Sabtu, 26 Oktober 2013

Salah Panah #Tulisan kedua yang diterbitkan


Oleh : Airly Latifah

    Mata berwarna cokelat itu menawarkan sendu. Entah sebesar apa luka yang menggrogoti hatinya. Tergambar jelas kelam malam di wajahnya. Entah ingin kujamah dengan cara apa pedih hatinya. Aku merasakan dua kali lipat pedihnya.

    "Aku kehilangannya" ungkapnya. Suaranya parau setelah bungkam lama. Airmatanya membanjir. Kubiarkan tenggelam dalam tangisnya. Bukan karena aku bahagia melihatnya bermandikan tangis. Namun, lebih karena aku tak mampu membuatnya tertawa di saat seperti ini. Saat berpisah dengan pria pilihannya.

    "Kau tahu kan sebesar apa cintaku padanya?" lanjutnya dengan suara lebih parau. Suara itu nyaris tak kudengar. Bibirku lumpuh berkomentar. Hanya bisa menjadi teman menangis dan diam saat ini. Ku tahu dia tak membutuhkan kutbahku.

    Pundakku basah oleh tangisan. Tangisan yang mengirisku perlahan. Aku sedih namun terselip rasa bahagia karena aku bisa bersamanya. Walaupun di saat sekelabu ini. Sungguh aku ingin menjamahnya lebih. Ingin menenangkannya bagai sang pangeran. Ingin mencintainya sebagai pelita hati. Ingin ku bakar sarang tangisnya .

    "Sudahlah. lupakan, aku akan kembali kekamarku. Aku sudah cukup tenang. Terima kasih kau ingin menjadi pendengar di saat seperti ini. Kini sudah larut malam, kembalilah ke kamarmu." Katanya. Meninggalkaanku yang duduk mematung. Tertelan pintu berwarna pink. Hatiku berat melihat punggungnya yang menjauh. Sungguh aku ingin bersamanya lebih lama. Dan kini hanya ada aku dan kesendirianku.

    Dirinya terluka. Hatinya tercambuk sembilu oleh pria tak berperasaan. Pria yang mempermainkan hatinya! Pria bodoh yang menyia-nyiakan cintanya. Membuang cinta yang sangat kuharapkan. Pria itu bodoh! Pria itu sangat tak pantas bersamamu! Rasanya aku sangat geram dibuat pria pencampak hati itu. Sungguh orang-orang seperti itu tak pantas dihadiahi ketulusan. Mereka akan bersikap tak amanah! Mereka buta! Aku benci! Aku benci siapapun yang menyakitinya! Aku membuang nafas. Rasanya semua ini akan sia-sia. Bahkan harus musnah.

    "Entah! Kenapa perasaan cinta ini menyapaku. Memanah hati yang salah. Tololnya kenapa harus dia! Sungguh keputusan yang salah. Tapi, inilah yang terjadi. Tanpa kuminta " batinku. Bukan karena ia tak sesuai kriteriaku, atau karena ia terlalu tua untukku. Sungguh bukan karena kekurangannya.

    Dia sudah sangat sempurna bagiku. Tawanya mampu segarkan pagiku. Senyumnya semangat. Suaranya embun. Matanya berbina bak matahari. Tangannya selimut. Dan bahkan dengkurannya simponi indah bagiku.
Ia sempurna. Seperti yang tadi kukatakan.

    Aku tak tahu siapa yang salah. Akukah yang salah? Diakah yang salah? Orangtuaku kah yang salah? Ataukah cinta ini yang salah?
Entahlah. Tapi, harus kuakui. Aku mencintainya. Aku ingin bersamanya sebagai kekasih dan suami.

     Namun, gambar foto keluarga berframe emas dihadapanku menyadarkanku atas cinta salah arah. Oh, Tuhan...!! apa yang harus kulakukan. Aku tak bisa membendung rasa cinta terhadap saudara perempuanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar