Kamis, 21 November 2013

Itu Bukan Aku

Oleh : Airly Latifah

    Beberapa waktu yang lalu, ibu menyodoriku benda berwarna emas setinggi tujuh sentimeter itu. Sesuai hendaknya aku harus mampu berjalan elok dengan benda ini. High heel. Sedangkan, saat aku menggunakannya jalanku lebih kaku dari robot. Terpatah-patah. Hampir sama seperti bayi yang tengah belajar berjalan.

    Hidupku penuh dengan garisan ibu. Usiaku lima belas tahun, terhitung tiga tahun sepeninggalan ayah. Dan, aku gelap akan identitasku.

    “Wanita itu harus anggun, gemulai dan lemah lembut. Bukan kaku!” ibu mengangkat suaranya. Memakiku. Sangat dingin. Aku hanya mengangguk pelan. Mencoba mengamanahkan. “Inginku abdikan hidup ini padanya” Ingatku pada janjiku dulu.

    Kembali aku berusaha melangkah sebaik mungkin dengan benda ini. Langkah ke-dua, ke-tiga, ke-empat.. hingga ke-dua puluh tak ada perubahan. Masih sama buruknya.

    Langkah ke-lima puluh. Kakiku mulai memberontak. Langkahnya semakin getas. Sangat sulit. Kakiku bak menyeret dua anak kecil sekaligus. Tergesek-gesek. Semakin menyayat, hingga aku terkilir. Aku menahan nafas seraya menengadah. Mematri do’a dalam khidmat. Aku tahu, dalam beberapa detik tumpahan makian ibu harus kutabung.

    “Ayah, akan kupegang janjiku, tuk tidak menangis. Segetir apapun itu!” Batinku lirih.

    Hanya aku yang dimilikinya di sini. Tak ada yang lain. Ibu sosok yang cantik. Tapi, pendiriannya lebih teguh dari karang. Semua hal yang dia inginkan harus dimiliki. Meskipun ini melanggar aturan sosial.

    Aku masih terduduk kuyu dengan kaki yang kesakitan.

***

    “Kau tahu! Aku melahirkanmu menjadi wanita! Sosok anggun dan sempurna!” suara ibu semakin memekakkan. Lebih keras dari teriak para penagih hutang. Gendang-gendang telingaku berdengung. Aku meringkuk dalam takut. Kembali aku gagal. Kakiku memerah terluka bergesekan bahan keras high heel. Melepuh dengan sempurna.

    Kali ini dia menamparku. Aku tersungkur. Makian demi makian menohokku. Aku menyapu tatap seluruh ruangan berdominasi pink putih berhamburkan boneka barbie. Sangat indah. “Hanya saja, ini bukanlah tempatku.”

    Rupanya dia belum juga puas dengan tamparannya. Kali ini dia menghantamku dengan rotannya. Sosok sepertinya tak akan bisa menahan panas di dadanya.

   Aku meringis kesakitan. Ibu semakin menyalak buas.. Jangan tanya bagaimana rasanya. Betisku serasa tersayat pisau dapur. Aku tersujud jatuh. Kalah. Aku tak mampu lagi menahan tubuhku. Mataku berkunang-kunang. Ibu menghantamku lima kali dengan rotan.

    “Kau Wanita! Camkan!” ibu menjauhiku, tanpa rasa bersalah. Airmataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. “Maafkan aku ayah. Aku melanggar janjiku.”

    “Aku Alvero, Bu! Aku pria, Bu!” Buncahku. Ibu sangat mengharapkan bayi perempuan di masa hidupnya. Tapi, rahimnya diangkat lima bulan setelah lahiran pertamanya. Ibu memaksa skenarionya. Betisku membiru melegam. “Ayah, aku rindu, ajak aku keduniamu!” Batinku sesak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar