Rabu, 23 Oktober 2013

Peri Kecil

Oleh : Airly Latifah

   Teruntuk pada semua kenangan pahitku. Kupinta tuk tak tampakkan bayang gelap. Bayangan yang hadir bersama luka sembilu. Izinkan aku untuk hidup jauh dari rasa bersalah. Izinkan aku hidup tanpa puing-puing beling yang menyayatku perlahan. Tubuhku bergetar berharap simponi-simponi kelam tak pernah menjelma dalam mimpiku lagi. Datang di waktu malam senyap berbunyikan dentingan jam. Hadirkan rasa bersalah yang tak kenal reda. Kini menjelmah menjadi penyakit hati tak berkesudahan. Membuatku lumpuh menatap lurus mata kedua orangtuaku. Membuat malam tak pernah berbintang di mataku.
   Rintih tangis teralun dalam gelapnya menutup mata.

***
    Alunan lagu tak bersyair milik Kenny G mengalun lembut di telingaku. Bayangan masa lalu itu tak lupa pula absen dalam jam santaiku. Aku mengerang sekuat tenaga berharap bayang itu membuyar oleh teriakanku. Namun, yang ada hanya rasa panas di dada yang semakin menjadi-jadi. Membuatku berkecamuk merasa semakin buncah.
   Dirinya tak pernah berhenti membayangiku.

    Membeludak cemburuku pada teman-teman yang bisa tertawa dengan mudahnya. Tertawa tanpa beban. Tanpa rasa bersalah. Tanpa sedikitpun rasa takut. Aku mengutuk diri atas semua tindakan bodoh. "Mengapa aku begitu bodoh? Begitu tega?" batinku. Telah hancur impian kedua orangtuaku. Kusayat dengan sebilah pisau hati mereka. Kubakar habis harapan keduanya. kuhadirkan air yang mengalir deras dikedua pipi tirus orangtuaku.
   Puluhan kelopak mawar bertebaran di tanah. Kini yang tertinggal hanyalah duri. Duri yang siap mencederai.

***

   Kulirik jam biru di tanganku. Arah jarum jam telah menunjukkan pukul empat. Waktu dimana matahari mulai bersahabat. Kutarik dalam satu hentak jaket kelabu yang tengah tergantung pada paku berkarat dibalik lemari.

    Dengan berlari kecil dan setengah tergopoh-gopoh kuarungi jalanan berdebu yang semakin mengikis sol sepatuku perlahan. Namun, pasti semakin mendekat letak kebahagiaanku terkubur. Langkahku memelan begitu pilu ini mulai menyayat. Menyayat hati yang tak berbaju. Airmataku berlinang tanpa kuperintah. ketika menatap lurus sebuah nisan.
   Nisan terkuburnya bayi mungil yang meninggal dalam pelukku.

   Andai, saat itu aku tak meninggalkan adikku. Sendirian. Tergulai lemas di ujung ranjang setinggi tujuh puluh sentimeter. Bisa kupastikan saat ini dirinya tengah hilir mudik ke sekolah. "Adikku! Maafkan aku. Aku telah menjadi kakak yang buruk. Karenaku, kau tak bisa berlama-lama menapaki bumi" batinku. Kurasakan luka ini perlahan menggerogoti tubuhku, mengalir dalam darahku, dan meremukkan jantungku.

   "Jika tuhan mengizinkan, aku bersedia bertukar tempat denganmu. Ketahuilah aku mencintaimu dan tak berharap hal ini terjadi" ucapku tulus pada bayangan putih kecil yang sedari tadi menatapku tak jauh dari nisan. Besar keyakinanku itulah wujud lain peri kecilku.
   “Aku mencintaimu” bisikku pelan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar