Minggu, 17 Maret 2013

Peri kecil

Teruntuk pada semua kenangan pahitku dimasa lalu, kumohon jangan pernah hadir lagi dalam kehidupanku, jangan pernah menampakkan luka lamaku, kumohon jangan buat aku terus saja merasa bersalah.
Tubuhku bergetar berharap simfony-simfony masa lalu tak pernah lagi menghantuiku, mendatangiku, mengingatkanku pada kenangan pahit yang selalu membuatku merasa bersalah.
Sebuah penyakit hati yang membuatku selalu tak berani menatap lurus mata kedua orang tuaku.
Sebuah siksaan yang selalu hadir dalam mimpiku.
Sebuah alunan lagu menakutkan yang selalu terngiang keras ditelingaku.
***
Alunan lagu tak bersyair milik Kenny G mengalun lembut ditelingaku, banyangan masa lalu itu tak lupa pula absen dalam ingatanku.
Aku mengerang sekuat tenaga berharap bayangan masa lalu itu menghilang ketika mendengar teriakanku, namun aku salah, eranganku tak berarti apa-apa bagi bayangan masa lalu itu.
Bayangan itu masih berputar hebat dikepalaku.
Bayangan yang menghadirkan kerinduan, kesakitan, luka pilu masa lalu.
Sosokku yang lemah kini bertambah lemah dengan batinku yang merana.
***
Aku mengutuk diriku, semua kebodohanku, semua ketololanku! tubuhku geram.
dan terus bertanya "Mengapa aku begitu bodoh? mengapa aku begitu tega?" aku hanya bisa berharap waktu bisa diulang kembali, agar aku tak dihantui rasa bersalah sehebat ini.
Aku telah menghancurkan impian kedua orang tuaku, kugoreskan luka dalam hati mereka, kubanting semua harapannya.
Kuleburkan semua tawanya, kuganti dengan tangisan yang terus mengalir dikedua pipi tirus mereka.
***
Jam tangan biru yang melingkari tanganku kini menunjukkan waktu dimana matahari berada tepat diatas kepala manusia, kutarik dengan satu hentakan lembut sebuah jaket kelabu yang tengah tergantung rapi dilemari kayu jati.
Perlahan namun pasti kulangkahkan kakiku menuju tempat dimana kerinduanku terkubur.
Semakin dekat dengan posisi masa laluku, semakin pilu pula hatiku.
Pisau tajam seolah menggores perlahan hatiku yang tak berbaju.
Air mataku berlinang tanpa bisa kuhentikan, mataku menatap sayu sebuah nisan.
Nisan terkuburnya kerinduanku, Nisan bayi mungil yang meninggal dalam pelukanku.
Andaikan saat itu aku tak meninggalkan adik bayi ini sendirian diatas ranjang yang cukup tinggi, pastinya kini ia telah menjadi gadis kecil yang sangat cantik.
"Adikku, Maafkan aku, Maafkan aku yang telah menjadi kakak yang buruk untukmu.
Karenaku kau tak bisa berlama-lama melihat bumi ini" tubuhku bergetar penyesalan terbesar dalam diriku menggerogoti tubuhku, mengalir dalam tulangku, meremukkan jantungku.
"Jika tuhan mengizinkan, aku bersedia bertukar tempat denganmu." ucapku tulus pada bayangan putih yang sedari tadi menatapku dari kejauhan, besar keyakinanku bahwa itu adalah adikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar