Kamis, 04 April 2013

"Sabrina"

" Mama? apakah peri itu ada? " Teresha menanyakannya dengan polos. Ditarik-tariknya bawahan baju Dress cream sang ibu.
" Apa maksudmu nak ? " Umpan balik dari sang ibu diikuti tata-pan lembut.
" Apa mama yakin peri itu ada? " Ulang teresha diikuti sunggingan senyum.
" Tidak, Kalo menurut Teresha? "
" Peri itu ada ma, Percayalah dia selalu menemaniku sebelum tidur. " Tegas Teresha
" Apa kamu yakin? " Tanya Fadlan yang sedari tadi mendengarkan percakapan ibu dan adiknya.
" Aku sangat yakin!" Teresha memancarkan mata yakin

Dari kejauhan Sabrina hanya diam. Entah apa yang bisa ia lakukan saat ini, hanya mampu mengamati.

***

" Siapa peri yang kau maksud Teresha? " Gumam Fadlan dalam hatinya.
" Entah, aku mulai gila atau bagaimana, besar dalam hatiku, aku sangat meyakini perkataan Teresha? Lalu? dalam bentuk apa peri yang di maksud Teresha? " Renung Fadlan dibalik redupnya lampu kamar bernuansa mobil  balap.

Melintas cepat cahaya kecil bak laser berwarna kuning dihadapan matanya.
Sabrina berusaha menampakkan diri.

***

" Kenapa? " Tanya Sabrina pada cermin dihadapannya.
" Kenapa aku menyukai dan peduli terhadap Fadlan? Tugasku hanyalah untuk mencintai Teresha!"
Ada keganjalan yang selama ini terus menganggu hati Sabrina, Perasaan gelisa jika tak menatap wajah Fadlan, Perasaan sedih jika tak menengok keberadaan Fadlan.
Perasaan apa yang sebenarnya mengikutinya?
Perasaan aneh apa yang kini ia rasakan?
Sabrina terduduk layu diatas lemari rias.

" Aku tak ingin menjadi manusia! aku lelah! aku sama sekali tak mencintai siapapun dimuka bumi ini! " Gerutuku dalam Do'a
Bayangan kuningpun perlahan menghampiriku.
Panasaran, takut menggerogoti tubuhku. Cahaya itu berbicara padaku.
" Kau bisa menjadi peri, Kau tak perlu mencintai untuk menjadi peri, kau hanya perlu menjaga anak kecil, tak seperti manusia yang harus belajar dan berbakti pada orang tua. Tugasmu sebagai peri sungguh jauh lebih mudah! kau hanya perlu memegang cahayaku, dalam sekejap kau akan meninggalkan ragamu! "

Aku mengikutinya, Aku bertransformasi menjadi peri, Aku diutus untuk menjaga Teresha.
Menemaninya tidur.
Membacakannya dongeng fantasi untuk melatih imaginasinya.
Tapi kenapa aku mulai menyesali keputusanku?
Apakah ini alasan aku tetap ingin bersama Teresha, sementara peri yang lain sudah ribuan kali berganti anak asuh?
sedangkan aku setia bersama Teresha?

Apakah karena kamu Fadlan?
Apakah aku telah jatuh cinta padamu?
Apakah aku mencintaimu?

Ahh.. Andai aku masih bersama ragaku, akanku buat kau takluk akan cintaku.
Namun? Aku hanyalah sebuah jiwa.
bahkan sangat rapuh untuk kau lihat.
Sabrina mengepakkan sayapnya, Meninggalkan Teresha yang telah tertidur pulas, menuju ruang istirahat Fadlan, menatap Fadlan hingga ia terbangun esok harinya. Kebiasaan Sabrina yang telah lama ia lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar