Sabtu, 26 Oktober 2013

Hingga Mawar Biru Layu

Hingga Mawar Biru Layu
Oleh : Airly Latifah

     “Dinda, Kanda janji. Kanda akan pulang bulan desember ini. Tahtamu sebagai ratu di hatiku tak akan pernah berpindah tangan. Percayalah!” sepenggel pesan singkat itu kuterima dua minggu setelah pesawat membawamu.

     Aku terenyuh. Adakah kau akan memegang kata-katamu. Banyak wanita cantik di Bandung. Aku hanyalah gadis suku bugis yang tak seberapa menawan.

***

    “Aku harus kuliah di Bandung. Yah, Demi kehidupan yang lebih baik kehidupan sukses. Dan demi mempersuntingmu.” ungkapmu tegas. Jenak dimana kau memberitahukan berita itu, aku pasrah. Tak ada yang bisa kulakukan. Jika memang ini yang terbaik, kan kukembalikan semua pada Sang Kuasa.

    Aku berharap semua ini akan berjalan mudah. Sangat berharap. Walaupun aku tahu. Menunggu tak semudah membolak-balikkan telapak tangan.

    “Komunikasi dan kepercayaan menjadi hal yang utama dalam hubungan jarak jauh. Kumohon jaga terus komunikasi dan kepercayaan yang telah kita bangun.” ungkapmu lagi. Kau mengelus kepalaku yang dibalut jilbab kelabu.

***

    Jarak. Kau menjaraku dalam rindu tak berkesudahan. Rindu yang mengikis nyenyaknya tidurku. Mematri kenangan yang melekat di balik rinai hujan. Bak sulur tanaman yang melilit pagar dengan erat. Sangat erat bahkan tak ingin kau lepas. Jarak yang melahirkan amuba rindu yang membelah diri secara membabi buta. Tak pernah ada rindu semenyesakkan ini.

    Mata yang selalu menatap lekat. Suara khas yang tak pernah lekang dari telingaku. Tingkah aneh yang selalu hadirkan tawa. Keseharian yang tak pernah terlewatkan tanpamu. Semua itu menghilang dalam satu waktu. Tanpa persiapan. Kau tinggalkan aku dan cinta yang menggebu-gebu.

    Ada rasa panas yang menyelubungi hatiku. Sebuah rasa yang menggema liar di hatiku. Sejak dua minggu yang lalu. Sejak kau tak sekali pun mengabariku. Apa yang sedang kau lakukan di sana? Adakah kau merasakan hal yang sama?

    “Dua minggu ini kau kemana?” angkatku berbicara.

    “Maaf, Kanda diharuskan campur tangan dalam acara wisuda malam ini. Semua persiapan harus Kanda dan teman-teman siapkan. Waktu yang tersita banyak. Tapi, bukan untuk menduakanmu!” tegasmu di ujung telepon.

    “Apa kau merasakan hal yang sama denganku? Dada ini dipenuhi rindu yang menyesakkan tanpa kabarmu!” hardikku.

    “Maaf, Semua ini kulakukan untukmu. Kumohon mengertilah.” rengekmu. Suaramu terdengar sangat lemah.

    “Kau yang memintaku menjaga komunikasi! Kini kau yang melanggarnya!” hardikku lagi tak terima.

    “Kumohon mengertilah. Apa aku sudah benar-benar tak bisa membahagiakanmu? Kalau begitu, tinggalkanlah!” nada suaramu meninggi.

    Aku terdiam. Kau terdiam. Kita terperangkap dalam hening. Hening yang cukup panjang. Aku mencintaimu, tak ada niat membuatmu buncah. Aku hanya resah. Tapi, aku tahu persis saat ini kau sangat lelah. Aku luluh.

    “Aku tak ingin yang lain. Aku mencintaimu. Yah, mencintaimu hingga mawar biru layu!” kembali kuangkat bicara. Tersimpul senyum kecil di bibirku.

    Aku harus memahamimu. Hal ini tak hanya berat untukku. Tapi, untukmu juga. Kita!

    Aku mencintaimu, hingga mawar biru layu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar