Jumat, 04 Januari 2013

Jilbab.. ohh Jilbab..

"hay Kenalin, nama saya Wulan Purnama Sari. saya adalah cewe jomblo yang saat ini sedang mencari tambatan hati. mungin jika kalian para jomblowers kece bin ganteng di luar sana ada yang tertarik dengan saya, kalian bisa menelphone kenomor yang terterah dibawah layar berikut ini" jari telunjuk gadis itu mengarah kebawah. Bergerak dari samping kanan kesamping kiri secara berulang-ulang. aku hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya. dia sangat bodoh.
"Apa?" Tanyanya sewot diikuti tatapan marah yang ditujukan kepadaku. aku kembali terpingkal. perutku terkocok hebat.
"Lo itu yah, lo lagi ngekhayalin ikut acara diTV yang nyari-nyari jodoh? lo juga ngekhayal yang rendahan dan nga relefan gitu. parah lo mainannya." aku memakinya, tak habis pikir aku bersaudara dengannya, gadis yang modern tapi berotak kolot.
"Ahh! MAULINA ALZAGRIB! BERHENTI MENGEJEKKU! DILARANG MENEGEJEK KHAYALAN ORANG LAIN!" Gadis itu berteriak  dengan suara yang memekakkan telingaku.
"Hussshhh. Suara itu Aurat Wulanku sayang!" kataku dengan nada yang tetap mengejek.
"Ishh, Maulina bete ih, ngajak berantem mulu lo-nya" bibirnya membengkok kebawah, aku tak tahan melihat ekspresi sedihnya. "oh ayolah adek kecilnya kakak jangan bete gitu dong, kakak minta maaf yah?" kataku bersungut-sungut.
"Ahh, nga mau" gadis kecil itu melontarkan kesedihan yang mengejek, ahh, dia balas dendam rupanya.
"kakak beliin Cokelat deh, maaf yah dek?" kataku merayunya, ahh. rasanya sangat muak membujuk anak berusia 15 tahun ini, sudah terlalu tua rasanya untuk dimanja.
"Ngak usah, temenin aja besok ke Mall, baru aku maafin. gimana? Deal?"
"Deal!" aku senang dia tak memasang wajah sedih mengejeknya lagi, jujur saja aku bisa-bisa mimpi buruk jika terus-terusan melihat wajah itu.
Ahh, iya pembaca, Aku Maulina Al-Zagrib kakak dari Wulan si adik menjengkelkan dan bawel itu. tapi jujur saja ku akui adik ku yang satu itu cantik walaupun sedikit menjengkelkan. aku suka jika dia sedang tertawa sambil menutup mata kirinya, membiarkan mata kanannya terbuka setengah, sangat lucu. benar-benar menggemaskan.

*****

"Kakak? " Gadis cantik berjilbab pink itu memanggilku lembut.
"Iya" jawabku singkat.
 "liat deh, tuh cowo yang disana cakep banget, matanya sipit, hidungnyaa nga mancung nga pesek, badannya tinggi plus cool, matanya abu-abu, kulitnya putih. sumpah kak, idaman aku banget." Sahut adikku seraya meremas-remas jemari ku yang memang sudah sejak tadi ia genggam.
"Ahh, iya, kakak juga terpesona tau ngak." mata kami berdua menatap dengan binar-binar terpesona kepada seorang pria yang duduk manis di ujung restoran jepang tempat kami saat ini menikmati makan siang.
"Dia cuma sendirian disini kakak, deketin yuk? bosan nih ngejomblo udah ada cowo secakep itu masa mau didiamin gitu aja?" katanya seraya memilin-milin kan jilbab pinknya, yang dipasangkan sebuah bros pink kupu-kupu yang sangaat cantik. wajahnya menatap pria itu penuh harap.
"Kamu kok jadi kegatelan gitu sih? kelamaan ngejomblo, lo jadi kurang waras dan anarkis yah?" aku menatapnya cemas, tapi dia mengacuhkan perkataanku.
"Ayook!" tiba-tiba tangan mungil itu menarikku. aku hanya bisa diam, terhipnotis begitu saja untuk mengikuti adik kecilku ini, adik kecilku yang berusaha menarik perhatian sosok pria tampan yang membuatnya kehilangan akal sehat.
Sekarang kami tepat berdiri dihadapan pria itu, pria yang membuat adikku terpesona.
awalnya pria itu hanya tersenyum, yah memang ia tersenyum dan kuakui ia memang sangat tampan, adikku memiliki selera yang tak tanggung-tanggung.
benar, pria itu berpostur tinggi, ototnya tergambar jelas dari luar kemeja coklat yangdikenakannya, matanya sipit. entah kenapa aku melihat pria ini nyaris mirip dengan sosok aktor luar negeri.
mungkin pria ini hanya perlu satu kelipan mata dan sanggup membuat seisi restauran mencintainya.
tapi semua pujian itu tandas habis mendengarkan kata-kata yang terlontar dari bibirnya, rasanya seluruh tubuhku ingin mencabik-cabik tubuhnya dengan sumpit.

*****
Aku menatapnya takjub, Tuhanku, Ya Allah, bisa-bisanya engkau menciptakan makhluk sesempurna orang ini, Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya dia sangat sempurna, aku terpanah dan tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. kubiarkan jilbabku melambai-lambai ketika berjalan, kuharap itu akan sedikit menarik perhatiannya. "aku ingin memilikinya" kataku pada diri sendiri, tak bisa kupungkiri pesona pria itu mampu membunuh semua kewarasanku.
"Hey?, Aku Wulan Purnama Sari" aku menatapnya lekat, aku sangat bahagia bisa berada sedekat ini dengan pria idamanku. ahh jantungku nyaris terlepas.entah setan apa yang menghipnotisku sehingga bisa segatal ini sehingga menghampirinya begitu saja tanpa pikir panjang.
"Ahh? iya, aku Richart. ada apa yah?" Ia tersenyum, ahh aku semakin tidak sanggup melihatnya tersenyum.  kurasakan tubuh wanita  berjilbab biru disampingku, ia hanya mematung bodoh melihat kejadian ini. "Aduuh kak Maulina, Plis jangan membekukan suasana, bersikap wajarlah" seruku dalam hati, dan bodohnya aku berharap kakakku itu bisa mendengarkan kata-kataku.
"Aku, Aku suka matamu, boleh aku duduk?" kataku dengan senyum yang tak kalah menawan dari senyum yang terukir dari bibir pria itu, walaupun merasa sedikit canggung, dengan seluruh kekuatanku, ku coba memberanikan diri menggodanya.
"Ahh? disampingku? " tanyanya singkat, entah mengapa senyumnya mengilang. ekspresi wajahnya berubah kurang ramah. melihat wajahnya yang berubah, ada perasaan menyesal hebat yang kurasakan saat ini, meyesali kebodohanku menyapa pria ini.
"Maaf yah, aku tidak suka berdampingan dengan Wanita berjilbab, bagiku wanita berjilbab itu hanyalah kepalsuan, hanya ke sok sucian, jadi kalau mau berada didekatku kumohon, lepaskan jilbab bodoh itu. kau hanya terlihat lebih mirip fakir dibandingkan wanita kota, yang high class" ia tersenyum bengis, kemudian ia memasang ekspresi datar dan dingin. aku mengutuknya karena tak meminta maaf atas perkataannya tadi. kini kusadari, kakakku sudah tidak mematung lagi, dan sepertinya dia akan bertingkah. melepaskan semua amarahnya dan memaki pangeran charmingku.
"Maaf? Apa katamu? Wulan, ayo kita pergi dari sini, kita penghuni surga tak pantas berada didekat penghuni neraka lama-lama" Kak Maulina menarik tanganku dengan sangat kasar, Kutangkap ada percikan api membara keluar dari kepalanya, tak pernah kulihat ia semarah ini, bahkan saat aku bolos sekolahpun ia tak pernah semarah ini.
Ada perasaan bersalah menghantuiku saat ini, merasa bersalah karena menyapa dan sok kenal dengan pria itu sehingga aku ditolak mentah-mentah dan perasaan bersalah karena membuat kakakku murkah.

*****
Setelah kejadian itu, Entah kenapa aku mulai memikirkan kata-kata pria itu, bahkan saat ini aku merasa lebih cantik saat tidak mengenakan jilbab dibandingkan saat mengenakannya. kata-kata pria itu terputar terus dikepalaku saat ini. mungkin pria itu benar, aku akan lebih cantik jika tak mengenakan jilbab. aku akan lebih terlihat high class dengan rambut pirang yang dikriting gantung dibandingkan dengan menggunakan sehelai kain dengan sebuah bros perak berbentuk kupu-kupu.
apakah aku akan melepaskan jilbabku hanya untuk orang itu?
angin-angin diteras rumah menyapu lembut pipiku. pikiran ku masih sibuk dengan jilbab dan sosok tampan yang kutemui kemarin.
Aku ingat saat ibuku berkata "Kenakanlah jilbab ini nak, jadikan ini amanah dari ibu" itu kata beliau sebelum meninggalkan aku, kak Maulina dan ayah. beliau pergi kedunia yang berbeda, berkelana ria kedunia yang sama sekali belum bisa kujamah, beliau meninggalkanku saat aku baru menginjak kelas delapan.
ahh, saat ini aku sangat gundah, rasanya ada sebuah dorongan keegoisan yang memintaku melepaskan jilbab ini, dan ada dorongan amanah yang menyuruhku tetap menggunakan jilbab ini. aku terus-terusan menimbang-nimbang memilih dorongan mana yang lebih kuat, dan dorongan mana yang lebih baik ku ikuti.

"Jangan mengkhayal terus dik, entar kesurupan loh" Pikiranku buyar mendengarkan suara yang akrab menjamah telingaku. suara lembut yang sangat merdu dan tak serak.
"Ahh, lagi bingung aja nih kak." Aku berniat menceritakan semua kegundahanku padanya, aku tak ingin menanggung kegundahan ini sendirian. toh mungkin aku akan mendapat sedikit pencerahan dari kakak.
"Ada apa? Pria itu? kau masih memikirkannya?" tatapannya sangat lembut diikuti senyum yang terukir dibibir pinknya yang menawan, walaupun aku tahu kak Maulina tak menyukai Richart, tapi hebatnya saat membahas hal yang ia bencipun ia tak pernah kehilangan tatapan lembut dan senyumannya, ini membuatku kagum terhadapnya.
"iya, kak, pria itu menyadarkanku, bahwa aku tak merasa cantik menggunakan jilbab ini, benar katanya aku tampak seperti Fakir" kutatap jilbab putih yang sadari tadi memeluk kepala dan rambut kak Maulina. Kudung itu sangat cantik membalut kepalanya, ahh aku iri karena tak secantik itu saat menggunakan jilbab.
"Wulan? apa yang membuatmu ragu? Jilbab ini pelindung sayang, jilbab inilah yang melindungi kita dari kerasnya kehidupan modern yang bisa membawamu kekehidupan bebas diluar sana. dan jilbab inilah amanah ibu. ibu tahu yang terbaik untuk kita." Ada secerca keyakinan yang masuk kedalam tubuhku. masuk memberikanku cahaya, menerangi kegelapan hatiku, memberikan rasa nyaman yang hinggap didadaku yang sedari tadi gundah.
"Ah? lalu kenapa aku tak merasa cantik mengenakannya?" tanyaku, berusaaha mencari keyakinan yang lebih besar. kutatap mata hitam bening kak Maulina disana ku temukan lebih banyak keyakinan, dan tiap tutur katanya juga semakin membuatku yakin pada sehelai kain itu.
"Wulan, itu hanya hasyutan syetan agar kau mengikuti jejak sesatnya, melupakan amanah ibu, dan masuk kedalam lingkaran gelap kehidupan" kak Maulina menatapku lurus. "hei, Richart hanyalah syetan yang dibungkus tubuh malaikat, percayalah" Aku menggangguk, lalu kutarik bahu kakakku, aku memeluknya, memeluknya sangat lekat dan berkata lembut ditelinganya "Terima kasih atas keyakinannya kakak".

Kakak benar, Richart hanyalah laki-laki bodoh! atau kata kasarnya setan yang terbalut tubuh malaikat, ia memang sempurna, tapi jalan pikirannya sudah rusak. aku bersyukur masih memiliki kak Maulina yang selalu melindungiku, dan memberikanku kepercayaan disaatku jatuh seperti saat ini. mungkin jika tak ada kak Maulina aku sudah terjebak dalam keegoisanku sendiri, melupakan amanah ibuku.
maafkan aku ibu, aku nyaris melanggar amanahmu.

Yah, Kak Maulinda memang satu-satunya kakakku, kami hanya 2 bersaudara, beliau adalah sosok yang mampu membuatku berdecak kagum, kedewasaannya, cara berfikirnya, dia nyaris menggantikan sosok ibu bagiku, walaupun sikapnya keibuan, iya juga tak lupa caranya bersikap sebagai sebayaku yang membuatku tetap merasa memiliki sahabat , kakak, dan gambar sosok ibu pada satu tokoh. Kak Maulina.
****

"Jadi gimana Wulan? masih galau?" tanyaku pada adikku yang saat ini menggunakan jilbab abu-abu, ia baru saja hendak berangkat sekolah. jam dinding dirumah sudah menunjukkan pukul 06.45. mengingat perjalannannya kesekolah yang tak dekat membuatnya harus siap lebih dini untuk berangkat kesekolah.
"Ngak dong kakak, nih Wulan masih pake jilbab dan akan terus begitu." ia tertawa renyah, ahh kembali dengan tawanya yang hanya menutup mata kiri, membiarkan mata kanannya terbuka setengah. sangat lucu. tawa itu yang membuatku selaalu rindu pada adikku yang satu ini.
"Gimana? masih jadi jomblo yah?" aku mencoba menggodanya. entah kenapa, aku tak bisa berhenti menggoda adikku ini, disetiap waktu saat bertemunya tak lengkap rasanya jika tidak menggodanya atau mengejeknya. entahlah, kakak macam apa aku ini. tapi setidaknya ejekan itulah yang membuat kami sangat dekat.
"ah kakak, ngeledek deh. Do'ain dapat pacar yah kakak akunya. do'ain aku dapat pacar yang bakalan ngebimbing aku lebih dekat ma Allah" ia menatapku penuh semangat, aku bahagia melihat semangat itu.
"Aamiin, kalo perlu kita adaiin pengajian khusus do'ain kamu biar nga jomblo" Aku tersenyum, aku senang melihat keyakin yang sangat kuat diwajah adikku satu-satunya itu. udah," berangkat gieh, entar telat loh, jam sekolah sma 17 kan lebih cepat dibandingkan sekolahannya kakak."
"ahh kakak apa-apaan sih! ohh iya. kakak, dadah" iya mencium pipiku, seraya menggandeng tas vintage kuning yang menemani bahunya disekolah.
aku semringan bahagia, kuhabiskan susu hangatku lalu merapikan jilbab putihku yang dibalut bros bergambar kura-kura biru,lalu bersiap-siap untuk berangkat kesekolah.
kurogoh tasku untuk mengambil kacamataku, dan bersiap meninggalkan rumah.
"papa, aku pergi dulu yah, dadah" sahutku pada papa yang masih sibuk dengan koran dan teh panasnya.
 akupun melangkah meninggalkan rumah, rumah bernuasa cokelat tempatku dibesarkan.

****

Kulirik jam tangan berwarna biru yang sedari tadi memeluk lenganku, ah sudah jam 1 rupanya,berarti ini saatnya melangkahkan kaki meninggalkan kelas dan menuju Perpustakaan sekolah, menemui pak Ridwan karena kemarin ia memintaku membantunya merapikan buku-buku yang berserakan dan mendata buku yang telah dipinjamkan oleh siswa. yah ada rasa senang bisa dipercayakan menjadi tangan kanan guru.
"Maulina" aku menoleh mendengar bersuara berat memanggiku dari belakang saat melangkahkan kakiku menuju koridor perpustkaan.
"iya" aku menatap seseorang pria bermata cokelat, dengan alis yang cukup tebal, memiliki bibir tipis berwarna merahmuda yang sangat menggoda. ah, mataku silau akan pesonanya.
"Maaf, aku boleh menggaggumu sebentar?" tanyanya, kumohon jangan menggagguku lama-lama, kalau tidak kau bisa menghantui malam dan mimpi-mimpikuku, gerutuku dalam hati dan berharap ia tak mendengarkannya.
"iya tentu, ada apa yah?" ohh tuhan aku merasakan jantungku berdebar hebat aku semakin takut ia merasakan kecanggunganku.
"ini" disodorkannya sebuah buku padaku, tebalnya sekitar 7 mm (Cinta tak bertuan-karya adinata prisilia)
"apa ini?" tanyaku kebingungan. memangnya apa hubungannya aku dengan buku ini? tanyaku pada diriku sendiri. alisku bertemu sakking keheranan.
"buku ini keren, didalam buku ini menceritakan seorang gadis cantik berjilbab yang mengagumkan" gumamnya menjelaskan secara singkat, namun belum kutemukan jawaban dari pertanyaanku, ku beranikan untuk bertanya.
"Apa hubungannya denganku?" kata-kata itu mendarat sempurna keluar dari mulutku, ahh aku takut berkata sedikit ketus padanya. ada perasaan sedikit menyesal dihatiku.
"Karakter gadis dalam buku itu, mengingatkanku padamu." aku terenyak mendengarkan apa yang baru saja ia tuturkan. pertnyaanku sudh terjawab walaupun ia memberi jawaban yang klise. rasa penasaran menjalar hebat dalam tubuhku.
"Maaf? maksud anda?" tanyaku dengan bibir yang tak mampu tersenyum sakking canggungnya. bayangkan saja, kau terperangkap berbicara dengan pria tampan, kakak kelasmu, dengan wajah lusuh. bahkan kini aku takut pria itu melihat rona merah dipipiku.
"Bagus Tri Prasetyo, siswi kelas X11-3, aku berharap bisa mengenalmu lebih dalam, itu saja, buku ini ku harap bisa menjadi pengantar kedekatan kita" tatapan matanya tajam dan penuh kehangatan, bibirnya yang tipis menggambar segurat senyum kecil yang terlihat sangat manis. ohh, aku jatuh cinta, mata dan senyum itu membuatku melayang tinggi keangkasa.

*****

"Wulaannn...." pintu kamarku dibuka oleh ayah, pria berkumis berperut buncit itu kini menampakkan wajahnya dengan pakaian yang sangat rapi. mungkin jika ia bertelanjang dada aku akan berlonjak kaget bak melihat hantu.
"Ada apa yah?" tanyaku penasaran. ku alihkan perhatianku dari majalah remaja yang sedari tadi mencuri perhatianku. ada rubik tentang tips bagi para jomblowati. jelas saja rubik ini mencuri perhatianku.
"Papa baru pulang dari rumah om Agum Bahri, tadi anaknya yang bernama Purnomo Adriansyah menitip salam untukmu" segurat senyum menggoda tergambar dari bibir ayah yang diatasnya dihiasi bulu hitam lebat yang disebut kumis.
"Ohh yah? anaknya pak Agum Bahri yang sangat cakep itu? yang bibirnya merah dan terbelah, yang wajahnya mirip afgan? seriusan ayah?" aku terperangah, sedikit kaget dan tak percaya sebenarnya, pria yang sejak kecil menarik perhatianku dan hanya bisa kukagumi diam-diam kini melirikku sebagai seorang wanita.
"Iya, nga percaya yah? ini. dia nitipin nomor telephonenya loh" kata ayah seraya meletakkan sejarik kertas lusuh diatas meja belajarku.
"Apa katanya ayah?" Tanyaku ke ayah tanpa ba-bi-bu, tanpa basa basi yang berkelut-kelut. aku tak bisa menahan rasa penasaranku.
"Dia cuma nitip kertas itu, dan bilang ke papa, supaya kertas ini papa kasih kekamu, katanya kamu makin terlihat cantik dan dewasa setelah menggunakan jilbab. dan satu lagi, ia suka tawamu" ayahku memasang senyum yang sangat menggoda, ahh aku tak menggubrisnya, biar saja dia melihatku seperti ini, biar saja dia melihat ekspresi bahagiaku saat ini. biar saja dia melihatku meloncat-loncat kegirangan diatas ranjang. aku sudah terlalu senang aku tak sanggup menutupi rasa ini. aku sudah tak sanggup bersikap munafik.

ahh, kepalaku pusing, saking tidak percayanya aku berasa ingin pingsan.
"Akankah aku melepas predikat Jomblowatiku? melepaskannya untuk kw-2 sosok afgann!! Ahh Mauu!!" kulempar tubuhku diranjang. tubuhku lemas sakking senangnya, kini majalah dan rubik konyol itu sudah tidak menarik perhatianku, mataku sibuk memandangi kertas lusuh itu dari kejauhan.


"Jilbab itu bukan penghalang kecantikanmu,
bukan hal yang membuatmu norak,
bukan hal yang membuatmu terlihat tidak bergaya,
bukan pula hal yang membuatmu menjadi sosok yang terlihat tua.
tapi jilbab adalah sehelai kain yang bisa membawamu ke surga, yang bisa memberimu keselamatan, yang bisa memberimu kehormatan, dan yang bisa memancarkan kecantikan hatimu.
karena kecantikan dari dalam jauh lebih istimewa dan menarik dibandingkan kecantikan dari luar yang mudah sirna dan mudah dibuat."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar