Sabtu, 07 Desember 2013

Harus berapa kali kubilang bahwa aku mencintaimu

Gadis itu terdiam kuyu. Aku tahu banyak hal  yang ia alami belakangan ini. Di samping ranjang putih berbahan besi. Dadaku semakin teriris melihatnya tertidur tanpa daya. Entah harus bagaimana cara agar dia kembali pulih. Tertawa bersamaku, menyuguhkan kopi terenak buatannya, dan bahkan jika dia harus merepotkanku dengan aturan-aturannya. Apapun itu asalkan ia bisa tersenyum sehangat minggu kemarin.

Dia gadis yang cantik. Clarisa, matanya cokelat gelap dengan kulit putih. Kami berbeda agama. Tapi itu tak pernah menyurutkan perasaanku padanya. Bahkan aku sendiri tak tahu, mungkinkah ada hal yang mampu menyurutkan perasaanku padanya. Aku selalu melihat cerahnya salju di dalam tatapan matanya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Clarisa bangun dari tidurnya. Lagi-lagi dia menolak kehadiranku.
"Aku selalu datang. Tak pernah tidak!" jawabku tegas.
"Tapi, sudah kukatakan kau tak perlu datang. Tak ada yang mengharapkanmu." jawabnya sinis.
"Aku tahu kau membutuhkanku!" suaraku sedikit meninggi.
"Tidak sama sekali! Ada ayah dan ibuku. Aku tak membutuhkanmu." Clarisa enggan menatapku.
"Kenapa kau menghindariku?" tak ada yang terdengar. Clarisa enggan menjawab pertanyaanku. Seolah ia lumpuh berbicara.

Hari ini sudah genap dua minggu ia terbaring lemah di rumah sakit. Dan terhitung lima hari sudah dia tak mau menemuiku. Aku sendiri tak tahu apa alasannya. Dia menghindariku. Padahal masih teringat dengan jelas di memoriku. Sebelum tubuhnya tergulai seperti ini akulah orang yang dipeluknya. Akulah yang ia teriaki bantuan.
Sikapnya berubah lima hari terakhir. Semua penjenguk ia terima, sekali lagi terkecuali aku.

Sore itu aku berniat memperjelasnya. Aku tak ingin dia pergi dalam keadaan membenciku.

Langkahku sedikit ragu memasuki ruangannya. Sempat beberapa kali aku ingin mundur teratur. Tapi, aku yakin hanya pengecut yang akan melakukannya.
"Kenapa kau menghindariku?" aku menatapnya. Kali ini dia menatapku. Walaupun hanya sepersekian detik.
"Kenapa kau harus memperhatikanku?" balasnya.
"Kau konyol!" makiku, dia selalu pintar untuk mengalihkan pertanyaan. "Kau tahu aku mencintaimu!" lanjutku lagi.
"Kenapa kau mencintaiku?" Clarisa perlahan menunduk. Aku tahu suasana hatinya semakin teriris sekarang. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu dariku.
"Kumohon! Harus berapa kali kukatakan bahwa aku mencintaimu!" Clarisa terisak pelan. Menghapus airmatanya cepat. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapanku. Akan selalu begitu.
"Apa maumu?" tanyanya dalam keadaan masih terisak.
"Aku mencintaimu! Sudah berapa kali aku mengatakan itu. Kau sudah mengetahui itu dengan pasti. Bolehkan aku mengetahui perasaanmu padaku?" tanganku mencoba meraih tangannya yang lemah.
Pipinnya semakin menirus. Wajahnya semakin pucat. Dia akan semakin lemas.
"Aku tak bisa melakukan apa-apa! Apa yang kau harapkan dariku!" suaranya masih dalam keadaan terisak. "Kau tahu, aku membutuhkan jantung baru! Setidaknya jika aku pergi. Kau akan merasa lebih baik." dia menunduk.
Kucoba menyentuh pipinya. "Aku mempertanyakan perasaanmu."
"Aku yakin, kau tahu perasaanku. Aku juga mencintaimu. Tapi, perasaan ini tak akan pernah berarti sebelum aku menemukan jantung baru. Dan, ketika aku gagal menemukan jantungku, kuharap kau mampu menghapus rasa ini."
"Bertahanlah, demi aku!"
"Demi cintamu." Clarisa tersenyum sebentar.

Yah, dialog itulah yang terngiang dalam benakku. Sangat jelas. Kini semuanya tinggal kenangan. Hari ini, tepat empatpuluh hari kepergianmu, Clarisa.
Setidaknya aku tenang karena telah mencintai orang yang tepat.

Dari bilik rindu akan dirimu
Airly Latifah
AirlyLatifah.blogspot.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar