Senin, 24 Desember 2012

SURAT UNTUK IBU

yah, inilah kutipan tulisan yang kukirimkan buat lomba "Menulis surat untuk ibu" dalam rangka hari ibu 22 desember 2012, yang diselenggarain Keker Fajar.
Dan ternyata? karya dibawah ini masih banyak yang lebih menggungguli dan menyaingi.



SURAT UNTUK IBU

Ibu, untuk menghargai dan mengenang semua jasa-jasamu untuk dunia ini telah diciptakan satu hari khusus yaitu “Hari ibu”. Hari ini diciptakan hanya untuk mengingat jasa luar biasamu, jasa yang hanya bisa dilakukan oleh kaum hawa. Dan hanya pada kaum hawa yang terpilih saja yang bisa melakukan tugasnya dengan baik.
          
          Ibu, terima kasih telah menyimpanku ditempat yang paling kokoh didunia ini, tempat yang paling nyaman dan tenang selama perjalanan hidupku hanya didalam rahimmu. Aku yang hanya sebuah sperma kecil selama sembilan bulan penuh melewati tahapan-tahapan sempurna sehingga bisa menjelma menjadi manusia utuh, yang kemudian kau lahirkan kedunia ini dengan jutaan tetesan darah dari tubuhmu, dengan satu tujuan, memperlihatkan dunia padaku. Kau telah memberikanku kesempatan mencicipi indahnya kehidupan ini.

            Tak cukup hanya menumpang dalam tubuhmu, tak hanya itu saja perjuanganmu untukku, kau memberikanku asupan ASI, zat-zat berharga untuk pembentukan energi dalam tubuhmu kau salurkan padaku yang mungil, kecil dan lemah tak berdaya tanpa berfikir untuk meminta balas jasa apapun dariku.

           Ibu, Disaat aku mulai menapaki kehidupanku sebagai seorang pelajar, dirimu tak henti-hentinya berperan dalam tiap-tiap bait dalam kehidupanku, kau yang memberikanku semangat hebat untuk meraih cita-citaku dan tak ingin berhenti belajar. Disetiap pagi, kau menjadi alarm untuk bangunku, kau juga menjadi koki untuk sarapanku, dan diwaktu lainnya kau menjadi pelayan laundri untuk semua pakaian dan kelengkapan sekolahku. Kau juga tak pernah berhenti mengingatkanku untuk mengrjakan PR-ku.

            Tubuhmu yang seksi, molek, mulus dan putih perlahan berubah menjadi kendor, berlemak tak terawat karena semua perhatianmu kini tertuju padaku, pada diriku, kau tak lagi memerdulikan dirimu sendiri. Dan kau tak pernah marah padaku karena menjadi penyebab rusaknya bentuk tubuhmu. Kau malah menganggap ini bentuk kasih sayangmu padaku.
      
            Tanganmu yang gemulai dan halus juga ikut berubah kasar karena terlalu sering berjabatan dengan benda yang disebut diterjen. Matamu yang indah dan tajam kini memiliki kantung mata akibat kelelahan, dulu waktu tidurmu 8 jam penuh, tapi setelah aku masuk dalam kehidupanmu, perlahan jam tidurmu kau bagi hanya untukku. Wajahmu kini kusam terhantam sinar matahari, bahumu kini semakin jatuh karena usiamu yang tak muda lagi.


            Disetiap tapak kakimu, akan selalu diiringi dengan tarikan nafas yang tak henti-hantinya terpanjatkan namaku seperti dalam bait-bait harapanmu untukku dalam do’amu. Sebersalah apapun aku, kau selalu punya jutaan alasan untuk tidak membenciku, sejelek apapun diriku kau juga tak pernah memakiku, sebodoh apapun diriku kau juga tak pernah menyerah ingin membimbingku. Ibu kau tak henti-hantinya memaklumi kesalahanku, bagimu kesalahan yang kulakukan hanya berupa proses penumuan jati diri.

            Ibu, tak cukup dengan mengurus ayah, kau juga disibukkan dengan aktivitas mengurusiku, menyiapkan makanan untuk keluarga kecilmu, menyulap pakaian lusuh dan kotor penuh keringan menjadi pakaian siap pakai, memberantas semua debu disudut-sudut ruangan, lemari dan juga jendela dirumah kesayangan kita, manyapu dan mengempel rumah hinggan mengkilap dan siap menerima tamu. Dan sadarkah ibu, ibu melakukan semua itu bukan hanya untuk 1,2,3 hari, bukan juga hanya dalam hitungan bulan, tapi sejak awal ibu membina rumahtangga hingga saat ini dan akan terus begitu.

            Dan ketika aku masuk dalam keluarga kecilmu ini, tugasmu semakin terlipat ganda, tugas yang menambah kerut diwajahmu, tugas yang membuat tangan dan kakimu keram, tugas yang membuat waktumu tersita dirumah, tugas yang membengkokkan tulang punggungmu, dan atas semua tugas rumah itu aku jarang membantumu. Dan yang ku dapati ibu malah memakluminya. Disaat aku lebih memilih jalan-jalan ke mall, menghabiskan uang ayah dengan alasan ingin bersenang-senang setelah ujian kau tetap memaklumiku, kau tak marah aku tak membantumu mengerjakan tugas-tugas beratmu itu.

            Aku kembali teringat saat aku tertawa hebat melihatmu gagap akan tekhnologi, aku menertawaimu karena kurang updatenya engkau pada tren saat ini, aku selalu malu akan aksenmu yang tidak baku, berantakan dan kental akan bahasa daerah, aku juga sering menggerutu dan mogok makan jika masakanmu tidak mengairahkan bagiku. Tanpa sekalipun aku menyadari, bahwa aku terlalu bersikap semenah-menah terhadapmu.

            Ibu, aku selalu marah padamu disaat kau mengganggu tidur nynyakku, aku selalu menggerutu disaat kau menggerecok aktivitas menyenangkanku, akitivatas bersantaiku, aku selalu memakimu saat kau berusaha mendidikku, aku juga selalu mencemoohmu karena tak mengerti kehidupan remajaku, tak lupa juga aku selalu medumel disaat kau memarahiku, aku juga selalu memasang wajah tak bergairah seakan telah mengelilingi kota dengan jalan kaki saat kau meminta tolong dariku.

            Tubuh yang menua seakan menyadarkanku, aku terduduk, terdiam dalam sepi, ku pandangi gambarmu, sekilas terbayangkan semua kenangan indah masa-masa bersamamu, saat kau merawatku, mengganti popokku, mengelitiku, menciumku, memijatku saat aku sakit. Padahal sebenarnya dulu saat aku hanya berupa sebuah janin. kau bisa mengaborsiku, tapi mengapa kau lebih memilih melahirkanku, memilih untuk menanggung beban merawatku, membesarkanku, dan membiarkanku menikmati kehidupan?

            Entahlah inilah mungkin bukti saktinya cintamu padaku, bukti kasih sayangmu padaku. Ibu kau telah berhasil menyulap anak kecil yang hoby mengompol dan mengisap jempol menjadi sosok anak yang berdasi, berjas, dan bahkan bermobil. Saat aku menatap gambar wajahmu dikertas berukuran 4R ditanganku, pikiraku sejenak melayang.

Membayangkan bagaimana jika mendadak tubuhmu tak bergoyang lagi.
membayangkan jantungmu tak berdenyut lagi,
membayangkan semua tugasmu beralih menjadi tugasku.
membayangkan jika dirimu tak bisa ku jamah lagi.
Ohh Tuhan , ku mohon jangan, aku tak sanggup, benar-benar aku belum siap kehilangannya tuhan, dia terlalu berarti bagiku.
Teringat aku pada semua tangisanmu yang keluar dari kelopak matamu saat membesarkanku, semua bulir keringatmu saat merawatku, semua ocehan yang keluar dari bibirmu hanya untuk menuntunku memberikanku petunjuk untuk menapaki dunia ini. Aku kembali teringat akan semua hal kecil hingga hal besar yang kau lakukan untuk menunjukkan cintamu.

          Ibu, aku telah menyita waktumu, membuatmu marah, membuatmu menangis, memuatmu kebingunggan, membuatmu khawatir, membuatmu resah, membuatmu pusing dan yang kubalaskan hanyalah sikap kurang ajar padamu. Yang kubalaskan hanyalah sikap kurang hormat padamu. Dan untuk semua sikap burukku padamu kau tidak membenciku.


         Jika dibandingkan semua usahamu untukku, intan, berlian, permata, bahkan dunia ini tak akan cukup untuk membalas semuanya ibu. Aku minta maaf atas segala sifat burukku padamu ibu, itu bentuk lupa diriku atas semua pengorbananmu selama ini. Aku mencintaimu.

          Duhai ibuku, terima kasih telah menjadi ibuku, Terima kasih telah mencintaiku, Terima kasih telah menerimaku dan manyayangiku.

          Ibu, kau segalanya bagiku, untukmu peluk hangat dan cium mesraku.

                                                                                                                               Selamat hari ibu

                                                                                                                Terima kasih telah menjadi
                                                                                                               ibu yang sempurna bagiku!

5 komentar:

  1. astagaa.. baru pka sadarr... hmm hmm terlalu byk dosaku sama macheku -,-''

    BalasHapus
  2. hhhaha. dehh, jadi ceritanya, blogku membuat anda tersadar yah :D. hahhaha.

    BalasHapus
  3. haha ya bisa dibilang bgtu...
    blogmu kesadaranku.. awkkaw alay

    BalasHapus
  4. hahahha. bagus lah :D
    alhamdulillah, sadar jki :D

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum, kak. Juara berapa ini Surat Untuk Ibu ta? Edisi nostalgia. Cek email. Ketemu kiriman2 ke lomba-lomba termasuk Surat Untuk Ibu Keker Fajar 2012😇

    BalasHapus