Jumat, 09 November 2012

you are my EVERYTHING

"Hey, kau bilang kau sangat mencintaiku, berjanji menyayangiku, sehidup semati denganku. kau lupa? kau berutang banyak janji padaaku! janji berkuda, Foto Studio, rekreasi, keliling kota!, sekarang? kau pergi karena tak sanggup membayar janjimu atau apa?" ku tatap bahunya yang mulai menjauh.
"Heyy, berhenti pura-pura tak mendengarkanku! Ku mohon, balik tatap aku! dan genggam tanganku, katakan kau hanya bercanda! jangan tinggalkan aku! Kau sudah terlalu berarti dalam hidupku!"
"Ku mohon kali ini, buang egomu!"
"Sekali lagi, tolong kembalilah"
Percuma, semua tangisanku, semua rengekanku tak berguna, punggungnya, tubuhnya, dirinya, sama sekali tak menoleh kebelakang, yang kuterima sekarang hanyalah dirinya yang semakin mengecil dan akan menghilang setelah melewati tikungan disana.
Apa salahku? kebodohan apa yang ku lakukan?
Kemarin dia masih mengatakan bahwa ia mencintaiku. tapi kenapa kini dia memutuskan hubungan? apa kesalahanku! hey pria bodoh, pria bodoh yang sangat kucintai, berputarlah, berbaliklah tunjukkan bahwa kau hanya bercanda!
90 menit aku menunggunya untuk kembali, matahari sudahkembali ketempat peristirahatannya sekitar 30 menit yang lalu, aku berteman sepi, aku berteman duka, aku terduduk bisu disini, dengan satu keyakinan dia akan kembali.

***************
"ini, ambil ini, pergi enyah dari kehidupan mama!" suara itu terlalu keras hingga seisi ruangan yang akrab disapa rumah sakit itu bisa mendengarkannya, suster yang berjalan disekita bertingkah seolah tak mendengarkan kata-kata mama.
"Singapura? sejauh ini? mama, kenapa harus diluar negeri? kenapa aaku harus pergi sejauh ini?" aku menatap wanita didepanku dengan tatapan tak menyangka, yah dia mamaku, tapi saat ini aku tak yakin ia pantas menyandang nama mama.
"Kau anak pembawa sial! pergi kau! Kau hanya tau bawa masalah dalam keluarga ini?" tatapannya sangat nanar.
"Setega ini? kau padaku?!" suara ku mulai meninggi seisi rumah sakit yang tadinya cuek, kini mulai memperhatikan perdebatan mulut kami dengan seksama.
"Hey anak Sial! kau yang membuat ayahmu kecelakan! pergi kau! pergi sekarang! aku tak ingin mengenalmu lagi! akan ku katakan pada ayahmu kau meninggal disaat kecelakan itu" tak ada tatapan bercanda dimatanya, ia sangat marah, aku tertegun, aku tak berani membntah, seluruh hatiku merasa bersalah.
ku tarik ransel yang sedari tadi tergeletak dilantai rumah sakit yang dingin, ku kenakan, aku berjalan menjauhi ruangan ICU, dengan mengegap tiket keberangkatan. warga masyarakat yang sedari tadi menonton kembali keaktivitas mereka masing-masing, sedangkan aku, hanya bisa terdiam.
Benar ini semua kesalahanku, aku anak pembawa masalah. aku 3 bersaudara, namun kini hanya tinggal aku dan ayahku, kedua kakak laki-lakiku berhasil ku antar ke alam yang berbeda dengan kecelakaan kereta, sekarang? nyaris aku mengantar ayahku bertemu dengan kedua saudaraku, jelas saja ibu tiriku menghakimiku dengan kata "anak pembawa sial".
**************

Keberangkatanku, tepat besok sekitar pukul 8 malam, sore ini aku sudah mulai memilah pakaian dan barang-barang yaang ingin ku bawa, aku sengaja tak membawa barang-barang yang sangat intim bagiku, aku takut ayah curiga bahwa aku tidak benar-benar tewas. yah seperti yang dikatakan ibu tiriku, bahwa ia akan membohongi ayahku bahwa aku ikut tewas atas kecelakaan mobil bersama ayahku, namun kenyataannya? aku tak tergores sedikitpun.
Hatiku miris daat melipat pakaianku, turbin-tirbin dirumahku yang telah menemaniku selama ini akan ku tinggalkan, aku pikir ini yang terbaik. ditengah-tengah kesibukanku, mataku terfokus oleh sebuah Frame merah, yah foto Andini, wanita yang sudah sekitar 8 bulan ini menjalin hubungan denganku, pertanyaannya apakah yang akan ku lakukan padamu Andini?
aku tak mau kau mengetahui sepiluh apa diriku, aku tak ingin kau terjebak dalam kehidupan keluargaku yang terlalu bodoh dan dramatis ini, dan yang paling ingin ku tekankan.
Aku tak ingin mencelakakanmu, seperti kedua kakakku, dan ayahku, aku tak ingin membawakan sial dalam hidupmu!!
**************

"Hay, Andiniku sayang, udah bangun yah? berhasil bikin pulau nga?" tepat pukul 6. saat aku membuka mata, hal yang terakhir yang inginku bahagiakan adalah Andini, dan hal yang terkhir yang ingin ku lihat di Makassar adalah Andini.
"Ah, kurang ajar, kau fikir aku sejorok itu yah? hey, aku yakin kau sudah berhasil membuat kiamat di kasurmu itu malam ini!" terdengar tawa disetiap sela kata-kata yang keluar dari bibir Andini.
"Ah, dari mana kau tahu aku mengompol dikasur Andini? hey kau membututiku yah?"
"Ah, kita kan punya telepati " suara andini terdengar sangat ceria, walaupun di pagi buta seperti ini.
"Sudah ah, aku jemput kamu entar jam 8-an, siap2 yah, mandi, pakaian yang cantik, hari ini kita bertualang. aku abis dapat uang nih dari papa, nga tau mau ngehabisin dengan cara apa."
"Ok. dear, kamu akan kaget karena jalan ma bidadari hari ini"
****************

"Bebh liat deh, tuh poster mirip kamu deh" aku melihat ke ujung jarinya, yah bukan potret Justin B, yang ia tunjuk tapi badut gendut dengan hidung memerah.
"Aku tak segendut itu! bodyku ideal bodoh!" ku jitak kepalanya.
"Ah? Ideal? nyamuk aja tau kok kalo kamu ndut?" ia mulai mengejek ku.
"iya, jika nyamuknya kamu!" aku menatapnya, Andini gadis cantik berkulit putih yang selama ini menemani hidupku, hidungnya mancung, postur tubuhnya sempurna, namun kekurangannya iya sangat mencintaiku, ahh apakah itu kekurangan?.
"hahhahaha" Dia tertawa, tertawa sangat lebar, aku yakin tawa inilah yang membuatku jatuh cinta padanya.
"duduk yuk, capek nih kelilingin taman" kataku sambil menariknya kekursi yang disediakan untuk pengunjung.
Aku tertegun,
Sanggupkan aku meninggalkanmu? sanggup kah aku menyakiti wanita ini? tuhan dia terlalu sempurna untuk ku sakiti, hanya manusia bodoh yang ingin menyakiti Andini!
"Hey, tatapanmu perdetik itu seharga 100 ribu rupiah, kau sudah menatapku sekitar setengah menit kau berutang 3 juta padaku!"
"Hey idiot! aku pacarmu, kau tak boleh mengnakan tarif untuk pacarmu!"
"hey idiot! kau hanya pacarku bukan suamiku" ia menjulurkan lidahnya, terlihat sangat menggemaskan,
"oke aku traktir es Krim!!, doggie, sini ikut denganku" aku meninggalkannya dikursi sendirian.
"tak mau ikut?" aku menyadari bahwa dia tak mengikutiku yang mulai melangkah meninggalkan kursi yang saat ini ia duduki. aku berbalik.
"Hitungan ketiga, es krimnya batal, 1.. 2..."
Belum sampai hitungan ketiga tangannya sudah memeluk lenganku. ia berlari tebirit-birit sangat lucu, aku menertawai kebodohannya yang tak memperhatikan bahwa saat ia berlari seperti itu mukanya terlihat 3 kali lebih jelek.

***************
"Hey, Raka sudah jam 5, aku lelah, kita sudah mengelilingi makassar sekitar 10 jam. aku sudah bosan melihat wajahmu hari ini!!" ia menggerutu, walaupun aku tau ia berbohong.
"Hey bocah, aku sudah dari tadi menahan muntah berada didekatmu!"
mendengar perkataanku ia menjauh sedikit sekitar 3 meter dariku.
"oke aku hanya bercanda, kemarilah, peluk aku lalu kita pulang"
Tangannya masuk kesela-sela lenganku, ia memelukku dengan hangat.
"Minggu depan kita kemana lagi Raka?" ia berbicara namun dalam keadaan tetap memelukku.
"Hm, kemanapun yang kau mau!" dalam hati aku menyadari, aku mengatakan janji yang sama sekali aku tak bisa tepaati.
"Aku ingin berkuda, Foto Studio, berkeliling kota dan terakhir kita piknik, gimana?"
"dengan senang hati tuan putri" hatiku semakin lama semakin berat.
"Hey, Putri kodok, tatap aku" ia mendongak, masih dalam keadaan memelukku.
perlahan ku kecup dahinya sangat lembut, lalu kedua pipinya.
kulepaskan pelukannya, dan ku genggam tangannya.
"Besok aku sudah tidak bisa bersamamu, hari ini, hari terakhir kita bersama andini, aku minta maaf" aku melangkah, meninggalkannya.
Aku mendengarkan semua ucapannya, tapi terlalu lebih menyakitkan lagi jika aku melihatnya.
ku anggap ini adalah cara penyelesaian yang terbaik.
Aku akan menghilang dari hidyp kalian semua.
aku hanya pembawa sial, dan ku harap hidupkalian lebih berarti tanpaku.







*BERSAMBUNG*

2 komentar: