Jumat, 20 September 2013

Dibalik Jendela

Seluruh mata menyapu sosok tampan yang sedang bertengger indah diatas panggung. Gitar itu mengeluarkan alunan musik yang sangat bersahabat dengan telinga. Belum usai penampilannya seluruh penonton telah beradu tepuk hingga diakhir pembawaan ia tersenyum dan menunduk. Semua penonton berdiri, beradu tepuk, dan bersorak untuknya.
Tergambar senyum puas diujung wajahnya.

" Acara perpisahan ini, kau akhiri dengan indah. " ungkap Freya sebarunya menginjak tanah usai lepas panggung.
" Ah, kau ini. Rasanya hal seperti ini tak perlu dilebih-lebihkan. " langkahnya dipercepat meninggalkan Freya yang mengikutinya dibelakang.
" Ayolah, Al. Pertunjukan tadi itu luar biasa. Aku sampai terpukau, seluruh penonton standing applause untukmu. "
" Kalau memang benar begitu? Apakah kau memintaku untuk ikut berguling-guling merayakannya. Freya ini bukan acara perpisahan kita, kita cuma mengisi acara untuk senior. Jadi berhentilah bersikap berlebihan. "
" Baiklah. Terserah kau. " Freya terdiam. Namun, sosok pria itu berlalu dari hadapaannya. bahunya menghilang dibalik penonton.

" Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua. Aku tahu tak ada seorangpun yang bisa menghentikan langkahmu, Al. " batin Freya.

***

Langkahnya dipercepat, tak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang. Dalam benaknya, hanya ingin bertemu dengan gadis itu.
Ritme langkahnya pun memelan saat matanya menangkap rumah berpagar hitam minimalis diujung perempatan pertama dari sekolahnya. Sudah sejak enam bulan terakhir setiap pukul dua, sosok pria ini selalu melangkahkan kakinya kerumah itu. Namun, bukan untuk masuk kedalam dan makan siang. Tapi, menatap sesuatu dibalik jendela bagian kiri rumah berpagar hitam itu.
Alvero tertegun. Mencari sosok yang biasanya terlihat dibalik jendela berwarna kelabu itu.
Sudah sekitar dua puluh menit Alvero tetap berdiri disana. Sosok yang dicaripun tak kunjung muncul.
Hingga sejam kemudian sosok itu juga tak muncul.
Alvero tertunduk lesu. Langkahnya terasa berat kembali kesekolah.
untuk kesekian kalinya Alvero melirik kembali jendela itu. Tubuhnya mematung, lebih dari sepuluh menit sudah tubuhnya tak bergerak. Hanya dedaunan menguning yang beterbangan melewati sepatu sekolahnya yang berdebu.

Setelah puas, Alvero pun tersenyum sangat lebar dan melangkah meninggalkan rumah berpagar hitam itu dan mengambil ancang-ancang untuk kembali kesekolah.
Alvero sudah puas menatap gadis dibalik jendela kelabu itu. Gadis berkulit putih berambut pirang terkuncir yang selalu membuat hari-harinya tak membosankan.

***

" Kamu dari mana aja, Al? " tanya Freya.
" Aku ngak dicariin gurukan? atau kepsek atau senior kan? " tanya Al kembali.
" Tidak sama sekali. " jawab Freya.
" Ah, kalau begitu tak ada masalah. "
Freya terdiam sejenak. Matanya kembali menatap bahu Al yang menghilang dibalik baju seragam siswa-siswi lainnya. Freya tertunduk menatap rok birunya.
" Aku yang mencarimu, Al. " batinnya.

Sudah sejak lama Freya yang menjadi sahabat Alvero menyimpan perasaannya. Namun, sejak Alvero terpanah akan gadis dibalik jendela itu. Berbincang lama dengan Freya pun Alvero enggan.
Freya terus saja bertanya-tanya. Mengapa gadis itu sangat mudah membuat Alvero memperhatikannya. Tak seharipun Al luput menjenguknya disetiap pukul dua siang, sekalipun itu hari minggu, Paska ataupun hari raya Idhul Fitri. Tak ada kata libur bagi Alvero tuk memperhatikan sosok gadis dibalik jendela itu.

***

" Bagaimana rasanya setelah pindah disini, Sava? " tanya bunda Sava.
" Aku tak ingin pindah dari sini, Bunda. Aku betah menetap di Makassar. " jawabnya dengan mata berbinar.
" Sava, tidak kah kau berminat kembali bersekolah? "
" Tidak bunda, aku tak ingin mendengar rentetan cacian mereka. "
" Sava yakin ngak akan bosan dirumah terus? "
" Sama sekali tidak, bunda. "
Sava memutar arah kursi rodanya. berjalan sekitar tiga langkah. Kembali menatap jendela dikamarnya, jendela yang sedari tadi menampilkan gambar sosok pria seusianya.
" Siapapun kau, Terima kasih telah memberi warna tersendiri dikehidupanku sekarang. " batin Sava.

***

 Enam bulan yang lalu... 

" Freya, kamu kebiasaan lamban yah berjalan!. " cerocos Al
" Aduh sabar dong Al, kita baru makan siang tau! Perut penuh gini disuruh lari-lari! kamu gimana sih. ini masih jam dua tau! Pelajaran dimulai jam tiga! " jawab Freya dengan cetus.
" Oh, yah? jadi kau fikir tiga puluh menit cukup mengejar keterlambatan kita yang telat kerjain PR Biologi? " potong Al tak kalah cetus.
Alvero pun mempercepat langkanya meninggalkan Freya yang tergopoh-gopoh berlari.  Bangku peristirahatan taman pun dijadikan markas singkat peristirahatan Al sambil menunggu Freya.
Matanya menjamah taman dan rumah-rumah yang berbaris dihadapannya. Hingga akhirnya matanya terfokus pada sebuah jendela kelabu dirumah berpagar hitam.
Dengan setengah terbelalak matanya terus menatap seorang gadis yang tengah menguncir rambutnya.
Sampai-sampai Alvero tak mengindahkan Freya yang sedari tadi duduk disampingnya dan mengajaknya untuk kembali berlari menuju sekolah. Alvero hanya terpaku dan terbelalak seakan dunia ini berhenti berjalan. Hingga saat itu Alvero selalu rindu masa-masa dimana dirinya dan gadis cantik dibalik jendela itu membuatnya merasakan dunia milik berdua.
Alvero merasa ada sesuatu yang tertanam dalam hati dan pikirannya. Akan sosok gadis dibalik jendela.

***

" Din, Salahkah aku jikalau terus mencintai Al?" curhat Freya pada Dinda sepulang acara perpisahan kakak seniornya di sekolah.
" Sepertinya, Fre. Al sudah tak pernah menganggapmu ada. Al seperti terhipnotis akan gadis dibalik jendela itu. " ungakapnya diikuti dengan desah lelah
" Aku tak tahu, Din. Rasanya sulit melepas rasa ini. "
" Kau memilih melepasnya? atau membiarkan sakit ini berkelanjutan? " tanya Dinda.
" Baiklah, Aku harus melepasnya. " tegas Freya.

Kini Freya membiarkan Alvero tenggelam akan gadisnya. Hatinya sudah terlalu lelah diacuhkan oleh sosok Alvero.

***
Sepuluh tahun kemudian..

Alvero menatapaki jalan yang sudah bertahun-tahun tak pernah dilihatnya. Pohon-pohon yang berbaris rapi tergantikan dengan bangunan-bangunan kompleks yang gersang. Tak ada lagi angin yang memainkan ujung rambutnya. yang ada hanyalah teriknya matahari yang terasa dibalik jaket yang ia kenakan.
Taman tempatnya bermain kini terlihat dua kali lebih kecil tertelan bangunan perumahan.
Alvero tertegun " Akankah rumah itu masih ada ditempatnya? " batinnya.

Sudah sekitar sepuluh tahun Alvero meninggalkan Makassar demi pendidikan. Menjelang lulus SMP orangtuanya mengabarkan bahwa Alvero akan sekolah di Yogyakarta, kota pelajar. Tanpa persiapan apa-apa Alvero meninggalkan Makassar. Yah.. Tanpa, sepatah katapun untuk gadis dibalik jendelanya. Walaupun Alvero tau, tak sekalipun ia pernah berbicara pada gadis yang membuatnya berlari kencang menuju rumah berpagar hitam disetiap pukul dua siang.
Alvero menghirup udara yang tidak lagi menyegarkan pernafasan. Polusi telah menyebar disetiap tarikan nafasnya.
Dihari keduanya menginjak kota kelahirannya, Makassar. Alvero bertekat mencari gadis dibalik jendela itu.
Kini dia menelusuri jalan dengan mobilnya bukan lagi dengan berjalan kaki seperti masa kemarin. Alvero kini telah berpenghasilan sendiri. dirinya menyelesaikan SMA dan kuliah dengan cemerlang demi menjemput gadisnya dibalik jendela.

Mobilnya perlahan ia laju menuju SMP masa kecilnya. SMPN 18 MAKASSAR. Laju mobilnya diperlambat saat mendekati rumah yang selalu ia singgahi.
Alvero menarik nafasnya dalam-dalam. Turun dari kendaraan beroda empatnya. Rumah itu tidak lagi berpagar hitam, kini berwarna gold dengan bentuk seperti liukan sulur tanaman. Sungguh berbeda.

" Pak, Bisa numpang tanya? " tanya Alvero pada pria berbaju putih dengan topi bertuliskan, satpam.
" Tentu, Apa yang bisa saya bantu, dik? " tanya sang bapak diikuti senyum yang ramah.
" Begini pak, Sepuluh tahun lalu saya bertemu dengan sosok yang selalu saya lihat dibalik jendela kiri rumah ini. Apakah bapak mengenalnya? " tanyanya sesingkat mungkin.
" Maaf, dik. Saya kurang tahu. Saya juga baru bekerja disini sekitar lima tahun. Dan saya tidak tahu menahu kejadian sepuluh tahun yang lalu. Sunggu saya meminta maaf tak bisa membantu. "
Wajah Alvero berubah sangat murung. ia menjadi sangat terpuruk dan sedih. " Dimana kau? " batinnya.

Alvero memutar arah, kembali pada kendaraan beroda empat.
" Maaf, adik cari siapa yah? " tegur wanita berwajah lusuh dengan daster penuh debu dan sendal karet yang sudah terkikis bawahnya.
" Saya mencari seorang wanita seumuran saya yang pernah tinggal disini. " jawabnya.
" Apakah yang Adik maksud Neng Naila ? "
" Maaf, saya sama sekali tak mengetahui siapa namanya. Tapi, mungkin dialah orang yang selalu kulihat dibalik jendela ini. "
" Kalau begitu silahkan masuk, dik Neng Naila ada didalam "
Alvero tersenyum sumbringan serasa berhasil memenangkan lotre.

***

" Kamu kenapa Alvero? " tanya sosok wanita yang selalu memeluknya.
" Entahlah, Bunda. Aku sedang mencari gadisku. Tapi, sampai saat ini aku belum menemukannya. " jawabnya.
" Bersabarlah, Alvero. Tulang rusukmu bersamanya. Dia tak mungkin berada jauh darimu. " bunda mencoba mencairkan suasana hatiku.
" Ohh, iya. Tadi bunda nerima tamu. Namanya Freya katanya dia nyariin kamu. Tapi, dia sudah pulang sejam yang lalu. Begitu tahu kamu tidak ada dirumah. Freya langsung pulang. "
" Freya? " Alvero memutar memorinya. " Ada apa Freya mencariku, Bunda? "
" Entahlah. " bunda hanya mengerjitkan dahi dan mengangkat tangan.
" Bundaa.. " panggilnya
" iya sayang. "
" Aku telah bertandang kerumahnya. Rumah yang selalu membuatku bersemangat menjalani hari-hariku. Kukira ia masih tinggal disana, ternyata tidak. Yang kutemui hanyalah sosok seusiaku yang sama sekali tak mirip dengan gadis masa kecilku. Besar keyakinanku bahwa gadisku bukan Naila. " curahnya pada sang bunda.
" Bunda yakin. Kalian pasti akan bertemu, Al "

***

Alvero melajukan mobilnya begitu menerima sebuah pesan singkat diponselnya. Menuju sebuah cafe dijantung kota.
Alvero menatap sosok yang sudah sangat lama tak ia jumpai. Rasanya sangat ingin memeluk perempuan dihadapannya.
" Apa kabarnya kamu? " tanya perempuan itu.
" Aku baik, Kamu Freya? jujur saja aku merindukanmu. Sudah sangat lama rasanya. "
" iya, Sangat lama. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, Al "
" Tentu. " jawab Alvero sangat singkat.
" Kau tak berubah. "
" Maksudmu? " tanya Al kebingungan.
" Yah, Dulu aku pernah menyukaimu. Tapi, kau tak pernah melihatku apalagi mengetahui perasaanku. Kau telah menutup matamu untuk gadis dibalik jendela kelabu itu. "
" Apa? tau dari mana kau soal itu? " tanya Al yang penuh tanya dikepalanya.
" Sudahlah Al, Aku adalah pengagummu dulu. Aku tahu segala hal yang kau alami. Kau tak bisa pungkiri itu. " tegas Freya.
" Aku mencarinya, Freya. Aku pulang untuk mencarinya. "
" Aku tahu dia dimana, Al. " jawab Freya.

***

Alvero menatap lekat lima buku dihadapannya. Diantara ketiga buku itu jelas terpampang ' BEST SELLER '. Alvero menatap lekat ujung bawah cover buku. ' RIVKA SAVA ' penulis kelima buku tersebut. Semua buku itu berjenis novel, dengan judul yang selalu terselip menunggu.
buku pertama berjudulkan. ' Tatapan yang kutunggu', kedua 'Menunggu siang yang teduh', ketiga ' menunggumu'. keempat ' sinar yang membuatku bertahan menunggu'. dan terakhir. 'Rindu yang menunggu tuk diakhiri'.

Alvero hanya bisa menangis sejadi-jadinya saat mobilnya berhenti disebuah pemakaman. Yah, Gadisnya dibalik jendela sudah tiada. Gadis yang selama ini membuatnya bersemangat meraih cita-citanya untuk ia persunting sudah meninggal.
" Sejak kau pergi meninggalkan Makassar, Aku yang menjadi penerusmu. Melihat gadis itu disetiap pukul dua. Dia selalu mencarimu, Rasanya dia bosan dan kebingungan melihatku yang menggantikan posisimu. Setelah lulus SMA. Aku tak pernah melihatnya lagi. Kuberanikan untuk bertandang kerumahnya mencari kebenaran yang tersimpan rapat-rapat itu. Akhirnya kuketahui, bahwa gadis itu adalah seorang disasibilitas yang menderita cacat kaki sebelah kiri. Ia harus menggunakan kursi roda. Kaki kirinya tak berdaging, hanya tulang dan kulit yang terlihat dikaki kirinya. Dan saat kedatanganku di hari itu pula ia dilarikan kerumah sakit. Kesehatannya menurun. Kudengar juga karena tumor yang diidapnyanya. Ia menghabiskan hari-harinya dengan menulis buku sambil tetap menunggumu dibalik jendelanya. Ibunya tak pernah berhenti menitihkan airmata jikalau kutanyai tentang Sava, ketika bertanda untuk kedua kalinya. Ternyata Sava anak tunggal, Setelah Sava lahir. bebertapa bulan kemudian ibunya mengidap kanker rahim sehingga rahimnya harus diangkat. " kata-kata Freya tak henti-hentinya terngiang dikepala Alvero.

Alvero menitihkan airmata. Menangis sejadi-jadinya untuk kesekian kalinya. Terutama ketika didapatinya semua buku yang ditulis Rivka Sava diperuntukkan untuknya. Sebagaimana yang tertulis dihalaman ketiga setelah cover buku.

" Untukmu yang selalu menatapku dibalik jendela,
Untukmu yang selalu memberiku semangat,
Untukmu yang akan kucintai hingga akhir hidup,
Dan untukmu yang tak pernah berhenti kurindu. "

2 komentar: