Senin, 11 Maret 2013

TELAGA CINTA YANG SESUNGGUHNYA

"Bunda Telaga itu apa?" tanya Arifah pada wanita yang sedari tadi menyisir rambutnya.
"Telaga adalah semacam danau yang kecil dimana sinar Matahari bahkan dapat mencapai dasarnya." Jawab sang ibu dengan suara yang lembut.
"Apa Telaga itu indah bunda?" matanya bersinar penasaran
"Telaga itu seindah binar mata diwajahmu Arifah, anakku sayang" kata bunda diikuti pelukan hangat.
***
Keindahan telaga benar terpancar dimata Arifah yang berwarna cokelat lembut. membuat orang-orang terdekatnya iri padanya. Arifah tak pernah luput bersyukur atas keindahan yang dimilikinya.

Mata Arifah yang bening dan selalu bersinar, putih bersih tanpa garis merah dengan bola mata yang berukuran cukup besar. Matanya memang sangat indah.
Semakin menua usia ibunya, semakin kuat pula keindahan yang dipancarkan dari mata Arifah, Keriput diwajah ibunya menambah pekat warna cokelat muda dimata Arifah.

"Ibu kini tak membutuhkan kecantikan nak, semua itu harus menjadi milikmu"
"Aku tak membutuhkan kecantikan ibu, itu hanya membuat orang-orang iri kepadaku"
"Tetaplah bersyukur nak, hargailah kecantikan ini sebagai warisan dari ibumu" ibuku menatap lurus mata Arifah.
"Untuk apa kecantikan ini bu?" tanya Arifah menegaskan.
"Dengan kecantikan ini aku bisa memilih siapapun pendamping hidupmu" ibunya tersenyum.
***
Kini Arifah semakin saja bertambah cantik setelah sepeninggalan ibunya.
namun dalam kurun waktu lima bulan sepeninggalan ibunya Arifah kehilangan Asa, bagian dalam dirinya sangat merindukan sang ibu yang selalu mendekap hangat tubuhnya. dirinya merindukan tangan halus yang selalu membelai rambutnya. merindukan sosok hebat yang selalu menasehatinya. merindukan mata sanyu yang selalu menatap lurus matanya.
Arifah juga diburu kebimbangan disaat banyak pria kaya dan hebat yang mengejar-ngejar cintanya.
"Mereka hanya mencintai kecantikan yang kumiliki" Simpul Arifah dalam renungannya.
Air matanya berlinang, mengucur dengan sangat deras hingga mampu membentuk Muara kecil diwajahnya.
Kecantikanku bukanlah hal yang berharga, yang kubutuhkan adalah orang-orang yang mencintaiku karena kekuranganku, dan menerima kelebihanku. seperti cinta Ibu kepadaku.
Bukan cinta yang mencintai kecantikanku dan menerima kekuranganku seperti yang pria-pria itu lakukan padaku.
Arifah tak pernah lagi mengharapkan kecantikannya, hatinya terpatri akan kerinduan pada sang ibu. Sosok Telaga cinta yang sesungguhnya.

1 komentar: