Jumat, 11 Oktober 2013

Cerita Yang Kuharap Didengar

Mataku menatap sebaris kertas kosong, kertas yang harus ku isi dengan cerita. Ada sesuatu hal yang mengangguku. Sebuah rasa yang menuntutku untuk layu, sebuah rasa yang menuntutku untuk lelah menulis. Sebuah rasa pesimis.
Terus saja kubolak-balikkan puluhan kertas kosong itu, aku berniat menyihirnya menjadi cerita yang menggelegar. Hanya saja rasa itu muncul. Rasa yang membuatku bingung ingin bercerita apa.
Tuhan, semua karibku dalam bidang menulis sudah semakin sukses saja. Ada yang berhasil menembus koran lokal, majalah nasional, dan bahkan memiliki banyak buku antalogi. Sedangkan aku? Hanya diam di tempat. Hanya bercerita di bilik tulisan bernama Blogspot. Aku tak tahu, pantaskaan tulisanku bersanding dengan mereka.
Sudah terhitung tiga bulan ini aku terus saja berusaha mengirimkan tulisanku di koran lokal. Namun, nihil. Tak ada yang terjadi, tak sepatah kata pun diterbitkan.
Memoriku masih mematri sebuah kata "Menulis itu bukan untuk diterbitkan. Tapi, untuk menghidupkan tulisan dan cerita. Diterbitkan itu hanyaalah hadiah saja". Hatiku bergumam, "Lalu, tak pantaskah aku mendapatkan hadiah itu, setelah hampir dua tahun menggeluti dunia pena? Apakah tulisanku sangat tak pantas untuk diberi hadiah?". Tak ada yang mendengarkan kerisauanku. Mereka sibuk saling berlomba menghebatkan diri dalam bidang ini. Aku hanya bisa menelan ludah.

"Kau masih muda, berbeda dengan kami. Kau masih butuh waktu banyak untuk belajar."Salahkah? salahkah seorang penulis SMK sepertiku ingin sama rata dengan kalian para penulis senior yang menduduki bangkuh kuliah semester lima. Salahkah aku jika ingin bersaing kalian? Aku benar-benar ingin mengalahkan kalian. Tekadku ini besar.

Mataku menerawang langit-langit kamar, berharap semua do'aku diijabah. Tiap sabtu pagi aku selalu bangun pagi hanya untuk menunggu koran, membuka halaman rubik keker. Berharap ada nama dan tulisanku yang terpampang jelas. Namun, sampai saat ini belum. Hanya sebuah puisi ku yang pernah bertengger disana. Hanya sekali, tapi ku harap bukan yang terakhir. Aku ingin cerminku yang terpampang disana.

Ah, Aku tahu sekarang, ketika aku gagal. Tuhan memintaku untuk bangkit. Untuk mempertebal kualitas tulisanku. jadi, saat tulisanku terbit semua pembaca akan berdecak "Tulisan ini pantas untuk terbit."
Aku terus berdo'a, berusaha. Dan menunggu semua ini diijabah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar