Sabtu, 09 November 2013

Pecandu Rindu

Pecandu Rindu
Oleh : Airly Latifah

      Malam ini langit begitu gelap. Rasa panas menyelubungiku, perasaan yang selalu kusebut rindu. Aku ingat betul hari dimana semua ini masih menjadi utuh. Di ujung meja makan kau terbahak-bahak bersama ibu. Membahas sesuatu hal mengenai wanita. Sedangkan ayah dan aku tengah sibuk menonton bola. Tepat pukul dua malam.

      Hari itu berjalan sempurna. Seharian penuh kau habiskan waktumu bersama keluargaku. Duduk bersantai dengan ayah, ibu dan kakekku. Di waktu yang sama aku dan Madivia saling menjitak satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah. Pertengkaran bodoh karena seekor kucing jalanan. Semuanya ikut tertawa. Kau hanya tersenyum tersungging sebentar, tak ingin menertawaiku keras seperti yang lain.

      Rindu. Aku akan selalu menjadi pecandu rindu.

***

      Tepat dua tahun yang lalu. Kau memegang tanganku erat. Mencegahku untuk memberontak meronta. Airmataku luruh membanjiri jemari. “Kau jangan melakukan hal bodoh!” teriakmu lirih jenak itu. Teriakan penghenti tanganku yang sudah nyaris mencekik dokter di hadapan kita. Sang pemakai jas putih yang tak bisa menyelamatkan kakakku, Madivia. Malam itu berlalu panjang dan sunyi. Aku bersyukur kau ada menemaniku mengikis sedikit kesunyian. Kau memelukku, memberiku kekuatan saat Madivia meninggal.

      Aku benci kenyataan ini. Rasanya lidahku keluh menerima kenyataan Madivia meninggal karena luka hatinya di campakkan sang kekasih. Malam sebelum ia meninggal, Madivia sempat meneleponmu. Bercerita dengan suara kuyu bahwa pilihan hatinya mencapakkannya karena wanita yang lebih kaya. Kau mematung mendengarkan ceritanya, takut angkat bicara. Kau tak ingin menambah lukanya. Aku tahu betul sikapmu.

      Bukan hanya itu. Masih terpatri betul cerita kesetiaanmu. Hari dimana kau rela menemaniku di satu malam yang sangat panjang. Malam dimana kakek dinyatakan ikut tenggelam dalam kecelakaan pesawat.

      Aku, kau, ibu dan ayah ada di situ saling berlomba tangis. Kita semua berharap kakek pergi meninggalkan kota ini untuk bertemu dengan cucunya di semarang. Namun, Tuhan punya ceritanya sendiri.

      Kakek meninggal dalam pesawat yang hilang kendali dan mendarat di tengah laut yang mahaluasnya. Jasad kakek tak ditemukan. Kau menangis merengek malam itu sambil terus saja memuji sikap baik kakek semasa hidupnya. Rasanya kau lebih mengenal kakek dibandingkan aku. Bandara Manado menjadi saksi kehidupan cinta kita.

      Kau ingat malam yang lainnya? Malam dimana mataku memerah menangis! Kenyataan yang lebih pilu menohokku malam itu. Dan kau malah berusaha tak menitihkan airmata. Berusaha terlihat tegar.

      Kau memasang benteng tegar agar aku tak terlihat lebih nelangsah. Aku menangis hingga tak sadarkan diri saat ibu dan ayah meninggal tepatnya dua tahun sepeninggalan kakek dan satu tahun sebelum kakak meninggal.

      Kau ada di sana. Melakukan penanganan pertama lebih sigap dari suster kepadaku. Di saat aku pingsan dalam tangisku.

      Malam itu aku tak melihat kau menangis. Tapi, aku tahu hatimu lebih dari teriris. Kau hanya bersikap seperti itu agar aku merasa lebih baik. Agar tak bertambah lukaku.

      Kau memang sosok yang paling pintar memberiku semangat.

      Kini sempurna sudah aku sebagai sosok pecandu rindu. Semua ini terasa semakin sulit siang itu. Siang minggu ke-duapuluh setelah kematian Madivia.

     Aku adalah pecandu rindu. Rindu yang tertanam pada kakak, ayah, ibu, kakak dan padamu.

***

      Mataku begitu lusuh. Aku terbangun tepat pukul delapan pagi. Terbangun karena semua panggilan tak terjawabmu yang meriuhkan gendang telingaku. Pagi itu lebih dari sepuluh panggilan tak terjawabmu menyapa pagiku. Aku mencoba membalas panggilanmu. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan..” pesan itu yang kudengar. Aku menghela nafas panjang.

      “Apa ini semua ada kaitannya dengan perkataanmu semalam?” batinku sesak.

      “Affan, Aba memintaku untuk memutuskan hubungan ini.” Terngiang dengan sangat jelas kata-kata itu. Aba-mu memang tak menyetujui hubungan ini. Mengingat aku hanyalah sosok sebatang kara yang tak mampu membelikanmu rumah mewah. Tapi, aku yakin mampu memberimu cinta yang luar biasa.

      Airmataku mengalir membayangkan apa yang akan terjadi sore nanti.

***

      Kau meronta menolak perintah Aba untuk memutuskan hubungan ini. Namun, Aba tak tinggal diam. Sorenya kau berangkat dengan pesawat. Meninggalkan kota kita, Sulawesi Utara. Manado. Tanpa kuketahui kemana. Kau sempurna menghilang dari kehidupanku sore itu.

     Kau meninggalkanku dengan sejuta rindu.

     Kembali aku terduduk pada kursi tua berbahan rotan warna cokelat tua buatan kakek dulu. Mematung memandangi dinding yang mengambarkan wajahmu. Wajahmu yang tersenyum tipis dalam foto bertogamu, aku ada disana merangkulmu. Tersenyum lebih lebar. Di samping foto kita ada foto pernikahan ayah dan ibu. Lalu? jangan tanya dimana kakek dan Madivia! Mereka ada di sebelah. Tersenyum manis memamerkan deretan gigi putih mereka, saat itu Madivia tengah dipangku nenek. Foto yang sangat sempurna dan bahagia.

      Aku seorang pecandu rindu. Dan itu tak akan pernah berubah. “Tuhan, pertemukanlah aku dengan mereka. Walaupun hanya lima menit. Relakan aku membuang sedikit rasa rindu ini.” batinku berdo’a dengan khidmat.

      Malam ini, sebuah cahaya yang mahaterang menghantam mataku. Menyapu setiap sudut ruangan kota. Langit sempurna berbolak balik.

***

      Aku melihatmu. Kau ada di sana tepatnya di ujung meja makan. Kau terbahak-bahak bersama ibu. Membahas sesuatu hal mengenai wanita. Sedangkan ayah dan aku tengah sibuk menonton bola. Tepat pukul dua malam.

      “Ibu! Pelankan suaramu. Jangan sampai para lelaki ini mendengarkan percakapan kita.” ucapmu mengingatkan. Ibu semakin membesarkan suara tawanya. Kau ikut tertawa tak kalah riuh.

       Jujur saja. Aku mematri sebuah janji. “Kan kutanyai kau sebentar tentang hal ini. Aku penasaran. Tengah berbicara apa kau dengan ibu.” batinku setengah memperhatikan televisi.

      “Bagaimana pertandingannya?” suara kakek terdengar. Kakek ada di sampingku. Mencoba mendudukkan tulang rapuhnya di kursi. Ayah hanya menoleh sebentar dan tak berselerah menjawab. Sedangkan aku? Aku tak tahu harus menjawab apa. Sedari tadi aku mengupingkan kau dan ibu.

      “Ibu! Kucingnya Affan tidur lagi di kasurku!” suara kak Madivia menggelegar di seluruh rumah. Madivia mengamuk lebih riuh.

       Lagi-lagi kakak menggerutu. Memaki kucingku yang tak bersalah. Seolah kucingku memiliki penyakit lepra. Aku mengacuhkan amukannya dari bilik kamar berwarna pink itu. Malas memikirkan apa yang terjadi padanya. Mataku menatap jam dinding. Pukul dua lewat lima menit.

      Seketika cahaya yang mahaterang menghantam mataku. Menyapu setiap sudut ruangan kota. Langit sempurna berbolak balik.

     “Tunggu! Bukannya cahaya itu sudah pernah kulihat sebelumnya?” batinku dihinggapi tanya.

***

      Kembali aku terduduk pada kursi tua berbahan rotan warna cokelat tua buatan kakek dulu. Mematung memandangi dinding yang mengambarkan wajahmu. Wajahmu yang tersenyum tipis dalam foto bertogamu, aku ada disana merangkulmu. Tersenyum lebih lebar. Di samping foto kita ada foto pernikahan ayah dan ibu. Lalu? jangan tanya dimana kakek dan Madivia! Mereka ada di sebelah. Tersenyum manis memamerkan deretan gigi putih mereka, saat itu Madivia tengah dipangku nenek. Foto yang sangat sempurna dan bahagia.

      Cahaya itu baru saja pergi bersama guntur yang menggelegar. Tuhan mendengarkanku, menjawab do’aku untuk bertemu dengan kalian walau hanya lima menit. Aku berterima kasih pada Tuhan yang menjawab rindu ini. Lima menit yang sangat berharga. Tak lama memang. Tapi, kurasa sudah cukup. Tuhan tahu, jika ia menyekapku lebih lama. Aku akan berdo’a untuk menyusul kakek, ayah, ibu dan Madivia. Lalu melupakanmu yang masih hidup di dunia ini.

     Aku mencintaimu. Aku masih di sini. Di kota kita, Sulawesi Utara. Manado. Dan aku tetap menjadi pecandu rindu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar