Minggu, 09 Maret 2014

Tak Sebening Kristal #Telah Terbit

Oleh : Airly Latifah

    Aku mencintai ayah dan ibu melebihi segalanya. Jikalau ada Tuhan kedua, dialah ayah dan ibu. Mereka seperti udara dalam setiap tarikan nafasku. Mereka lebih dari isi dunia. Mereka tambang surga firdaus.

     Pertengkaran hebat semalam membuatku membeku. Aku layu melihat mereka saling meneriaki, seolah lupa kemesraan yang dua puluh tahun ini mereka bina. Kristal berbentuk hati ini akan kuhadiahi untuk mereka. Kristal yang kuharap mampu membeningkan kekeruhan hati mereka.

    Kupeluk kristal ini dengan erat. Jelas aku tak ingin menjatuhkannya. Seluruh recehan celenganku habis demi menebusnya. Kristal bening ini sama sekali tak memiliki tombol untuk berubah warna. Tapi aku yakin ini lebih dari cukup. Bisa kubayangkan binar mata ayah dan ibu melihat kristal ini. Mereka akan mengingat dengan jelas moment di mana ayah melamar ibu. Dengan kristal berbentuk hati bening, yang jika ditekan tombolnya akan menyala merah. Sangat cantik. Secantik binar mata ibu saat bercerita.

    Aku adalah anak tunggal dari keluargaku. Beberapa orang jika melihatku mereka akan tertawa, mereka bilang “Kau sangat tak mirip dengan ayah dan ibumu!”. Aku hanya ikut tertawa. Lucu! Mereka mengiraku anak pungut. Aku cekikikan dibuatnya. Ayolah... itu tak mungkin. Aku kembali tersenyum. Lagi-lagi mempererat pelukan pada kristal di tanganku.

     Kulangkahkan kakiku pelan berirama. Masih dengan tangan memeluk kristal telanjang tak berbaju. Sinar matahari yang menyambar kristal ini membuatku semakin bersemangat untuk menunjukkannya pada ibu dan ayah. Aku ingin tak ada lagi cekcok mulut mereka. Aku percaya adu mulut ayah dan ibu tak menyinggung fisik.

***

     “Ibu! Berhentilah bersikap bersikap kanak-kanak” suara ayah menderu dari balik pintu utama rumah. Aku menelan ludah. Pertengkaran itu kian memanas.

     “Ayah! Kau lebih kanak-kanak dengan memintaku mencintainya!” aku merapatkan telinga di pintu. Berharap dapat mendengarkan titik permasalahan ayah dan ibu.

     “Terimalah, Bu!” tegas ayah dengan suara lebih tinggi.

     “Aku menerimanya! Tapi, aku tak bisa membohongi diriku! Anakku tak hidup dalam dirinya!” suara ibu semakin menjadi-jadi. Tunggu! Maksud ibu aku tak hidup dalam diri siapa? aku melongo. Semakin penasaran. Lebih merapatkan telinga.

     “Ibu! Jangan hancurkan hatinya! Jadikan ini rahasia!” suara ayah melembut. Ayah sedang berusaha meluluhkan suasana.

     “Aku tak bisa!” terdengar isak tangis ibu. Hatiku seperti tertusuk sembilu. Pertengkaran yang baru kudengarkan selama bertahun-tahun ini membuatku lumpuh berbicara. Nelangsah. Kuberanikan membuka pintu, berharap mampu mencairkan suasana dengan kristal yang ku bawa. Pintu berecit pelan.

     “Anakku sudah lama meninggal ayah! Dia bukan anakku!” terdengar suara ibu semakin parau. Aku mendengar sangat jelas tanpa perantara pintu. Apa tadi? Anak ibu sudah lama meninggal? Lalu.. Aku ini siapa? Lututku lemas. Aku tak bisa menahan bobot tubuhku. Kenyataan pahit ini membuatku tak berdaya. Kepalaku terhantam pintu. Kristal dalam pelukanku pecah. Tanganku bersimbah darah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar