Minggu, 15 September 2013

Mawar

Langit malam hari ini terlihat sangat gelap, sama seperti malam-malam sebelumnya.
" Kumohon.. Hujan turunlah.. " batinku dalam hati
Tubuhku terduduk menatap langit. Berharap ada yang akan menemaniku malam ini. Deburan guntur terdengar setelah beberapa saat sebelumnya kilat menyambar. Bibirku tersunging.
" Terima kasih Tuhan, Kau hadirkan hujan tuk temaniku menangis. "
Tetesan gerimis mulai membasahi tanah yang kering. Tanganku mulai menadah air hujan. Tubuhku berdiri tepat ditengah telanjangnya langit. Air hujan menetes membasuh pipiku.
Kini aku bisa menangis tanpa seorangpun yang mengetahuinya.
Aku bisa menangis sekeras-kerasnya tanpa dicurigai orang lain.
Belum puasku menangis seseorang memotong episode sedihku malam ini. datang dalam keadaan kuyup dan membawakan payung untukku.
" Jika kau mencari teman tuk menangis, bukan hujan. Tapi, aku akan selalu lebih siap dari pada hujan. " Suaranya serak itu membuatku berputar akan kenangan sebelum hari ini.
kenangan yang lebih pantas tuk dilupakan.

***

" Nek, Mawar tidak pernah mengerti. Semua teman-teman menertawaiku, mereka semua berceloteh bahwa namaku terlalu indah untuk si buruk rupa sepertiku. " torehku pada sosok kriput dihadapku.
" Mereka hanya mengetahui namamu, nak. Mereka tak tahu apa yang telah kau lalui. " nenek mencoba mencairkan suasana.
" Aku hanya tak mengerti, nek. Apa yang ada di pikiran orangtuaku saat memberiku nama Mawar. Apa mereka tidak tahu bahwa aku ini jauh dari kata cantik? " Tangisku pecah.
" Andai ibumu masih hidup. Hal seperti ini pasti tak akan pernah kau permasalahkan, Mawar. "
" Tapi nyatanya, Tidak. Ibu dan ayah sudah tidak ada, nek. Mereka malu memilikiku. Itu alasan mengapa mereka meninggalkanku bersamamu. " tak ada yang kusimpan, tak ingin kusembunyikan lagi sakit yang ada di dadaku. Rasanya sangat sesak dan berat. Rasanya terlalu menyakitkan.
Aku menangis sejadi-jadinya. Nenek hanya bisa terdiam melihatku. Dia tak punya jawaban yang pasti akan peliknya kehidupanku. Lalu siapa yang akan membuatku merasa lebih baik?. Hanya nenek yang kupunya.

***

Kembali aku duduk dipelataran teras rumah sendirian, menatapi langit yang sedikit lebih terang. Tak pernah kuperdulikan nyamuk yang menjadikanku santapan lezat. Aku tak pernah memerdulikan kecantikanku. Karena aku merasa tak memilikinya.
Namaku Mawar. Namun, aku tak pernah seindah Bunga Mawar. Mungkin orangtuaku salah memberiku nama. Nama yang cocok untukku bukanlah Mawar melainkan Duri Mawar.
Lamunanku terus menjadi-jadi. Andaikan langit bisa membuatku berkomunikasi dengan ayah dan ibu. Mungkin hidupku akan sedikit lebih indah dari pada saat ini.
" Anak gadis tak seharusnya melamun ditengah malam. " Tommy mengagetkanku.
" Kau tahu, Tom. Tak ada teman yang lebih baik dari pada sepi. " Tuturku.
" Hey, Kau salah Mawar. Tak ada teman yang lebih baik dari pada Tommy. " sahutnya cekikikan.
" Tommy, mengapa kau ingin berteman denganku. Seluruh teman disekolah kita tak ingin berteman denganku. Apa kau sedang berusaha mencuri perhatianku. " tanyaku curiga. Namun, sejujurnya aku senang jika Tommy ada disampingku. Aku merasa ada yang ingin membagi kebersamaannya denganku.
" Aku hanya melihat dirimu yang sebenarnya, Mawar. " jawabnya singkat.
" Yah, aku yang jelek, penuh dengan jerawat, berkulit kusam, bergigi susun, berkacamata dan gila buku? " semprotku.
" Fisik bisa dirubah, Mawar. Aku melihat sesuatu yang lain. " Tommy tersenyum.
Aku tertawa mendengarnya. " Kau ini, Paling bisa membuatku merasa lebih baik. "
Aku tak pernah menganggap ungkapan Tommy sebagai ungkapan serius. Aku hanya menganggamnya sebagai bunga-bunga untuk menghiburku. Dan seberapa lama pun, segenggam bunga pasti akan layu, bukan?. Yah, sama seperti yang Tommy torehkan. Suatu saat akan kulupakan. Hanyaku anggap ajang tawa.
Aku tetap menganggap hidupku sesuram langit malam.

***

" Hey, Mawar cantik abadi selamanya. " Adrian memulai percakapnya ditengah kelas. Disaat guru fisika sedang tak bisa mnegisi jam pelajaran.
" Adrian, Jangan meledeki Mawar begitu dong. Disinikan Mawar yang paling cantik dikelas. " Tirsya menambahkan ledekannya. Aku hanya bisa terdiam melihat tingkah mereka. Bukan terdiam karena sabar. Aku tak punya apa-apa tuk membela diri.
" Yah, Saking cantiknya si Bunga Mawar ini. Dia terlihat lebih cantik dari Tirsya yang berkulit putih si ketua cheers. " Adrian tertawa terbahak-bahak.
" Yah, Aku sampai minder bersampingan dengannya, Adrian. " Tambah Tirsya.
Kupingku mulai memanas, Aku melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Namun, belum sampai pintu aku bisa mendengar seluruh isi kelas berdecak " Iuuhhhh, bye.. byee Upik Abu "
Aku tertegun. Berusaha menahan airmataku.
Aku hanya berharap. Masa-masa sekolah segera berakhir.

***

" Mawar, Maaf yah tadi di kelas. Aku benar-benar meminta maaf. " ucap Tirsya saat bel pulang berbunyi.
" Tak apa, Aku sudah memaafkanmu. " kubalas dengan sebuah senyum yang kuharap akan mencairkan suasana.
Namun, aku salah Tirsya malah mendorongku hingga aku terlempar menabrak bangku tempat dudukku sendiri.
" Kau yang harusnya meminta maaf padaku! Bertingkah sok manis didepan Tommy. Iuuuhh, Perempuan murahan. Kau tidak lihat siapa dirimu? Hanyalah gadis kampungan yang ngak tahu malu! " Tirsya meninggalkan kelas diikuti teman yang lainnya. Tak ada seorangpun yang membantuku berdiri.
Setelah terlempar yang kurasakan adalah kepalaku yang pusing dan kulihat sedikit darah di kepalaku. sepertinya terbentur sudut bangku. Aku terdiam. Rasanya menangispun tak akan berguna.

***

" Kepalamu kenapa, nak? " Tanya nenek.
" Aku diusili teman lagi, nek. Maaf merepotkanmu. " jawabku tak ingin membuat nenek khawatir.
" Tapi kenapa mereka kasar sekali mainnya? "
" Tak apalah, nek. Itulah masa SMA. "

***

Di sela waktu istirahat. Aku kembali melihat Tirsya, Adrian dan kawan-kawan. Dan yang aku pikirkan. Aku harus kembali mempersiapkan benteng ketegaranku menerima cacian mereka.
" Ehh, Ada neng cantik lagi nyari makan di kantin. " sahut Adrian memecahkan keheningan.
" Hati-hati, loh kalian. Jangan sampai makanan kalian terkontaminasi dengan virus upik abunya, Mawar. " pekik Tirsya.
" Kamu hati-hati dong kalo bicara! " Tommy memotong pembicaraan.
" Aduh, Tommy. Kamu kayak ngak tau gimana si Mawar ini. " Adrian mencoba memanaskan suasana.
" Kalian yang tidak mengenalnya!. " Tommy berjalan mendekatiku.
Semua mata teralihkan padaku. Tak sepasang mata pun yang tak menatapku. Aku kikuk.
Aku bingung. Baru saat ini aku merasa memiliki teman yang ingin membelaku.
Keheningan pertengkaran pecah berubah menjadi suara- suara sumbang. Saat Tommy dalam satu hentakan menarik tanganku.
Membuat orang terperangah akan tingkahnya. Membuat mata dan bibir-bibir penonton dirundung tanya.
Tommy memelukku.

***

" Apa yang kau lakukan. Tirsya ada disana. Kau menyukain Tirsya, dan Tirsya pun begitu. Ada apa denganmu? " semprotku.
Tommy tersenyum tipis. " Tahu apa kau soal perasaanku. "
" Seluruh penjuru sekolah juga mengatahui hal itu, Tommy. "
" Berarti itu kabar burung. " jawabnya singkat.
" Lalu? " tanyaku dengan muka polos.
" Aku mencintai orang lain, Mawar"


***

" Aku melihatmu sebagai sosok Mawar yang sebenarnya, Mawar.
Kau adalah lambang kesetiaan, cinta, keabadian dan rasa sayang. Kau adalah hadiah terindah ayahmu untuk ibumu.
Aku menginginkan Bunga Mawar yang seindah dirimu, kau simbol dari cinta sebuah Mawar merah.
Fisik bisa dipermak Mawar. Tapi, tidak untuk hati.
Aku jatuh cinta padamu, pada sosok yang malah memeluk Nisa saat orangtuanya bercerai. Sosok yang membawa tawa dihari-hari terakhir Naila saat iya di vonis mengidap kanker otak. Sosok yang menjadi rumah untuk Tiara yang tergelut kasus narkoba ayahnya.
Sosok yang selalu tulus memebrikan pertemanan, disaat orang lain tak ingin berteman dengannya.
Kau simbol Mawar terindah untukku, Mawar."

Aku terenyuh membaca pesan yang terselip di kamarku bersama dengan sepuluh tangkai Mawar merah.
Aku baru saja mengeringkah rambutku yang basah karena terguyur hujan saat menangis tadi. Aku baru saja selesai mandi, setelah puas menangis dibahu Tommy.
Terima kasih akan malam ini Tommy. 
Hidupku memang sekelam malam. Tapi tak ada arti bagi siang tanpa malam.
sama sepertiku, Tak ada arti bahagia tanpa piluhnya hidupku.
Ayah.. Ibu.. Aku mengerti mengapa kalian memberiku nama, Mawar
Yah, Aku tahu Bunga Mawar berduri. Kini aku mengerti. Mawar lambang dari kebahagiaan dan Durinya? lambang dari sebuah kebahagiaan yang tak akan mudah didapatkan. semuanya penuh dengan tantangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar