Selasa, 15 Oktober 2013

Tuangan

Nelangsah.
Membuatku getas.
Membuat semua rongga-rongga hatiku membuncah.
Aku menengadah, berharap air mataku tak jatuh.
Aku hanya merindukannya, hanya ingin bersikap manja.
Hanya ingin menggodanya agar ia memperdengarkanku kata-kata yang manis.
Namun, semuanya berbalik arah.
Rentetan kata-kata itu menusukku bak sebuah sembilu.
Membuatku tepekur.

Aku tak tahu harus bagaimana. Sungguh berbeda.
Dulu, seberapa aneh pun caraku mengganggunya. Ia tak pernah sekali pun meledak-ledak bak gunung berapi.
Aku tak tahu seberapa genting keadaannya.
Hanya alat komunikasi yang menyambungkan.

Satu tetes.
Aku menarik nafasku lebih dalam.
Mataku perlahan memanas.
Ada sesuatu yang membuncah hatiku.
Keadaankah yang memaksaku semakin getas.

Dua tetes.
Kumohon jangan buat aku sakit menahan ini.
Dalam diam aku selalu menunggumu.
Menunggumu memulai.

Tiga tetes.
Aku tahu, banyak hal yang kau lakukan di sana.
Kesibukan yang menggunung. Tugas yang membeludak.
Tapi, adakah dalam sebuah jenak kau mencariku?
Memikirkanku?
Hal yang selalu kulakukan sebelum tidurku.
Berusaha membawa tidur semua kebuncahanku.

Empat tetes.
Adakah di sana kau berfikir untukku!
Berfikir rasanya diterbelakangkan!
Merindumu dalam diam dan penantian?
Menanti kau memulai sebuah komunikasi!
Ataukah kau berharap aku menutup hati ini!

Tujuh tetes.
Aku bukan mengacuhkanmu.
Sama sekali tidak. Dari sini aku selalu menunggumu.
Aku hanya ingin kau mencariku.
Sebagai bentuk rasa sayangmu. Jika benar rasa itu masih ada.
Bukan aku yang mencarimu.

Delapan tetes.
Apakah kau menungguku berkata "Jangan cari aku!"
Atau menungguku hilang di balik bayangmu!
Aku tak pernah berfikir rasional, aku selalu menggunakan perasaanku.
Aku percaya kau tahu itu.


 Sore berinaikan nelangsah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar