Kamis, 21 Maret 2013

Izinkan aku bersamanya

" Dek, kamu bicara sama boneka yah? Inikan boneka cewe, kok kamu panggilnya pak sih? " Tanyaku pada gadis kecil dihadapku.
" aku ngak bicara ma boneka ku kok ma, Aku malah bicara sama paman yang dibelakang mama!" aku menengok kebelakang. tak ada seorangpun kudapati, hanyalah segelinciran anak seusinya, tak ada sosok lelaki paruh baya.
" Disini hanya ada mama dan kamu sayang. ngak ada paman satupun didekat mama. "
" Ada ma, itu pake baju polisi debelakangnya mama. dari tadi dia ngikutin kita kok."
Deggh..
Jantungku seolah berhenti, tubuhku mematung. otakku berputar mencari akal. berfikir melayang-layang.

" Siapa yang kau lihat nak? " Gertakku dalam hati.
" Ayo nak, kita pulang yuk, Taman bermainnya sudah mau tutup. " jelas saja aku berbohong, mengingat jam tangan masih menunjuk pukul tiga, taman bermain tutup dua jam kemudian.
" Iya ma, aku juga udah capek. Mama ngak pamitan ma om polisi dulu ma? " Tanya Shinelyku.
" Ngak ada waktu nak, Ayo kita pergi. " Dalam satu hentakan, aku menggendong Shine.

Aku sangat ketakutan. keringat dingin mengucur deras dari dalam bajuku.
 "Tubuhku bergetar. Makhluk apa yang mengganggumu tadi nak?"
Tuhan, ku mohon, jaga aku dan anakku.

***

" Taman itu harus di tutup! " Cerocoh Pearlt padaku
" Apa memang ada history keramat dibalik taman bermain belakang rumah Pearlt? " tanyaku pada kakak Shine.
" Entahlah ma, Pearlt juga ngak tau, tapi semestinya kalo keramat kan ngak usah dijadiin taman, Kasian dede' kecil kayak Shine kalo digangguin terus sama makhluk aneh. "
" Ngak bisa gitu juga dong, kita ngak punya hak menjudge kayak gitu. udah. udah, yang jelas Shinely ngak boleh lagi nginjak taman itu! " Tegasku.
" Shine dimana ma? "
" Entahlah sepertinya dikamar. " Jawabku singkat.

***
Shinely adalah anak bungsuku.
Aku bukanlah orang yang hebat melainkan hanyalah seorang single parent, Ayahnya Abdi Bara meninggal tiga tahun yang lalu, tepat saat Shine masih berusia lima bulan.
Masih sangat kecil.
Shine tak pernah bertemu dengan ayahnya.
Tugasku adalah mengurus Shinely dan Pearlt.
Pearlt Anak pertamaku, dia tak kalah manis. Dia yang selalu membantuku menjaga Shine, Dirumah Pearlt kaki tanganku.
Mereka berdua adalah intan dalam hidupku, mereka spirit bagiku, Tanpa mereka aku hanyalah sampah.
aku tak berarti apa-apa.

" Mamaaa! " Pearlt menepuk pundakku.
" Ada apa sayang? " tanyaku
" Shine berbicara sendiri, dikamarnya. "
" Apa? "
Degh.. tubuhku bergetar untuk kesekian kalinya. aku mematung lagi.
" Tuhan kumohon jaga anakku, jangan sakiti kami. " Runtuk do'aku dalam cemas.

***
" Shine, kau berbicara dengan siapa nak ? " tanyaku dengan nada terendah
" Hanya pak polisi yang kemarin mama, Dia mengajakku untuk bermain, dia berjanji akan mengajakku berkemah besok. bolehkan ma? " Shine tersenyum tanpa beban.
" Apa? bukannya kamu harus ikut dengan mama kepasar besok? Kamu ngak boleh pergi bareng pak polisi, kau telah berjanji menemani mama. anak manis tidak akan melanggar janjinya. " Ucapku panjang akal. Aku hanya tak ingin anakku dihantui entah dengan makhluk tak kasat mata, atau dengan imajinasinya sendiri.
Aku berharap pak polisi itu hanyalah imajinasinya.
" Baiklah, aku akan ikut dengan mama, Shine yakin pak polisi akan ngerti kok, kenapa Shine ngak ikut berkemah dengannya. " Shinelyku tersenyum.
Aku membuang nafas, untuk besok, Shienku masih selamat.

***
" Mama, Sebenarnya siapa pak polisi yang dimaksud oleh Shine? " Tanya pearlt.
" Mama juga tak tahu, mungkin hanyalah imaginasi Shine saja sayang. " Ucapku berusaha menyakinkan.
" Tapi apakah ada kemungkinan itu makhluk astral ma? " Matanya sendu dan ketakutan.
" Mama lebih berharap pak polisi itu hanyalah imaginasi Shine. " jawabku singkat.
Aku benar-benar takut saat ini.
Didunia ini hanyalah Shine yang kupunya.

***
" Mama, apakah papa itu masih hidup? " Tanya Shine dalam pangkuanku.
" Tidak nak, papa kamu udah melayang menelusuri langit yang tinggi. " jawabku.
" Lalu kenapa mama tidak ikut bersamanya? mengapa mama tinggal dibumi, bukannya suami istri itu selalu saling bersama? " Tanyanya polos.
"  Jikalau mama pergi, siapa yang menjaga Shine dan kak Pearlt? "
" Aku yang akan jaga kak Pearlt " Jawabnya tegas
" Lalu siapa yang menjagamu? " Tanyaku
" Pak polisi! " jawabnya tanpa beban sama sekali.
Deggh..
Jantungku berhenti berdetak seketika.

***

Tuhan, aku mengutuk diriku, entah apa yang harus kulakukan saat ini, bayangan apa yang sebenarnya mengganggu Shine? Siapa yang selama ini mengikuti langkah Shine? Siapa pak polisi yang dimaksud oleh Shine?
Hatiku miris, Aku sedih, semua pertanyaan itu sama sekali tak bisa kujawab.

" Mmaaaaaaaaaaamaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!! " Panggil Pearlt dengan suara yang sangat lantang.
Aku berlari sekuat tenaga menuju arah suara. aku berhenti tepat dipagar rumah yang berhadapan dengan ruas jalan raya.
" Shine nyaris tertabrak mobil ma! Aku melihatnya, tinggal sejengkal lagi kita akan kehilangannya. "
Hatiku hancur mendengarnya. rasanya aku nyaris turut ikut membunuh diri ini.
Aku tak sanggup hidup tanpa Shine dan pearlt.

" Shineeee " Sahutku lunglai sambil memeluknya saat dia berdiri dihadapan.
" Apa yang tengah kau lakukan ditengah jalan nak? " tanyaku lembut tak ingin melukainya.
" Aku ingin membeli permen ma, dipinggir jalan. " Jawabnya singkat
" Kau tahu? Mama nyaris kehilanganmu. Kau nyaris tertabrak! " Jelasku padanya.
" Benarkah? oh  untungnya tadi pak polisi memanggilku menyuruhku berlari kearahnya. Ma, Pak polisi itu menyelamatkanku. "

Deggh..
Aku memantung untuk kesekian kalinya.
Tubuhku tak mampu berkutik.
Tubuhku basah oleh keringat.
" Siapa kau sang polisi? Jelas kau bukanlah bayangan imaginasi Shine. " runtukku dalam hati.

***

" Pearlt, menurutmu? siapa polisi yang dimaksud Shine? " tanyaku
" Entahlah ma, Aku tak melihat siapapun tadi yang memanggil Shine saat nyaris tertabrak. "
Aku dan Pearlt terdiam sesaat.
Hingga setelah lima menit, pearlt angkat bicara.
" bukankah? papa seorang polisi ma? Maksudku Mantan polisi. Apakah ayah yang dimaksud pearlt?"

***

Perlahan tangaku membuka album biru kecil yang menjadi kenaganku bersamanya, Bara, Suamiku yang telah berhijrah alam.
Halaman demi halaman kujelajahi, lembar gambar demi gambar kutatapi.
Airmataku berlinang, aku merindukanmu Bara.
Aku mencintaimu. Meski kau telah tiada, aku tetap setia bersama anak-anakmu.
Sebuah kertas putih jatuh dari selipan album.

" Aku mencintaimu, hingga tarikan hafas terakhirku.
Aku mempersuntingmu karena kuyakin kaulah wanitaku.
kaulah yang bersedia membesarkan anak kita dengan penuh kasih sayang.
Cristy.. 
Cintaku..
Istriku..
Jika kelak aku pergi mendahuluimu.
Berpetualang dialam yang kekal.
Izinkan aku tetap bersamamu, 
izin kan aku tetap dekat dengan anak kita.

Aku mencintaimu" 

benar, kau bukanlah imaginasi Shine!
Yah, terima kasih Bara, Kau masih hidup ditengah kami.
Kelak.. kita akan bersatu kembali.

5 komentar:

  1. Wah, horor ya? Menarik ni, bisa dikembangkan lagi..seru2..suka dengan ide ceritanya. Meski horor, endingnya terasa mengharukan juga :)

    BalasHapus
  2. beuuhh... teharu ka :'( bikin yang lebihh bagus lagi tifa (y)

    BalasHapus
  3. keren...
    semangat menulis dek :)

    BalasHapus
  4. " aku ngak bicara ma boneka ku kok ma, Aku malah bicara sama paman yang dibelakang mama!" aku menengok kebelakang. tak ada seorangpun kudapati, hanyalah segelinciran anak seusinya, tak ada sosok lelaki paruh baya.

    dialog Shine dengan paragraf yang menerangkan gerakan Christy sebaiknya jangan disambung. ambigu jadinya. aku sampe baca dua kli tadi karena gak ngerti bagian ini.

    masih banyak typo sayang, EYDnya diperbaiki yah :D

    untuk kosakata gertak,runtuk,dan hentak kayaknya penempatannya gak pas.

    runtuk apa artinya?
    gertak itu kan membentak dengan nada mengancam, gak pas kalo kalimatnya 'Gertakku dalam hati.' karena predikat gertak mengharuskan ada obyek sasaran, misal: "Kamu berani sama aku Vera?" kataku Menggertak.

    untuk kata runtuk bisa diganti rintih, atau lirihku dalam hati.

    ide ceritanya bagus banget. endingnya klo bisa dibikin lebih touching lagi.


    good job dear :D

    BalasHapus
  5. kak El : Wahh,, alhamdulillah banyak dapat masukan nih dari kak El :D,
    Jangan bosan2 kritikin karya tifa yah kakak :D
    Makasih untuk masukannya, tifa bakal pelajarin lbih giat lagi :D

    BalasHapus