Rabu, 23 Oktober 2013

Batara Tanpa Batas

Oleh : Nurul Latifah Nurdin.

   Sudah terhitung dua minggu aku tak pernah lagi menginjak kamarnya. Jelas ini tak seperti biasa. Akulah yang selalu membersihkan kamar bernuansa biru itu. Kamar itu selalu terkunci, entah saat ia pergi sekolah ataupun selepasnya dari sekolah. Sangat besar kecurigaan yang tertanam dalam hatiku. Aku tahu ada sesuatu yang Batara sembunyikan dariku. Aku tahu persis kamar itu adalah dunia baginya. Dan, Batara menyembunyikan itu dariku.

    Batara, adikku satu-satunya. Kami hanya dua bersaudara. Tak ada yang special dari keluargaku. Ibu dan ayah bukanlah orang terpandang maupun terkaya di kotaku. Hanya saja ada sesuatu yang membedakan kami dari keluarga lain. Perbedaan itu jelas terlihat dari Batara. Batara yang terlahir tak memiliki tungkai. Dengan itu tugasku adalah menjadi tungkai bagi Batara dikarenakan tubuhku sempurna. Aku tak tahu menahu apa yang sedang ada di pikiran Batara. Mendadak ia membuat ruang dariku.

    Sosok Batara tak pernah menghabiskan waktu berhari-hari sendiri di kamarnya. Yah, tak pernah lebih dari sembilan jam. Tapi, sekarang semuanya berbeda. Batara menghabiskan hari-harinya di kamar. Sendirian. Ia keluar hanya untuk makan dan minum saja selebihnya mengunci diri. Sekalipun jika Batar marah padaku, ia hanya akan mendiamiku, bukan mengunci diri. Terlebih tak ada yang mengawasi kami saat ini. Ayah sudah terhitung tiga bulan di Pekanbaru karena dipindahtugaskan, sedangkan ibu sudah menginjak tiga minggu di kampung merawat nenek yang jatuh sakit. Hanya aku berdua di rumah.

    Batara selalu menghilang di balik pintu kamarnya. Semua pikiran buruk merasukiku. Aku takut Batara terjerat narkoba, sabu-sabu atau sejenisnya. Mungkin juga Batara menjadi bulan-bulanan siksaan teman sekolahnya. Faktor cacat dan lingkungan asing mungkin mengintimidasinya. Batara adalah tanggung jawabku. Dan Batara menutup dunianya dariku.

***

    Kejadian ini sudah menginjak tiga minggu. Aku mulai resah sendiri. Tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil keputusan. Hal ini sudah pula kusampaikan pada ibu. Ibu pun berjanji akan segera pulang. Ibu berpesan agar aku mengunci rapat-rapat hal ini dari ayah, tak ingin hal buruk terjadi pada ayah yang berada jauh di sana. Ibu tak ingin ayah kelabakan memikirkan Batara.

***

    Sesampainya ibu di rumah dan tepat seperginya Batara ke sekolah, kami sepakat mendobrak pintu kamar Batara. Hal yang tak terduga pun tersaji di depan mata kami. Seluruh kamar Batara dipenuhi lukisan yang sangat indah yang sepertinya bernilai jual tinggi. Salah satunya tergambar wajahku yang sedang merangkul ibu, ada pula lukisan ayah yang baru setengah jadi. Semuanya berjumlah puluhan. Aku yakin semua lukisan ini murni karyanya. Kini aku mengerti apa yang Batara sembunyikan. Tangisku lumrah. Ibu memelukku. Aku tahu ibu tak kalah terharunya dariku. Batara mungkin memiliki batasan fisik. Tapi, ia tumbuh menjadi seseorang yang hebat seakan tak mengenal batasan. Aku menyesal menghardiknya dengan pikiran buruk. Batara memang berbeda dengan anak-anak lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar