Kamis, 03 Januari 2013

Sosok hebat penghapus tangisanku dimasa lalu

"Ahhh, kenapa ko ihh, mau ka tidur, sana-sana!!" teriakku memaki wanita berdaster gelap yang mengambil posisi ternyaman bagiku untuk beristirahat.
"Tifa, apa kan tante bilang, ndaboleh bilang KO!! bilang KI!!" sosok itu datang dari kejauhan menyadarkanku yang telah berbicara kasar pada wanita berdaster gelap disampingku.
"Tabe, tante, sana-sana ki dulu kodong, mau ka tidur" kuralat kata-kataku.
dari ujung mataku, aku bisa melihat sosok itu tersenyum, sepertinya dia senang karena aku berhasil menjadi anak yang penurut.

*****
Air mataku terus saja berlinang, membasahi pipiku yang merah, sesekali kuseka air mataku dengan lenganku yang sangat mungil. sampil kutatap luka memar dilututku.
"Sakit tante" aduhku pada sosok itu.
"Tante tahu, tapi tante minta kamu berhenti menangis" dia mulai menyamaratakan tinggiku dengan tingginya, ia sedikit berjongkok untuk menyeka airmataku dengan telapak tangannya.
" Aku menangis karena lututku berdarah! dan itu sakit. " tegasku padanya.
"Tante tahu, dan karena itulah, tante minta kamu berhenti menangis, tante takut berhadapan dengan nenekmu, tante takut ia mengomeli tante karena membuat lulutmu terluka, dan jika kau menagis nenekmu bisa memakiku." aku tertegun mendengarkan kata-katanya.
"Tapi aku terluka karena berjalan sempoyongan, bukan karena kau mendorongku" bisikku pelan, takut melukainya dengan kata-kata kasar.
" Aku dan nenekmu tidak suka melihatmu terluka" terbersit sinar dimatanya, yang membuatku dalam hitungan detik mempercayai semua ujarannya.
kemudian ia memelukku dan menarikku dalam gendongannya, aku menahan tangisku sebisa mungkin.

*****
Kukucek mataku perlahan, sudah pagi rupanya, aku tergeletak pasrah dikasur yang tak terlalu empuk.
"Hey, si cantik sudah bangun" suara itu, suara dari sosok itu mengagetkanku.
"hoooaaaammm " mulutku menguap begitu saja.
" Periksa celanamu, mungkin kau mengompol lagi" serunya diselingi tawa yang renyah.
"Ahh. Tidakk! aku tidak mengompol tante!"kataku sambil berlari padanya
"Sini coba tante periksa" ia mengulurkan tangannya, memberikan isyarat ia menerima kedatanganku dengan baik. "ahh. iya, tidak  basah" bibirnya terulas sebuah senyum kecil. aku tertawa melihatnya.
" Tifa kenapa cepat sekali tidur? Padahal tante sudah masakkan telur mata sapi sesuai permintaanmu, tapi begitu kembali dari dapur, kau sudah terlelap dilantai
"ahh. maaf. mana sekarang telurnya?"

*****
(Disaat umurku sekitar 2/3 tahun)
"Sini! jangan lari-lari terus!" ia berteriak padaku. aku tak mengindahkannya dan terus saja mengelilingi ruangan dilantai dasar dengan santainya tanpa beban. "Dasar yah, tak tahu malu!" aku tetap tidak menggubrisnya. ku lihat dia sudah cukup lelah memanggilku, kini ia berusaha mendekatiku dan menangkapku, lariku semakin kencang.
HAAAPPP!! ia menangkapku dengan kedua lengannya, aku terjebak dalam pelukannya, dalam hitungan detik ia menggendongku ke kamar.
"NDA MAU!!" ku teriaki dia tepat di telingannya.
"Dasar yah! kau memang hoby, berkeliling rumah dengan bugil!"
" Malas tante pake celana, kalo mau pipis entar dibuka lagi, repot" gerutuku padanya.
"Tifa, awasloh, entar Om Munir mau datang, entar diliat deh itunya" Dalam sekejap mataku terbelalak, dan langsung dengan membabi buta menggunakan celana dalam yang bergambar semangka merah yang sedari tadi ada digenggaman tanteku.

****
" Nina, liat ko itu eehh tipa kayak paminta sumbangan" bisik kakak pertama ku pada kakakku yang lebihmuda.
"ahh, tante" kubuka semua baju yang ku kenakan, seluruh tubuhku memberontak, aku sangat malu menggunakan baju muslim berwarna biru ini, karena kata kakakku aku lebih mirip peminta sumbangan.
"kenapa? kok dibuka?" ia menatapku keheranan.
"katanya kak uci, aku kayak peminta sumbangan." gerutuku mengadu pada tante.
"terus percaya? lihat mereka, baju mereka biasa saja, cuma dibeli ditoko, tapi bajunya kamu kan dibikin sama penjahit, dirancang khusus, liat deh, brosnya aja cantik, mereka cuma cemburu sayang, mereka cemburu karena baju kamu lebih cantik" kata-kata itu langsung menyusup dalam tubuhku, menjadi penyemangat dan sugesti yang langsung dengan cepat mengubah moodku.
"iyakah?
"iya cantik"bibirnya tersenyum yang kemudian juga mengajakku tersenyum
Yah, Namanya Rusmini Hakim Saka, anak ke-4 dari 5 bersaudara, adinda dari ibu kandungku, orang yang sempat menjadi mamaku selama 4 tahun. selama itupula aku selalu melihat tawanya, kami tinggal bersama disuatu kota kecil disulawesi selatan yang bernama Malili. kehidupanku disana tak mewah, aku tak mengenal ponsel disana, aku hanya mengenal televisi, tapi disana sangat menyenangkan, aku dikelilingi kucing jalanan yang sangat lucu, ada yang bernama Pussy, si Hitam, Miiau, nenekku yang memelihara kucing-kucing itu. nenekku yang memberikan mereka makan sisa tulang ayam pelanggan dirumah makan kecil kami.
    Tanteku, dia selalu mengajarkanku dengan penuh kasih sayang, membelikanku barbie, membelikanku teddy, membelikanku robot-robotan. aku menyayanginya, aku selalu bandel terhadapnya, namun dia selalu menyayangiku.
   Pernah sekali aku memaksanya ikut kedalam kelas saatku pertama kali masuk sekolah dasar, aku menangis jika dia disuruh keluar kelas oleh guruku. Pernah pula aku menangis saat tak mendapatinya sepulang sekolah, bahkan dibawa kesupermarketpun aku sudah berhasil melonjak bahagia. dengan hanya dibelikan hello panda olehnya.
  disaat pergi keMatahari depertement store, dia tidak membeli baju untuk dirinya, dia malah menggunakan uangnya untuk membelikanku baju-baju gaun. dia selalu bilang, dia senang melihatku menggunakan baju-baju yang cantik. tante ku yang selalu memelukku saat diBus, saat tiap 5 bulan sekali aku harus pulang balik Makassar-Malili berdua dengannya karena alasan Mama dan Papa kandungku merindukanku, dia yang memelukku saat aku kedinginan, dia yang mengambilkanku minuman jika aku kehausan. aku menjadi sosok anak yang sangat manja saat bersamanya.
   Saat gigi gerahamku sakit, dia memelukku, menidurkanku, dan memasukkan jarinya kemulutku, "Gigit saja, mudah-mudahhan sakitnya bisa redah" itu yang ia selalu katakan saat sakit gigiku meradang, dan membuat wajahku yang putih memerah menahan sakit.
    dia mama yang sempurna bagiku, dia selalu ada disampingku, memberikan apa yang kuinginkan. pernah satukali hal yang tak pernah kulupakan darinya, dan hal yang terus menjadi impianku kali sampai saat ini.
"kalo diatas panggung, goyangkan pinggulmu, berlenggoklah seolah-olah tak ada yang melihatmu, bergayalah sama seperti saat kau sedang bermain didepan cermin" ia menatapku, memberikanku keyakinan.
"banyak orang tante, dan sendal ini bikin sakit" keluhku padanya, aku sangat takut melihat orang-orang itu riuh, menyorak-nyorakkan sesuatu yang aku sendiri tak tahu.
"Jangan takut yah, tante ada disini kok? ok."
beberapa menit kemudian, saat dipanggung, kepalaku sakit, terlalu banyak orang yang menatapku, sekejap aku merasa tubuhku mengecil, disetiap langkahku aku berusaha mencari sosok tanteku yang terakhir kulihat dibelakang panggung, entah, aku tak dapat menemukan tanteku. aku lupa apa yang selanjutnya terjadi, kalo tidak salah, aku menangis diatas panggung. aku ketakutan.
beberapa menit kemudian ia menarikku, ia tak marah padaku, meskipun aku membuatnya malu.
"Gantilah sendalmu, jika memang itu manyakitkan" tangannya menyodorkan sendal lusuh berdebu yang beberapa bulan ini terus memeluk kakiku.
"Tifa, kalo diatas panggung jangan pernah nangis lagi yah, kamu cantik nak, bajumu juga cantik, semuanya cantik, kamu hanya ketakutan." tatapan itu lembut, tatapan yang kini membuatku merasa nyaman seetelah tadi demam panggung.
"Tante mau, kalo tifa besar, tifa jadi model yah? janji yah sama tante"

Yah, itulah katanya, kata wanita itu yang membuatku saat ini ingin terus menekuni dunia modeling. ia jelas sangat berbeda dengan ibuku, ibu kandungku bahkan tak menyadari potensiku apalagi berniat mengembangkannya. itulah alasan mengapa sampai saat ini, nama beliau, orang itu, wanita itu, selalu tersimpan dan memiliki tempat special dihatiku.


1 january 2013

"Rusmini Hakim Saka :D, Happy birthday tante. apa kabarnya tante sekarang? baik-baik saja kan? bagaimana dengan 2 malaikat kecil disampingnya tante? malaikat kecil yang lahir dari rahim tante? apa mereka baik-baik saja? tante? kalo tante sendiri gimana? apakah tante senang disana? ataukah tante masih sering menangis? apakah orang-orang disana masih sering menyiksa batin tante? tante ayoolah jika memang tante tidak bahagia disana, ku mohon, pulanglahh!! kesini. keMakassar!! bawa malaikatmu bersamamu, kami keluargamu dimakassar akan menerimamu dengan senang hati!! ku mohon pulanglah, kami mengkhawatirkanmu!"

  beberapa tahun yang lalu, tanteku memutuskan untuk menikah dengan seorang pria asal sulawesi barat. dan setelahnya hidupnya berubah, penuh tekanan. yah, tanteku memang hidup dengan suami yang kaya raya, pemilik SPBU Campalagiang. tapi sayangnya, keluarga disana sudah termakan oleh harta, mereka gelap mata, mereka akan saling menjatuhkan demi mendapatkan harta warisan, dan sebagai laki-laki tertua, suaminya cukup mendapatkan jatah yang menggiurkan, yang membuat posisi tanteku semakin ingin dijatuhkan. yah, hanya untuk harta.
main santet, untuk saling merusak, mengadu domba dalam usahanya mendapatkan harta yang lebih banyak.
pernah pula hatiku miris mendengarkan percakap tanteku dan mama via telephone.
"Deng Aji, lebih baik ka makan garam sama nasi' setiap hari dari pada tinggalka dirumah yang besarnya minta ampun tapi menyiksa bahkan lebih dari penjara"
bayangkan saja, seumur pernikahan mereka, yang mungkin sudah sekitar 7 tahun, tante ku hanya bisa ke Makassar saat dia hendak melahirkan. sisanya, tak boleh. itupun ia menetap hanya 1 bulan, setelahnya hengkang lagi kedalam penjara emas.
"Ia nak, disana tidak ada mall, yang ada cuma pasar" itu katanya.
pernah pula ku dengan kegerahan mamaku "bisa-bisanya, dia memiliki anak yang sangat cantik dan menggemaskan, kita saja yang dimakassar baru liat foto sudah gemas menggendong, tapi dia? ayahnya? malah tak punya waktu untuk menggendong anaknya sendiri!"

tante? jika memang kau teriksa disana? pulanglah kemari!! aku bersedia berbagi kamar denganmu. aku mohon, bahkan kami dimakassar belum sempat mengucapakan selamat ulang tahun padamu, karena HPmu tak pernah aktif lagi belakangan ini.

Apa yang sedang terjadi sebenarnya disana?
dan sudah seberapa sering kau menangis tante?
apa yang kau pertahankan dari orang-orang seperti mereka?
ku mohon jangan siksa dirimu.
jangan mati konyol bersama mereka!! kau perlu bahagia!!
dan kau bisa bahagia tanpa harus bersama mereka.
kami disini merindukanmu, dan mengkhawatirkanmu! sekali lagi Happy Birthday!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar