Jumat, 22 November 2013

Vini

Oleh : Airly Latifah

    “Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” tanyaku tanpa berfikir panjang. Gadis itu berjalan ke kiri-kanan. Begitu terus berulang-ulang. Etalase semi transparan ruangan kantor yang membuatku mengintip tingkahnya.

     “Pusing! Laporan ini tak akan pernah selesai.” ia memanyunkan bibirnya. Sangat lucu. Bibirku tersunging kecil. Anak aneh! Batinku mengolok.

     “Kau memang tak pernah berhasil mengerjakan laporan bulanan, Vini.” ledekku diikuti tawa getir. Ia membalas tak kalah nelangsah.

     “Hy! Lalu kau sendiri sedang apa di sini? Bukannya jam lima tadi kau sudah pulang?” tanyanya keheranan sambil melirik sebentar jam dinding. Pukul delapan malam.

    “Aku merindukanmu!” balasku sembarang ucap.

    “Lebih baik kau membantuku. Sebelum aku di temukan tewas esoknya karena laporan.” Ia tertawa. Lagi. Tawa yang sangat khas. Tawa yang kurindu. Ia tahu betul tabiatku yang selalu berkelakar.

     Aku mendekatinya. Menerawang komputer yang sejak tadi menyala. Mencoba membantu. Mungkin Tuhan menggariskan ponselku tertinggal di kantor malam ini. Tuhan mengariskan kita terperangkap. Aku tersenyum penuh seloroh.

***

    Vini. Gadis berkaca mata tebal berhidung bangir yang selalu membuatku tertawa. Gadis tetangga meja menyebalkan pemilik celutukan aneh. Dapat kuingat betul tingkahnya tempo hari. Saat aku tak sadar kursiku mundur duapuluh sentimeter dari posisinya. Tanpa ba-bi-bu aku terjatuh duduk di lantai putih kantor. Dia tersenyum puas penuh kemenangan.

    Pernah pula, sewaktu dia mengeringkan hasil cetakan warnanya. Aku datang dengan hidung pilek hanya berniat menengok karyanya. Hal itu terjadi, aku bersin. Cairan kental itu keluar. Basah. Melunturi. Dia mendengus berat kemudian menjitakku pelan. Aku tak sengaja. Sungguh. Tapi, aku berniat mengulangnya.

    Pertemuan delapan jam dalam lima hari seminggu. Tawa khas. Gurauan. Menabur benih cinta yang tak sungkan membuat hati ini bersemu. Vini.

    Aku takut memulai. Takut ia tak memiliki rasa yang sama. Tiga tahun perasaan ini tumbuh tanpa berani kuungkapkan. Tiga tahun yang sia-sia. Kutabung rasa yang mahaindah.

***

    “Johanes?” kepalaku tertoleh. Senyumnya sangat lebar. Blouse pink dan rok sepaha hitam itu sangat terlihat menawan di tubuhnya. Rambutnya tergurai berombak. Aku menelan ludah.

    “Hallo?” ungakapnya membuyarkanku.

    “Iya!” jawabku spontan.

    “Aku ingin bicara padamu.” tatapannya penuh bahagia.

    “Ada apa?” tanyaku. Heran.

***

    Ia menarikku. Menuju suatu tempat yang cukup sunyi. Aku harus jujur padanya saat ini. Harus! Ini kesempatan emas! Tahun keempat tak boleh berjalan sia-sia. Aku mencintainya. Aku tak ingin kehilangan tawa khas itu! Batinku membesarkan hati.

   “Jo?” dia memulai. Ohh. Ayolah! Jo! Ambil alih pokok pembicaraan! Segera!

   “Vini. Aku...” ungkapku terpotong. Penuh ragu.

   “Maaf membawamu ke tempat seperti ini. Kau tahu. Prasetyo melamarku! Hanya berbilang hari kami akan menikah. Aku sangat bahagia” gelap sudah penglihatanku. Sangat gelap. Musnah semua. Sia-sia. Mataku berkunang-kunang. Aku tak dapat mendengakan Vini lagi. Terlalu menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar