Rabu, 23 Oktober 2013

Di Bawah Terik

Oleh: Airly Latifah

   Angin berpolusi memainkan anak rambut yang menghambur kebelakang bahunya. Tak peduli seberapa berantakan rambutnya. Kaki itu melangkah di bawah senteran matahari. Acuh. Debu jalanan mengepul sepatu sekolahnya dengan sempurna. Alana terlalu lelah untuk tak acuh pada serangan alam. Tak perduli baju putihnya mengusam dihantam asap kendaraan.

    Alana menarik nafasnya berat. Jalan yang ia lalui selalu sama di setiap harinya. Tak ada jalanan lengang. Segerombolan anak berbawahan merah yang berceriwis ria di ruas jalan, dan pengendaran motor yang seakan tak kenal celaka. Ada sesuatu yang mengusik hatinya, seorang Nenek yang sejak beberapa hari ini selalu rajin terduduk di bawah pohon samping Buana Bakeries. Membuat dadanya hangat.

    Langkahnya terhenti. Nenek itu menarik perhatiannya. Alana menimbang-nimbang. Berfikir keras dan mencoba membaca sikap Sang Nenek. Namun, ia gagal. Tak ada yang bisa dibacanya. Terpatri dengan sangat jelas di otak Alana, tepat kemarin dua orang polisi mengangkat sang Nenek dari tempatnya. Lalu, mengapa Nenek itu masih ada di singgasananya?

    “Nek! Ini Alana beli beberapa roti untuk Nenek” bingkisan itu berpindah tangan. Bingkisan yang Alana beli dari Buana Bakeries. Tergurat senyum di sudut bibir Alana.

    “Terima kasih, Nak. Hanya saja. Nenek di sini tidak untuk mengemis ataupun menuntut belas kasihan.” Nenek membalas senyuman Alana. Menghela nafas dan tertunduk sebentar. Alana tergugu melihat perangainya.

    “Lalu, apa yang Nenek lakukan di sini?” tanya Alana sehangat mungkin. Tak ada niat menyakiti wanita beruban di hadapannya.

    “Nenek menunggu seseorang, Nak! Tepat tiga hari yang lalu.... Dia masuk ke dalam toko roti sebelah.... Memeluk sekantong penuh roti.... Dan dia tak pernah terlihat lagi.... Dia cucuku, Nak! Keluarga satu-satunya yang Nenek miliki.... Nenek berharap.... Dia akan ke sini, mencari Nenek!” ungkap Nenek terbata-bata. Di wajahnya tergambar nelangsah. Ada sebuah rindu dan kasih sayang yang terkubur di dalam matanya.

    “Tidakkah Nenek ingin pulang dan beristirahat?” tanya Alana membujuk.

    “Tidak! Nenek tak ingin.... Tak ingin dia ke tempat ini, dan tak menemukan nenek di sini.” ada sesuatu yang menggores hati Nenek. Seperti sembilu.

   “Nenek, akan terus di sini?” tanya Alana lagi.

    “Iya! Nenek akan menunggunya..... menunggu sampai cucuku datang!” tegas Nenek dengan nada penuh kehilangan.

    Alana mendesah lirih. Matanya memanas. Rasa empati mengalir di sekujur tubuhnya. Dimana kamu, Dik? Nenekmu mencari dan terus menunggumu! Batinnya.

***

    Keringat memandikan tubuh orang-orang yang berdesakan di pasar. Berjalan sempoyongan. Memakul banyak bawaan. Berbagai macam jenis bau bercampur padu menjadi satu. Semua orang berlalu lalang tanpa memperdulikan sekelilingnya. Terlalu ramai.

    Mata kecil itu menerawang di setiap sudut pasar. Mengitari semua lekuk pasar dengan liarnya. Memcoba semua kemungkinan. Hatinya berkecamuk di penuhi ketakutan. Roti dalam pelukannya penyok dihantam lengan. “Nenek! Nenek, dimana?” batinnya lirih.

Makassar, 16 oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar