Jumat, 15 Maret 2013

Siapa kau? Tunjukan dirimu!

Langkakhku sempoyongan menuju loker dibagian barat sekolah.
"kumohon kali ini kau tak usah lagi emnampakkan diri dihadapanku" Gerutuku dalam hati.
Berharap tak melihat penampakan amplop pink bergambar tulip biru yang selalu bersemanyam diloker bernomor 207 milikku.
Tara!!
Mataku membelalak, tubuhku lemas, dan surat itulah biang kejengkelanku.
dalam satu hentakan keras. Aku membanting pintu loker!
"Lo kenapa sih? jangan-jangan karena tuh surat lagi? " Tanya Linata
"Iya, Lin. Capek sendiri dihantuin sepucuk surat tiap minggunya" keluhku
"Belum ada titik terang siapa pengirimnya"
"Belum ada sama sekali!" Aku dan Linata berlalu meninggalkan ruang loker.
Sudah sekitar satu bulan tanpa pernah alpa, Lokerku selalu dikirimi sepucuk surat. isinya bukanlah sebuah surat cinta. namun lebih menjurus pada terorisme.
Aku selalu resah setiap menjelang hari sabtu, hari dimana surat itu bertengger dilokerku.
***

"Menurut loh? cewe atau cowo?" tanya Linata saat dikelas, kami duduk berdampingan.
"Ngak tau juga sih, Pengirim itu udah ngak penting bagi gue!" gerutuku
"Loh? Elo nga penasaran emang?"
"Gue capek penasaran Linata" Tegasku
Apa pengirimnya berharap sosok Tania akan menggunakan kacamata hitam, membawa catatan kecil dan berlagak seperti detektif membongkar semua jejak-jejak hitam si pengirim misterius.
ngak mungkin!!
Walaupun sebenarnya dalam lubuh hatiku, aku ingin mencekik si pengirim surat itu!

***

"Apa surat itu bakal nangkring lagi diloker lu Tiana?"
"Ngak deh, emang penting yah?" jawabku sinis
"Gue penasaran sama pengirim suratnya, tapi elu acuh gitu, idih. ehh ini sudah bulan ke-duakan suratnya setia dikirimin?" tanya Linata
"Iya" jawabku acuh

Mataku terbelalak, kali ini surat yang ku cari tak ada lagi.
Entah aku ingin berteriak kegirangan ataukah sedih, aku sendiri bingung.
"Suratnya nga ada, Linata" Aduhku
"Hah? kok bisa?"
"Entahlah, mungkin Alpa kali yah"
Dalam sekejap lampu ruang loker padam.

"Loh? ada apa ini?" Tanya Linata.
"Ngak tau juga Lin." Tangan Linata mencekram bahuku, seperti Linata sangat ketakutan.
Aku dan Linata sejenak mendengar suara berat ada disekeliling kami, bulu kudukku merinding.
Aku yang berani perlahan menjadi takut saat menghadapi suasana mencengkram seperti ini.
Linata memeluk bahuku, Rupanya ia sangat ketakutan hanya akulah yang ia miliki saat ini.

***
"Maaf yah, Pake acara matiin-matiin  lampu" tawanya memenuhi seisi ruangan
"Ahhh. kok bisa ada disini sih kakak?" tanyaku dengan mata berbinar
"Aku sudah lama memata-mataimu dek, dan yang mengirim semua surat itu adalah aku" Bibirnya tersenyum
"Tapi kenapa kak menerorku?" tanyaku lembut
"Hey, adik kecil ingatkah kau, kau pernah bercerita padaku, kau ingin menjadi detectif conan? apa kau lupa?"

***
Sudah terjawab semuanya, Pengirim suratnya adalah Pradipta, Teman masa kecilku saat kelas 3 SD. kini dia telah kembali ke Tengerang.
"Aku merindukanmu, itulah alasanku pulang ke Tangerang"
Aku mengingat, semasa kami nonton detectif conan bersama, aku pernah berangan ingin mengikuti jejak-jejak misterius, dan dalam usahanya mengejutkanku untuk hadiah kedatangannya, dia memasang skenario surat misterius ini.
"Maaf yah kakak, Aku gagal karena ngak ngikutin prosedur yang berlaku"
"Heh, bukan kok dek, aku yang gagal mengenali keinginanmu"
Ada rasa menyesal sebenarnya tak mengikuti cara main kak Pradipta, karena jujur saja dari dulu sampai saat ini, aku menyimpan rasa pada kak Pradipta.



2 komentar: