Jumat, 13 Desember 2013

Antara Cinta dan Benci

Oleh : Airly Latifah

   Mencintai itu bukanlah tentang rupa. Bukan pula tentang harta. Tapi, mencintai tentang sebuah kebersamaan. Terlalu angkuh mereka yang bersuar bahwa mencintai tak harus memiliki. Bagiku, cinta adalah kekuatan mahadasyat sebuah kenangan yang saling menggenggam.

   Kevin Al Adrian. Sosok musisi luar biasa. Wajahnya selalu berhasil meneduhkan hatiku. Semua hal tentangnya kuanggaap cinta. Kevin hadirkan kemerduan di antara riuhnya suara sumbang. Terlalu indah tuk berlalu begitu saja.

   Kevin tak pernah tahu bagaimana cara kami bertemu. Tak tahu bagaimana perasaan ini tumbuh subur tanpa pupuk. Tapi, Kevin selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik.

   Hari ini dia menyanyikan sebuah lagu. Di balik petikan gitarnya dia bernyanyi di bawah remang-remang lampu jalan. Lagu ketiganya untukku. “Kelak, ketika album rekaman pertamaku dikeluarkan. Album itu akan kudedikasikan untukmu. Karena, kau adalah apa yang kunyanyikan.” celotehnya dengan mata berbinar. Kata-kata yang selalu kudengar di setiap akhir nyanyiannya.

   Kevin Al Adrian. Seorang pria yang hadir dengan cinta tanpa syarat. Tanpa alasan. Tak ada apa-apa. Hanya sebuah rasa yang tumbuh begitu subur tak kenal layu.

   Di balik remang-remang lampu jalan, Kevin menatapku lamat-lamat. Rambutku yang dihantam angin malam berlarian tak jelas arah. Anak rambutku tak kalah ikut meramaikan gerakan angin. Seolah menjadi saksi bahwa bukan hanya rumput yang bergoyang sang pemberi jawaban bisu.

   Angin. Datang dalam sekali hembusan. Tanpa tahu dia akan menghantam siapa, dimana, bagaimana, ataukah kapan. Angin selalu berhembus pada suatu tempat. Selalu punya jawaban untuk tinggal atau berlalu. Dan, Angin tak akan berhembus dua kali di tempat yang sama.

   Kau ini seperti angin, Kevin. Apapun resikonya aku akan selalu menjagamu agar tak pergi. Yah, sekali pun harus membuang identitasku. “Bagaimana cara kita bertemu?” kemarin lagi-lagi kau lontarkan pertanyaan itu.

***

    Malam itu. Di bawah hujan yang mahaderas. Langit menguyur kota kita. Palu, Sulawesi Tengah. Tepat sekitar dua tahun yang lalu. Satu tahun lima bulan sebelum kau kehilangan ingatanmu. Malam itu kau kuyu menatap komputermu. Berteriak dengan suara yang memekakkan telinga. Kau menjambak rambutmu tanpa perduli kulit kepalamu memerah.

    Keluargamu bangkrut. Saham perusahaan dari kakekmu habis terjual pada orang lain. Kau membeku di ruang kerjamu. Berfikir mencari jalan keluar untuk tetap mempertahankan kursimu. Rayhan Al Adrian, kakakmu mengambil jalan yang lain. Rayhan dengan sebilah pisau menembus hujan. Dendam membara hebat dalam dada dan pikirannya.

    Malam itu, pukul dua lebih tiga menit. Rayhan membunuh orang yang menyabotase saham keluargamu. Tepatnya, membunuh ayahku.

***

    Dendam. Penyakit hati yang tak mengenal rasa puas. Siang itu sebuah kecelakaan merenggut ingatanmu. Satu tahun lima bulan setelah ayahku meninggal. Bastian, kakakku mengutusku menuntaskan dendam keluarga. Menjadikanku alat untuk menjebak. Dendam keluarga kita tak berkesudahan.

    Tuhan, sang pembolak balik hati menunjukkan kuasanya. Dendam itu tak hidup dalam diriku. Angin berhembus dalam diriku. Dan sudah kukatakan tadi. Kaulah anginnya.

    Aku tak akan membiarkan kau berlalu begitu saja. Dan, kumemilih mengkhianati amanah.

***

   Lagumu selesai. Tanpa bosan kau mengucapkan kata-kata yang sama, “Kelak, ketika album rekaman pertamaku dikeluarkan. Album itu akan kudedikasikan untukmu. Karena, kau adalah apa ....” aku tak mendengar lanjutannya. Bibirku layu begitu manatap Bastian.

   Bastian ada di sana, di balik remang-remang lampu jalan. Dia tepat di belakangmu Kevin! Dengan sebilah pisau lipat di tangannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar