Jumat, 22 Maret 2013

Mentari tak bercahaya

Oleh : Nurul Latifah Nurdin

Cahaya putih tak kasat mata terus memata-matai
Mengintai kehidupannya
Tubuhnya semakin lemas
Merindukan figur ibu dan ayah yang tak pernah ia temui
Hidupnya sebatang kara
Dihimpit kejamnya dunia fana
Kelaparan selalu melanda
Dingin selalu memeluk
Tak pernah mampu berfoya-foya
Dicengkram kehidupan yang miskin

Ditendang masyarakat konglomerat
Dihina teman sebayanya
Kulitnya terbakar matahari
Tubuhnya penuh luka dan goresan
Pipinya tak pernah kering oleh tangisan
Hatinya merindu sosok yang tak pernah ia temui
Teriakan kesengsaraannya tak pernah dihiraukan
Tak satupun penginapan yang menerima
Kardus tipis alas peristirahatannya

Dingin, terik, dan lembab bukan lagi masalah
Tubuhnya tak peka lagi
Mengemis pilihansatu-satunya
Tak ada tempat hangat lagi yang bersedia memeluknya
Kakinya telanjang tak beralas menginjak aspal
Sendirian ditempat yang maha luas
Menyisir jalan tapak kehidupan pahit
Senyumnya lambaian perpisahan

Kini hari terakhirnya
Malaikat telah memanggilnya
Tertidur dibawah dahan yang kering kerontang
Lambung yang habis terkikis asam lambung
Matahari menyengat kulitnya
Raganya menyebrang dunia
Bersiap bertemu sosok yang ia rindukan
Menelusuri dunia yang lebih luas lagi
Tanpa kesengsaraan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar