Rabu, 23 Oktober 2013

Tak Setitik Nila pun

Oleh : Airly Latifah

Mata lelah itu menatap tajam. Menatapnya penuh harap, seakan ia mampu menggantikan langit siang. Sosok penatap sibuk berceloteh, dibalas dengan tatapan tanpa kata. Menimbang-nimbang hal yang tak pernah ia mengerti. Bahkan dirinya tak mengerti apa indahnya senja.

Dirinya mengunci rapat semua beban yang memikul jiwa Menghantam batin. Sering kali siang begitu gelap dan malam begitu luas menenggelamkanku di sunyi tanpa suara. Sendiri.
“Latifiyah, Tolong datanglah menjengukku di rumah sakit.” Suara lemah yang khas dan selalu kurindu.
“Aku tak bisa berjanji, bunda.” Elakku sehalus mungkin.
Benar aku memanggilnya bunda. Hanya saja dia bukanlah bunda kandungku. Sekarang Bunda Ditya telah memiliki putri kecilnya sendiri. “Lalu bagaimana denganku? Adakah yang hendak menerimaku? Andai saja aku bisa ikut bersamamu.” Latifiyah menatap lurus pada sebuah gambar dikamarnya. Lantas air mukanya berubah sedih. Desah resah terdengar diujung bibirnya.


Baginya dunia ini terlalu luas untuknya sendiri. Untuk diarungi. Beberapa bulan lalu neneknya berpulang ke Rahmatullah. Sekarang, Bunda Ditya telah memiliki manusia baru yang lebih berharga dari nyawa bundanya sendiri. Latifiyah membanting tubuh. Mata cokelatnya terus saja banjir. Ada rasa panas yang menyelubungi hatinya. Ketakutan menjalah diruang-ruang hatinya, Ketakutan yang tak pernah meninggalkannya.


***

“Kamu Latifiyah, yah?” tegur wanita paruhbaya berhidung bangir
“Iya, maaf. Siapa yah?” tanyanya pelan tak ingin menyakiti.
“Kenalkan, Teresha. Kakak ipar Ditya. Kamu sadar dong, Ditya ini sudah punya anak. Kamu sadarkan kamu bukan anak kandung Ditya. Jangan berharap Ditya lagi yang menanggung biaya kuliahmu. Kamu bukan siapa-siapa. Kalo mau biaya hidup. Minta sama orangtuamu!” ungkapnya sangat dingin.


Latifiyah terdiam tak tahu harus merespon bagaimana. Airmatanya sudah siap membeludak tak terbendung. Tubuhnya bergetar hingga lututnya tak mampu lagi menopang tubuhnya.


***


“Nek, bundaku yang asli ada dimana, yah?” tanyanya polos.
“Bunda dan ayah sudah tidak disini,sayang.”
“Mereka kemana, nek? Mengapa tak satupun dari mereka yang mengajakku?”
“Bunda dan ayah sudah menghilang dibalik langit sayang.” Nenek berusaha membenarkan rambutnya yang dimainkan angin.
“Aku takut sendirian, nek.” Matanya menerawang pada langit berawan gelap tanpa bintang.


***

“Bunda? Boleh aku berhenti kuliah? Tidakkah biaya pendidikanku sangat tinggi? Terlebih bunda baru saja melahirkan, biaya hidup bunda sangat besar.” ungkapnya diujung telephone
“Kamu jangan bicara bodoh, sayang” Jawab bunda dengan suara yang sangat lembut.
“Aku hanya tak ingin memberatkanmu bunda”
“Bundamu, Andini dan ayahmu meninggal karena HIV. Aneh saja keturunannya tak setitik nila pun terjangkit penyakit. Ada alasan mengapa kau tetap disini, sayang. Tuhan tak ingin orang tuamu putus keturunan. Kau tunas terakhir yang diharapkan tumbuh seindah mekar tulip di musim semi. Kumohon sayang, Bunda Ditya disini ada untukmu, Bertugas menggatikan orangtuamu.” Tangisnya pecah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar