Jumat, 08 November 2013

Namanya Aini Larasati F

Namanya Aini Larasati F
Oleh : Airly Latifah

    Minggu, 07 Juli 2013

     Airmataku tumpah. Sembilu ini menyayatku sempurna. Tuhan membalik skenarionya, kuharap cerita ini akan kumenangkan. Namun, aku salah. Tuhan meletakkanku pada pihak yang tersakiti.

     Gadis itu. Karenanya yang ia kenal melalui tulisan. Dengan segala keteguhan, aku meyakini gadis itu tak lebih cantik dariku. Oh! Tuhan.. ini penghinaan. Airmataku menganak sungai.

***

      Rabu, 07 Agustus 2013-11-06

       Lagi-lagi kau ke sana. Menghabiskan waktumu di toko buku. Aku tak pernah semarah ini kau menjenguk toko buku. Sungguh, tak akan. Tapi, kau ke sana, membeli buku karangannya. Dia.. dia.. dia..! Pupuslah sudah harapan untukku! Sebagus apa gadis itu?

      Kau bagaikan bayi yang diulurkan sebotol susu olehnya. Tuhan! Kau tahu aku mencintainya. Tapi, mengapa gadis itu hadir lunturkan segala asa.

***

      Senin, 07 September 2013

      Semua ini semakin lama, semakin gila saja. Kau tahu? Apa yang kudapatkan? Gadis itu tidak tamat SMP! Apa hebatnya? Cobalah bandingkan denganku. Aku seorang ketua cheer’s yang dieluh-eluhkan remaja pria. Semua guru mengakui kehebatanku dalam kelas. Dan, dia hanyalah seorang penulis.

      Benar-benar tolak ukur yang telak!

      Apa Ahdan sudah buta, ataukah gadis itu mengirimkan bujuk rayu hitam sehingga dia tergila-gila?

      Come on, Clara! Kau bisa dapatkan Ahdanmu kembali. Kerena dia hanyalah gadis yang penuh dengan nelangsah.

***

      Senin, 07 Oktober 2013

      Rasanya aku mulai lelah berceriwis ria padamu! Kau hanyalah setumpuk kertas. Kau tak ada guna! Seonggok kertas Diary yang bodoh. Khayalan cinta romansa merah jambu para remaja. Tak berarti.

      Aku harus menutupmu lalu kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Aku terhipnotis akan syair-syair cinta yang selama ini kudengar. Syair yang membuat Ahdan semakin jauh.

       Clara akan datang, Ahdan! Bye.. Bye.. Diary bodoh!

***

       Kamis, 17 Oktober 2013

       Aku kembali Diary. Ada jutaan hal yang mengondok untuk kuceritakan. Hanya saja bukan sekarang.

       Tunggulah aku.

***

       Kamis, 07 November 2013

     Diary! Maaf atas segala sikap konyolku. Kau tahu, aku menyesal. Akulah yang bersifat kanak-kanak. Bukan kau, Ahdan, ataupun gadis itu.

     Sore itu, tepat di mana puncak amarahku membeludak, fatamorganaku semakin menggila, sikap ini berada pada tanduknya.

      Di ruangan siaran, aku melihatnya. Gadis pujaan Ahdan. Sosok yang selama ini ku tatap hina dina. Saat itu dia sedang bercerita tentang buku ke-tiganya, suaranya terlalu lamat-lamat untuk kudengar.

      Mataku sudah cukup menjelaskan.

      Sosok itu tersenyum. Sangat kaku. Dia berusaha meraba-raba suasana ruang siaran. Kantung matanya hitam, bukan karena dia keseringan begadang. Aku percaya itu. Pupil mataku memerah. Dalam sekejap airmataku tumpah. Tanpa kuperintah, luluh menghadapi kenyataan.

      Dia tersenyum lagi. Ahdan ada di sana. Tak jauh dari gadis itu. Di ruang siaran, hanya saja bukan dalam bagian.

      Kembali dia tertawa. Aku menangis tersunging. Aku salah menilainya. Perangainya anggun, tawanya sejuk, dan murah senyum. Dia luar biasa. Sangat.

       Aini Larasati Fransiska namanya. Dan, Dia buta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar