Senin, 18 Maret 2013

IKRAR

"Aku akan pergi, berjanjilah satu hal padaku, hal yang akan kau genggam selama kita jauh" Kataku pada gadis pirang dihadapan. "Aku berjanji akan setia padamu, saat dekat maupun saat jauh dari pandangan matamu" Bibirnya mengulas sebuah senyum.
"Apa yang menjadi peganganku untuk janjimu?"  Mataku menatap lurus mata hitamnya
"Aku bersedia menandatangani Hitam diatas putih demi keyakinanmu atas ikrarku" tegasnya
Yah, aku akan mengenyam pendidikan diluar Makassar, dalam kurun waktu tiga sampai dengan 4 tahun. Hatiku telah tertambat olehnya, besar keyakinanku mempersunting gadis yang sudah dua tahun menghiasi hariku. Ainun Rahma namanya.
"Aku akan pegang ikrarmu, kelak jika aku kembali menginjakkan kakiku dipulau Pantai Losari ini, Harapku, kau masih tetap setia pada cintaku" Tangan kami saling menggenggam, menyimbolkan kuatnya ikatan cinta yang telah terbentuk.

***

Semangat yang membara telah membakar tubuhku. hari yang kunanti telah tiba, Hari dimana semua penantian cintaku akan kulabuhkan, hari dimana aku akan mengenakan cincin pada jari manis wanita pilihanku.
"Halo Tria " Sapa ku diujung telephone
"Halo Bara, sudah siap menginjak kota makassar kembali? setelah sekian lama kau berkutat dikota pelajar?"
"Sangat siap tentunya, Aku merindukan pujaan hatiku, Ainun."
"Ainun? Ainun Rahma? bukannya dia telah dipersunting Bayu setahun yang lalu?"
"Apa kau serius dengan ucapanmu?
"Yah, aku masih menyimpan undangannya"
"Setibaku di bandara, aku akan langsung menemuimu" ucapku lalu memutuskan sambungan telephone.

***

 "Aku telah lama menantimu, kenapa kau tak mengabari kepulanganmu, aku seharusnya menjemputmu dibandara" Cerocosku pada pria yang kucintai.
"Pantaskah kau menjemputku dibandara?" tanyanya dengan nada ketus.
"Apa maksudmu, kau kekasihku yang telah lama kunanti kepulangannya"
"Kekasihmu? apa kau yakin?" Bibirnya tersungging licik.
"yah, Kau kekasihku" jawabku polos
"Bagaimana kau menjelaskan undangan pernikahan ini? ini jelas tertulis namamu!" Tatapannya berubah nanar.

***

Hatiku dibelenggu amarah besar, tak pernah kubayangkan sosok yang kupilih menjadi calon istriku kini telah dipersunting pria lain tanpa sepengetahuanku. Terlebih pada Ainun yang bungkam atas kejadian ini.
Entah harus kulampiaskan dengan apa amarahku.
Tria yang mengabariku hanya bisa tertunduk lesu harus menceritakan yang sebenarnya padaku.
Aku resah, seluruh darah terpompa sangat cepat dihadapanku.
Tak pernah ku sangka perjanjian Hitam diatas putih  yang ia buat empat tahun yang lalu berujung kelam dalam kehidupanku.
lututku tak mampu menopang berat tubuhku, aku tersimpuh lungkai.
 hal yang menyakitkan selanjutnya adalah Ainun berlaga tak tahu menahu atas pernikahan yang ia telah jalani, tak ada sesiratpun rasa bersalah dimatanya.
"Bagaimana kau menjelaskan undangan pernikahan ini? ini jelas tertulis namamu!" gertakku pada Ainun. seluruh tubuhku muak bersabar menanti penjelasan dari bibir mungilnya.
Ainun hanya terdiam terpaku melihat undangan yang kulemparkan diatas meja kayu ruang tamu rumahnya.
"Kau dihasuti setan apa? kebimbangan apa yang telah melandamu?" jawab Ainun dengan tatapan kosong tanpa rasa bersalah.
"Kau telah dipersunting pria lain! kau tak memberitahuku dan kini kau menatapku tanpa rasa bersalah" Mataku nanar dibakar emosi yang kian menyulut.
"Hei, Bara Raharja sadarkah kau. Mempelai wanita diundangan ini hanya memiliki nama yang sama denganku, apakah kau menyadarinya, tak tercantum nama kedua orang tuaku diundangan ini sebagai kedua mempelai" Bibirnya tersunging.
"..." Aku tak berkutik
"Sayang, aku disini, tak pernah melanggar ikrarku padamu, Aku terus setia saat dekat maupun jauh dari pandangan matamu" Ainun tersenyum.
Semuanya terjawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar