Selasa, 20 Agustus 2013

Catatan Harian, 20 Agustus 2013 "Pindrang"

Disaat bendera merah putih berkibar dengan indahnya. Hari yang Istimewa bagi jutaan penduduk indonesia. Aku sama sekali tak menaruh perhatian pada hari yang disebut hari kemerdekaan. Bagaimana saya bisa menyebut negara ini sudah merdeka? jika masih banyak masyarakatnya yang luntang lantung dan kehilangan Hak Asasi Manusia mereka.
Sudahlah, kita tinggalkan saja pembahasan akan negara yang tidak kunjung sejahtera ini.

Lima hari telah saya lewati dengan berat di Kantor Bank BTN cabang Makassar, bukan dengan hal yang mudah saya jalani, Ratusan anak tangga saya jamah tiap harinya, jelas saja bagi saya hari Sabtu dan Minggu adalah surga. tapi mendengarkan bahwa saya harus ikut keluarga bertanda kerumah keluarga di kampung dan bersiara kubur. Semua hasrat istirahatku hancur lebur digantikan kegelisahan.

Berat rasanya melangkahkan kakiku meninggalkan kasur, sangat berat. Aku menolak saja untuk pergi dengan alasan ada pertemuan disekolah dengan wali kelas, benar memang ada pertemuan dengan wali kelas tapi saya yakin tak sebegitu penting. Orang tua mengiakan kesibukanku, mengiakan untuk diriku tak harus ikut. Namun 20 menit sebelum orang tuaku berangkat hatiku berubah haluan. Dalam sekejap aku ingin ikut dan bersilaturahmi dengan keluargaku yang lain. Yang kupikirkan saat itu " Jika ikut dengan orangtuaku dapat menyenangkan hatinya yah berarti apapun alasannya aku harus ikut. "  . Beberapa menit kemudian aku sudah duduk di mobil.


Sepanjang perjalanan ku habiskan dengan tidur dan mengemil, tak ada kegiatan yang menyenangkan. aku mengutuk diri yang tidak tahu cara mengaktifkan ESIA luar kota untuk Blackberryku. uuhh, aku mendesah risau jengkel mengingat BBku CDMA.
Namun rasanya semua kegelisahan, semua kerusauan dan duka yang kudapatkan diawal terbayar setimpal dengan jutaan hal yang kupelajari.

Aku mengetahui banyak hal disana, mengenai keluargaku, dan mengenai dunia setelah kehidupan.

" ORANG YANG MENINGGAL, BUKAN BERARTI DILUPAKAN. "


Ini petikan salah satu cerita yang dapat merangkup hal paling berkesan selama perjalanannku.

( Cerita ini saya kutip dari cerita mulut ke mulut )

Diriku terbangun dalam tidur yang tak panjang, namun rasanya sangat melelahkan. Tidur yang membuat tubuhku kaku seketika dan merasa sangat lelah. Bukankah tidur itu bertujuan menghilangkan lelah? tapi tidur terlalu lama ternyata dapat menabah lelah. Tapi yang ganjil adalah aku baru tidur sekitar 5 menit.
Tubuhku tersintak mendapati diriku tidak lagi tidur diatas ranjang dan kasur putih, Kudapati diriku tertidur diatas tanah yang basah. Tanah berwarna merah kehitam-hitaman. Tanah yang erat dengan tanah kuburan.
Diriku terbelalak melihat sebuah nisan berdirih koko diatas kepalaku. Tubuhku membisu, Aku ingin berteriak tapi tak mampu. Aku ingin menjerit lebih tak mampu lagi. Rasanya aku hanyalah roh. Tunggu... " Apakah aku sudah mati? " Tanyaku pada diriku sendiri.

Mataku menerawang, Disini sangat penuh dengan kabut tipis tapi cukup untuk membuatmu sulit menerawang sekitar lima meter kedepan. Kau tau apa yang kudapati disini?.
Jutaan tubuh, yah tepatnya Sukma-Sukma mereka yang telah wafat.
Sukma-sukma itu terlihat saling berebut mengambil sejarik kertas yang menghilang begitu mereka sentuh.
"Kertas apa itu? " Tanyaku pada diriku sendiri untuk kesekian kalinya. Jutaan pertanyaanpun yang kulontarkan tak akan ada yang terjawab. Yah karena mulutku beku dan bisu, tak dapat mengulurkan sepatah katapun.
Tak puas aku melangkahkan kaki beberapa langkah lagi, mencoba mempelajari apa yang tengah kulihat.
Mataku membelalak melihat kejadian yang berbeda, Seorang Sukma tua duduk terdiam dibawah pohon tanpa berbuat apapun, tanpa ikut memperebutkan kertas. Kertas yang sama sekali tak kutahui apa fungsinya.
Aneh. Aneh dan Aneh.
Apa ynag kulihat ini memang jauh dari kewajaran.
disaat semua sukma sibuk berebut kertas? mengapa ia hanyalah duduk terdiam?.
Apa yang ia tunggu? apakah dia berharap akan adanya seseorang yang memberikan separuh kertasnya untuknya?

" Kau pasti mempertanyakan tingkahku yang berbeda dengan mereka? " Sang Sukma tua berbicara padaku. Aku hanya bisa mengangguk mengiakan. Sekali lagi aku tetap tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
" Kertas itu adalah Do'a dan salam yang dihanturkan manusia-manusia didunia. Mereka saling berebut demi mendapat tempat terbaik di hari pengadilan. Kuyakin pertanyaanmu, mengapa aku tak melakukan hal yang sama. Aku tak perlu melakukannya. Dikarenakan semua anakku tak pernah berhenti menghanturkan Do'a, Alfatihah dan salam untukku. Karena mer3eka tak berhenti mengingatku, mereka pula sering bertandang kesini. Mereka yang saling berebut Do'a dan salam adalah, Mereka yang terlupakan oleh keluarganya."
Aku tertegun, seluruh tubuhku gemetar.

***

Mungkin mereka yang telah meninggal tidak bisa lagi kau jamah, tidak bisa lagi kau sentuh. Tapi kau masih bisa bertandang pada Nisan mereka, menghanturkan Do'a pada mereka.
Mereka yang meninggal bukan berarti dilupakan kan?
Mereka yang meninggal selalu ada disekeliling kita mengharap tuk di Rindukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar