Senin, 30 September 2013

Peri Kecil " Revisi Pertama "



Teruntuk pada semua kenangan pahitku. Kupintah tuk tak menampakkan bayang gelap.  Bayang gelap yang hadir bersama luka. Izinkan aku untuk hidup jauh dari rasa bersalah, Izinkan aku hidup tanpa puing-puing beling yang menyayatku perlahan.
Tubuhku bergetar berharap simfony-simfony kelam tak pernah menjelma dalam mimpiku, datang di tiap malam senyap berbunyikan dentingan jam. Hadirkan rasa bersalah yang tak kenal reda.
Yang kini menjadi penyakit hati tak berkesudahan, memfonisku lumpuh menatap lurus mata kedua orang tuaku.Membuat malam tak pernah berbintang dimataku.
Rintih tangis teralun dalam gelapnya menutup mata.

***

Alunan lagu tak bersyair milik Kenny G mengalun lembut ditelingaku, bayangan masa lalu itu tak lupa pula absen dalam jam santaiku.
Aku mengerang sekuat tenaga berharap bayang itu membuyar oleh teriakanku. Namun, yang ada hanya rasa panas di dada yang semakin menjadi-jadi.
Aku terus saja menimbang-nimbang perasaan ini.
Dirinya tak pernah berhenti membayangiku.

Membeludak cemburuku pada teman-teman yang bisa tertawa dengan mudahnya. Tertawa tanpa beban. Tertawa tanpa rasa bersalah. Tertawa tanpa sedikitpun rasa takut.
Aku mengutuk diri atas semua tindakan bodoh. "Mengapa aku begitu bodoh? mengapa aku begitu tega?" batinku.
Telah hancur impian kedua orangtuaku. Kusayat dengan sebilah pisau, hati mereka. Kubakar habis harap keduanya. Menghadirkan air yang mengalir deras dikedua pipi tirus orangtuaku.

Puluhan kelopak mawar bertebaran di tanah. Kini yang tertinggal hanyalah duri. Duri yang siap mencederai.

***

Kulirik jam biru yang melingkar di tanganku. Arah jarum jam telah menunjukkan pukul dua belas. Waktu dimana matahari berada tepat diatas kepala manusia. kutarik dengan satu hentak jaket kelabu yang tengah tergantung pada paku berkarat dibalik pintu kelas.

Dengan langkah tergopoh-gopoh ku arungi jalanan berdebu yang semakin mengikis sol sepatuku.
Perlahan. Namun, pasti semakin dekat letak kebahagiaanku terkubur. Langkahku memelan begitu pilu ini mulai menyayat. Menyayat hati yang tak berbaju.
Airmataku berlinang tanpa kuperintah,begitu menatap lurus sebuah nisan.
Nisan terkuburnya bayi mungil yang meninggal dalam pelukku.

Andai, saat itu aku tak meninggal adikku sendirian. Tergulai lemas diujung ranjang setinggi tujuh puluh sentimeter. Bisa kupastikan saat ini dirinya tengah hilir mudik ke sekolah.

"Adikku, Maafkan aku. Aku telah menjadi kakak yang buruk. Karenaku, kau tak bisa berlama-lama menapaki bumi" kurasakan luka ini perlahan menggerogoti tubuhku, mengalir dalam darahku, dan meremukkan jantungku.
"Jika tuhan mengizinkan, aku bersedia bertukar tempat denganmu. Ketahuilah aku mencintaimu dan tak berharap hal ini terjadi" ucapku tulus pada bayangan putih kecil yang sedari tadi menatapku tak jauh dari nisan. Besar keyakinanku itulah wujud lain kecil kecilku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar