumahmu lagi.!"

Semua sms Raka, terus-terusan memenuhi Inboxku, aku tak ingin di belikan barang-barang mahal, atau benda-benda lucu olehnya. aku hanya ingin ia menjelaskan mengapa, namun aku tak ingin memintanya, aku ingin ia melakukan itu atas keinginannya sendiri. Raka aku tahu, kau orang yang paling pintar membujukku, sekeras apapun aku membekukan hatiku padamu, kaulah manusia yang paling tahu cara melelehkan hatiku.

****************

"Assalamu alaikum" ku ketuk pintu rumah berdaun pintu dua itu, rumah bercat krem yang sangat familiar bagiku, bahkan sudah seperti rumah sendiri. Orang tua Andini, sudah terbiasa pula dengan kedatangaku, ini juga merupakan bentuk lampu hijau untuk hubungan kami.
"Walaikum salam, eh Raka, datang lagi, masih ngambek yah Andininya?" sahut ibu andini yang berusia sekitar 5 tahun lebih mudah dari ibuku.
"Yah begitulah tante, ada konflik keluarga sampai-sampai hubunganku sama andini ikut terseret kedalam masalah ini."  perlahan aku melangkah masuk kedalam rumah, Rumah minimalis yang didekorasi sangat apik ini bisa dikatakan cukup mewah. namun hal yang paling mewah bagiku dirumah ini adalah Andini hanya Andini.
"Tunggu yah nak. tante panggilin Andininya" ibu Andini menghilang dalam pandangan mataku, hal yang ku pikirkan saat ini bagaimana membujuk bidadari bawelku itu agar kembali luluh, ini baru ke-3 kalinya dia ngambek selama perjalanan hubungan kami, tapi jujur ku akui, Andini memang sosok yang sangat bawel namun dia sangat manis dan baik yah dia ideal untuk menjadi pendamping hidupku.
kurang lebih 3 menit aku menunggu, Mamanya Andini muncul kembali namun hanya sendiri. aku kecewa.
"Maaf nak, Andininya nga mau turun" aku melihat tatapan bersalah di wajah ibu Andini.
"Nga apa-apa tante, nga usah dipaksa" detik itupun aku berfikir, mungkin saat ini Andini sedang tidak ingin melihatku, aku hanya perlu memberinya kesempatan sejenak tak melihat wajah bodohku ini, tapi hati kecilku tak bisa mengingkari bahwa aku harus segera menyelesaikan permasalahnku ini pada Andini, aku tak boleh membiarkan andini menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya hingga akhirnya ia salah paham.

*Bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar