Senin, 12 November 2012

you are my EVERYTHING #3

Cerita sebelumnya : you are my EVERYTHING
"tapi mungkin sebaiknya aku nunggu sekitar 20 menit lagi deh tante disini, mungkin Andini ada kemungkinan buat turun, kasian kalo masalahnya disimpen-simpen nga diselesaiin segera terus disimpen lama-lama. nga enak disaya dan di Andininya juga" 
"Hm, tante tahu, kamu yang tahu apa yang terbaik buat hubunganmu sama Andini nak " senyuman Ibu Andini menambah semangatku, walaupun 20 menit akan menjadi waktu yang cukup lama, jika dilewati dengan kata menunggu dan sendirian.
" aku masih disini Andini,
Masih duduk diSofa ruang tamumu,
aku menunggumu, dalam waktu 20 menit dari sekarang,
aku berharap kau akan berubah pikiran.
With love


Raka
"

****************
sudah 20 menit, bahkan aku membiarkan penantian ini lebih lama, aku sudah menunggu sekitar 25 menit disini, disofa krem kecokelatan ini, Aku juga tidak bisa menunggu lebih lama, aku punya tugas untuk menemani mama jagain papa dirumah sakit kasian kalo mama jagain papa sendirian, mungkin belum saatnya aku berbicara dengan Andini, Andini masih butuh waktu menyendiri. tanpaku, tanpa si pembawa onar.
"Hey, kau fikir, kau bisa pulang tanpa meminta izinku?" suara itu, suara bidadari bawel si penggerutu itu. bibirku tersungging.
"Hey, aku lelah menungguh mu bodoh"
"Apa kau bilang? aku berharap kau merayuku. tapi kau malah mengajakku untuk bergulat, dasar kau pria bodoh!"
"Aku bodoh karena mencintaimu Andini!"
"Heyy, kenapa kau meninggalkanku? sendirian, ehh, ada temennya kok, ada nyamuk".
"Kalian mungkin bisa selesaikan masalah ditempat lain, kasian dede Rasya lagi bobo" suara mama Andini memecahkan pertengkaran kami, Andini yang tadi paginya keliatan kucel dengan kaus oblong, mata sembab, tubuh penuh keringat, rambut acak-acakan, kini ia tampil lebih rapi, dengan celana selutut dengan baju kaos berwarna salem, sejenak aku berfikir, stylenya ini bisa dibawa pergi ketaman yang berjarak sekitar 1 km dari rumah Andini.

*****************
"Hey, kau penculik! ngapain bawa aku ketaman, ketaman dimana kamu minta ngakhirin hubungan?" aku menatapnya sinis, aku marah padanya, hatiku bergejolak melihat tempat disekitarku, tempat yang menemaniku menangis kemarin, aku merasakan kambali kesakitanku. aku terluka.
"Pukul aku Andini, hantam aku, maki aku! keluarkan semua kesakitanmu atas kata bodohku kemarin!" aku tak berkutik, aku memang marah pada pria bodoh ini, tapi tak sejengkalpun otakku berfikir untuk memukulnya, menghantamnya. aku tak ingin melukainya. aku terdiam, tanpa kusuruh air mataku mengalir.
"Andini. maafkan aku" itu kata pertama yang ku dengar saat tubuhnya memelukku, memelukku dengan kedua tangannya sangat erat, sangat dekat, sangat hangat daan menenangkan, tangisanku semakin menjadi.
Sreeekk
"Hey bodoh!!  jangan menangis sekencang itu, jangan sampai orang yang lewat disekitar sini mengira aku mencabulimu" Raka menjitak kepalaku, dalam hitungan detik ku siku perutnya. melihatnya meringis kesakitan walaupun tak tega aku menikmati adegan menyakitkan itu, aku tertawa dalam tangisku.
"Mau disiku lagi nga? plus ekstra sabetan. mau?"
"Andini, Maaf" muka Raka benar-benar memelas, lebih memelas dari pada seekor unta yang sudah mengelilingi padang pasir 30 tahun dan sama sekali belum menemukan air setetespun.
"Kenapa? apa yang terjadi?"
"Kemarin, ibuku berencana mengirimku keSingapura, kau tahu kecelakaan kemarin, yang membuat ayahku koma sampai sekarang. ibuku menyalahkanku atas kejadian itu, dia memintaku segera meninggalkan makassar, baginya aku hanya pembawa sial. dan saat aku memutuskanmu, 3 jam setelah itu aku seharusnya sudah berada dalam pasawat, meninggalkan makassar, meninggalkanmu, meninggalkan kenangan kita. itulah alasanku Andini"
"Lalu kenapa kau masih disini?"
"Kau tak mau aku disini yah, ibuku berubah pikiran Andini, dan sehari sebelum meninggalkan makasssar, hal yang paling ingin ku bahagiakan sebelum pergi itu kamu, itulah alasanmu mengajakmu berkeliling kota kemarin."
"Aku mengerti" otak ku sudah mencerna semuanya, aku sudah tahu latar belakang keluarga Raka, bahkan watak ibunya. kini aku mengerti. aku tahu Raka punya alasan yang pasti saat mengakhiri hubungan. tapi itu tak penting, sekarang aku bahagia melihatnya berdiri didepanku dengan tatapan teduh, aku yakin dia mencintaiku, sangat mencintaiku.
"Raka" aku memanggilnya pelan, ku sandarkan kepalaku di bahunya.
"Iyaa bidadariku" 
"Kau tahu? aku sangat sedih malam itu, ku pikir, tak akan ada moment seperti ini lagi, duduk disampingmu, bersandar dibahumu, mengataimu, memakimu. aku akan merindukan itu jika memang hubungan ini berakhir."
"Tidak akan Andini, pengang janjiku, katika ayahku sudah pulih, kita akan segera bertunangan, aku tak mau kau menjadi perawan tua terlalu lama."
"Hey, aku masih 19 tahun!"
Aku terbangun, ku tatap matanya, tak ada kebohongan yang kulihat. yang dapat ku baca hanyalah tatapan serius yang sangat hangat dari sosok Raka walaupun dia bercanda di akhir kata, aku yakin ungkapan pertamanya tadi serius.
"Serius?" berusaha meyakinkan diriku sendiri.
"Lebih serius dari pada hal yang ku bisa" aku tertegun, beberapa detik kemudian ia mengecup pipiku, lalu terdengar bisikan dari bibirnya.
"YOU ARE MY EVERYTHING"

Dia menatapku lebih tajam, sangat jelas didepan mataku, ia tersenyum dan berkata.
"Andini, maafkan aku, aku janji, aku akan terus berada disampingmu, akan ku bayar janji berkuda kita, janji foto studio, rekreasi. aku janji Andini. Pegang ini Andini"
Raka menarik tanganku, meletakkan sejarik kertas yang bertuliskan,
"YOU ARE MY EVERYTHING" yang sedari tadi bersarang di saku kanan jaket hitamnya.

Semua tangisanku, piluhku, kesedihanku, terbayar sudah.
"Raka?"
"iyaa Andini"
"AKU MENCINTAIMU"
"I LOVE YOU TOO BODOH!"
beberapa detik kemudian ku pastikan perutnya kesakitan terkena sikuku.
"aaaaaahh... Ampun "

Aku tertawa. aku menikmati ia meringis kesakitan. dasar Raka bodoh, Raka oon, Raka tolol, Rakak Bawel, tapi, Raka Segalanya bagiku.
 
"Andini" laki-laki yang sedari tadi berada di sampingku itu memangilku.
"Iya." aku melihat bibirnya tersungging sebentar, dan dalam hitungan beberapa detik, dia menggelitiku, aku tak sanggup meelawan, aku sangat tidak tahan jika di gelitik.
Setelah puas melihatku tertawa menahan rasa geli, dia berlari meninggalkanku.
"Heyy kau! Kamprett tunggu aku. habis kau yah" aku tertawa, aku sangat bahagia, memang Raka menyebalkan tapi beginilah caranya menyayangiku, beginilah caranya membuatku bahagia.
Makasih Raka,
Aku mencintaimu, YOU ARE MY EVERYTHING.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar