Kamis, 21 November 2013

Kamu Tidak Menerimaku

Oleh : Airly Latifah

    Aku ada di balik bilik gelapku. Merenungkan sesuatu yang kamu acuhkan. Selalu begitu, aku berharap lebih. Sedangkan, Kamu seolah tak memiliki harapan untukku.

    Membayangkan kembali! Yah, itu yang kulakukan. Aku membayangkan hari indah nan cerah di bawah naungan terik matahari, kita ada di sana. Aku dengan baju tak berlenganku dan kamu dengan celana pendekmu. Kita saling melempar tawa. Berlomba memainkan bola pantai. Tubuhmu bermandikan pasir putih, kamu terlalu bersemangat mengejar bola di pantai terkenal kota kita. Permainan ini baru dimulai, Baru akan memanasan. Tapi, langit berbolak balik dengan cepat. Dia menangis tersedu-sedu memanggil pasukannya. Si awan mendung! Tetesannya mengguyur (kita) aku dan kamu. Permainan ini berhenti. Dan, kamu menghilang.

     Sama seperti permainan dan alur memori kisah masa kecilku. Kisah ini terulang di masa remaja kita. Kamu juga pergi, hanya saja tak akan kembali.

***

     Sorenya Tuhan menjodohkan kita tuk bertemu. Dengan caranya sendiri. Cerita ini dimulai saat rambut kuncir duaku tertempel permen karet dari mulutku sendiri. Siang hari itu aku mengunyah tiga permen karet dari guruku.

     Setelah lahap mengunyah manisnya. Aku membuang sepah sembarangan. Tepat di laci mejaku sendiri. Tanpa menyadari sepah itu berbaur dengan dalaman topi merahku!

     Sepulang sekolah aku mengenakan topi itu. Dan TARA!! Rambutku tertempel permen karet dengan sempurna. Wajahku memerah menahan malu menerima tampungan olok-olok. Aku berlari kencang berharap bisa segera pulang ke rumah. Belum juga berapa meter jalan yang kujadikan lintasan lari, aku sudah terhenti karena menabrakmu.

     Tubuhmu tinggi dibandingkan anak seusiamu. Kamu tampan. Dan, mengenalku sebagai si ceroboh. Kukira kamu tak akan pernah mempermasalahkannya.

***

     Kukira juga tak akan ada pertemuan ke-dua. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mempertemukan kita hingga pertemuan ke-empat. Pertemuan terakhir.

     Pertemuan yang lainnya berjalan menyenangkan. Pertemuan ke-dua ini dibuka dengan menemaniku ke salon, demi merapikan potongan rambutku. Di tahun ke-duabelasku, kamu sudah menenggelamkanku dalam perasaan kagum yang luar biasa. Waktu itu aku belum peka terhadap romansa merah jambu.

     Hari itu aku bertingkah. Aku menabrak meja salon dan menjatuhkan semua perlengkapan di atasnya. Saat itu kamu bilang, “Kau sangat lucu!”. Aku tertawa kecil menahan merah di pipiku menerima pujian.

     Usiaku tigabelas tahun dan kamu limabelas tahun. Pertemuan ke-tiga di pantai saat bermain bola voli. Kamu sangat pandai bermain voli. Kamu mengajariku banyak dengan tutur kata sopan. Rasa kagumku bertambah.

     Permainan itu terhenti karena hujan. Kamu menghilang. Dan, aku terus mencarimu.

***

     Usiaku delapanbelas tahun dan kamu duapuluh tahun. Kita bertemu lagi hari itu. Pertemuan ke-empat dan terakhir.

     Tuhan menjodohkan kita bertemu di sebuah pagelaran musik. Kamu menyumbang dua lagu. Keduanya lagu ciptaanmu sendiri. Lagu pertama kamu persembahkan untuk ibu dan ayahmu. Lagu kedua untukku.

     Aku sempurna tersipu malu. Kamu memanggilku naik ke panggung. Tersenyum yang sangat tulus seperti saat di pantai enam tahun yang lalu. Tapi, cerah itu datang menggandeng hujan. Lagumu selesai dengan sempurnah. Aku lah yang merusaknya dengan terjatuh saatu turun dari panggung.
     Mukamu memerah menahan malu. Penonton riuh. Semua mata tertuju pada (kita) aku dan kamu. Sudahku katakan aku ini ceroboh! Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Kamu menghilang. Lagi.

     Tapi kali ini kupastikan tak kembali. Usiaku dua puluh dua tahun, kamu dua puluh empat tahun, Istrimu dua puluh satu tahun, Dan anakmu berusia satu bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar