Rabu, 23 Oktober 2013

Pekatnya Langit Di Mata Janna

Oleh : Airly Latifah

    Janna menatap lurus pekatnya langit malam sabtu. Terduduk sendiri di ujung taman rumah sakit. Janna ingat betul gambar ruangan yang ia singgahi beberapa menit yang lalu. Ibunya terbaring tanpa daya sedangkan bapak terduduk lemas di samping ranjang ibu. Lengkap dengan handuk kuning yang selalu menempel di bahu bapak yang penuh peluh.

    Bapak yang kini berusia enam puluh tahun itu kehabisan akal. Bekerja tanpa henti mengayuh becak berhari-hari tanpa istirahat, demi menutupi sedikit biaya rumah sakit yang kini membengkak. Bukan main biaya yang telah terhutang berkisar belasan juta rupiah sejak bulan lalu. Mengingat bapak hanya mampu meraup lima ratus ribu rupiah perbulannya. Pihak rumah sakit pun mulai mengambil tindakan, mereka mengancam akan mengusir ibu beberapa hari lagi. Janna pun lumpuh bekerja dikarenakan ibu yang tak ragu mencabut selang infus saat Janna tak mengawasi. Tak ada sanak saudara ataupun kerabat di sini. Hanya Janna, ibu dan bapak.

***

    “Maaf, Dok! Tidakkah keluarga kami bisa diberi keringanan?” bujuk Janna pada lelaki yang selama ini memberi perawatan pada ibunya. Airmuka Janna jelas menggambarkan kesedihan mendalam.

    “Tak bisa, Dik. Banyak pasien yang harus kami tampung. Dan ini bukanlah puskesmas yang murah.”

    “Kumohon beri kami waktu seminggu lagi, Dokter!” rengeknya.

    “Maaf, Dik. Besok lusa ibu tidak boleh ada di sini lagi. Saya tak ingin menanggung konsekuensi dari kepala rumah sakit” tangis Janna menganak sungai.

***

    Janna kembali menatap lurus langit yang terlihat lebih pekat bahkan terasa nyaris menindih. Hatinya terselubungi kabut beracun yang siap membunuh dalam hitungan jam. Entah, Janna tak tahu harus bagaimana.

    “Janna!” Panggil bapak yang bersuara berat dari balik pintu kamar rumah sakit.

    “Iya, Ayah!” jawabnya dalam satu kali tolehan.

    “Seluruh biaya sudah dilunasi. Ibu akan dipindahkamarkan di ruang kelas dua.” ungkap bapak berbinar.

    “Apa yang terjadi, Pak?” ada sekat yang memenuhi kepalanya.

    “Berterima kasihlah pada Ghafar, Janna!” perintah bapak.

***

    Ghafar membuang nafas. Rumah yang ia tandangi kosong melompong. Diketahuinya keberadaan Janna dari wanita berdaster lusuh di rumah sebelah. Ghafar membulatkan niatnya.

    Masih terpatri jelas dalam ingatan Ghafar tentang sosok Janna, sosok adik organisasinya yang selalu panjang akal dan tak pernah mengeluh dalam menggelang dana program kerja. Tepat di sabtu itu Ghafar ingat betul Janna hanya memiliki sisa uang untuk pulang. Tiga ribu rupiah biaya pete-pete menuju rumahnya. Namun, di ujung jalan saat ia menunggu pete-pete, seorang nenek menghampirinya meminta air minum. Janna pun membelikan uangnya sebotol air aqua untuk sang nenek. Tanpa perduli ia harus pulang berjalan kaki. Hal itu membuat Ghafar tak pernah lupa akan sosok Janna. Bahkan setelah tujuh tahun pendidikan di luar Makassar. Janna dan ketulusannya terpatri di kepala dan hati Ghafar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar