Minggu, 24 November 2013

Diary Digital, Minggu. 24 November 2013 "Kucingku Sayang! Kucingku Malang"


Berbagi Cerita

Rasanya kepalaku terlalu buntu untuk bercerita merangkai tulisan. Berat rasanya kepala ini untuk menulis puisi atau cerpen. Tak ada ide yang berniat untuk singgah di kepalaku.
Banyak hal berat yang kulalui belakangan ini. Hal ini jelas berdampak pada hasil tulisanku. Rasanya sangaat sedih ketika mood hati sedang tidak bersahabat.
Para pelakon pena disini sudah saya anggap sebagai keluarga.
Maka dari itu, dari pada saya semakin suntuk saya ingin berbagi kisah disini.
Minggu kemarin sekitar awal november hari rabu, saya mengalami kecelakaan. Cerdera tangan, dagu, lutut dan sebagainya. Motor saya sampai miring stirnya.
Minggu kedua, di hari yang sama om saya meninggal. Beliau menghembuskan nafasnya. Dengan rasa kehilangan saya pulang. Namun, nasib buruk berpihak padaku. Tas saya terjatuh saat perjalanan. Dan setiba di rumah baru saya menyadarinya. KEmbali saya menelusuri jalan pulang saya. NIHIL. Ponsel yang sudah menemani saya selama 5 tahun raup. Dompet berisi atm, kartu pelajar, dan kartu identitas lainnya hilang. Buku yang merupakan catatan saya selama belajar menulis ikut hilang bersama tasku hari itu.
Tidak sampai disitu saja.
Kemarin, tepat hari sabtu. Uang saya senilai satu juta tiga ratus ribu rupiah hilang. Uang tabungan yang saya sudah kumpulkan selama empat bulan. Raup tanpa bekas.
Kekecewaan jelas tergambar di wajah orangtua saya. Saya membeli seekor kucing persia pada oknum tak bertanggung jawab. Menjanjikan saya seekor kucing persia betina berwarna cream putih, berbulu lebat dan sehalus kapas berusia sekitar 3 bulan.
Tapi semuanya hanya iming-iming.
Ternyata pihak yang menjanjikan saya adalah seorang penipu ulung. Dan saya mempercayainya. Dia seorang yang tinggal di Semarang. Beberapa kali saya sudah pernah mencoba pembelian "Online" hasilnya selalu memuaskan. Tapi, tidak untuk hari itu.
Sungguh. Rasanya sangat sedih. Semua kenyataan ini kuterima dengan berat.
Sampai hari ini, terkadang saya sangat sedih membayangkan kucing yang kuimpikan hanya tinggal gambar di handphone.
Orangtua mencoba menyabarkan. Hanya saja untuk seorang siswi SMK kelas 2. Uang sebesar satu juta tiga ratus tidak mudah saya dapatkan. Butuh semangat dan penghematan untuk menabung sisa uang jajan.
Entah, November sedang tak bersahabat.
November menghadirkan banyak tangis untukku.
Sedih sekali rasanya.
Mungkin tak apa jika saya yang rugi. Tapi sakit hatinya lebih besar melihat kekecewaan orangtua saya. Apa lagi sebelum memesan kucing persia orangtua saya sempat melarang. Dan meminta saya membeli hal lain yang lebih bermanfaat.
Hanya saja rasa kasih saya terhadap binatang lebih besar dibandingkan benda-benda mati. Dengan susah payah saya membujuk dan akhirnya berhasil. Saya berteriak kegirangan pagi itu.
Dan malamnya, semua teriakan itu tinggal cerita.
Saya belajar menulis di usia empatbelas tahun sampai sekarang, demi tekat membahagiakan orangtua. Demi membuat mereka bahagia dengan tulisan saya yang diterbitkan media atau tercetak dalaam novel best selller.
Belum juga satu pun harapaan dan imipian yang saya bangun untuk bahagiakaan mereka terwujud. Yang terjadi maalah kemarin saya mengecewakan mereka. Rasanya sangat sedih terlahir sebagai anak yang selalu merugikan orangtua. Saya merasa sebagai anak yang hanya bisa mengikis asa. Sosok yang mestinya tak usah dilahirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar