Selasa, 31 Desember 2013

Mia, Bidadari Kecil dan Pergantian Tahun




Mia, Bidadari Kecil dan Pergantian Tahun
Oleh : Airly Latifah
Rahman melirik sekitarnya. Dalam pelukannya tertidur gadis kecil bernama Mia. Benar-benar ramai keadaan sekitar. Rahman harus berjalan puluhan kilometer demi menuju kawasan Pantai Losari. Pusat perayaan tahun baru di kotanya. Makassar, Sulawesi Selatan. Semua akses jalan ditutup. Rahman harus berjalan kaki. Tak peduli berapa jarak jauhnya, Rahman tak akan lelah. Hanya demi Mia. Demi melihat gadis itu tersenyum.
Sesekali Rahman menatap gadis kecilnya. Usianya enam tahun. Gadis cantik, berhidung bangir, kulit putih yang selalu memakai bandol kupu-kupu yang selaras dengan celana jeansnya. Bandol yang selalu miring.
Rahman sayang betul pada gadis kecil dalam pelukannya. Dengan gerakan yang lembut Rahman mencoba membangunkan gadis dalam pelukannya.
“Kita sudah sampai di Losari, Nak! Tempat ini sangat ramai. Kalaupun kau ingin berjalan-jalan menikmati suasana tetaplah memegang tangan Ayah.” tegas Rahman pada gadi itu.
“Belikan aku Pisang Epe, Ayah!” bujuknya manja. Masih dalam pelukan Rahman. Tubuh kecilnya merasa sangat malas untuk berjalan.
“Kau ingin berapa porsi?” tanya Rahman menyapu pandangannya. Menilai kualitas setiap gerobak Pisang Epe yang bertaburan di Pantai Losari. Makassar.
“Tak usah banyak-banyak Ayah.” gadis itu terdengar tertawa pelan.
Tahun ini. Pergantian tahun kedua Rahman bersama Mia. Seumur hidupnya. Rahman berjanji akan mencintai Mia. Memeluknya, mencintainya, menghidupinya.
Rahman sesekali mencium pipi putrinya. Merapikan pakaiannya yang terlihat kusut karena digendong tadi.  
***
“Kapan Ayah akan menikah?” tercetus sudah pertanyaan yang beberapa tahun ini menggantung di langit-langir mulut Mia.
“Menikah! Apa maksudmu, Nak? Kau lebih dari cukup.” ungkap Rahman seraya mendudukan dirinya. Mencoba berbicara lebih dekat dengan Mia yang sedari tadi duduk malas di sofa.
“Mia butuh Ibu, Ayah.” Mia mencoba merapikan posisi duduknya. Meraba-raba mencari tangan ayah. Berusaha menggenggamnya.
“Mia yakin dengan keputusan itu?” tanya Rahman meyakinkan.
            “Jika wanita itu baik menurut Ayah. Mia percaya dia juga baik untuk Mia.” ungkap Mia tersenyum pelan.
            Entah Rahman ingin menjawab apa permintaan putrinya. Mereka sudah hidup selama ini tanpa sekali pun membicarakan hal sesensitif ini. Rahman juga tak pernah berfikir untuk menikah. Baginya Mia sudah cukup mengisi kehidupan dan kebahagiaannya.
            Rahman takut wanita pilihannya tak mau menerima Mia. Tak mau menerima Mia sebagai anaknya. Rahman bukanlah seorang duda. Sungguh! Dia seorang bujang yang mengadopsi anak pengemis jalanan. Anak yang selalu dihadiahi tamparan.
            Mia, anak adopsi. Bukan hanya itu. Mia juga buta. Sangat sulit mencintainya dan menerima semua kekurangan Mia. Tapi, Mia adalah anak yang sangat baik dan manis. Mia adalah bidadari kecil Rahman.
            Mia buta juga dikarena pernah terjatuh diri atas tempat tidur tinggi. Syaraf penglihatannya terganggu. Kelopak matanya tak pernah terbuka sejak itu.
***
            Tiga bulan setelah pembicaraan itu. Rahman mulai membuka matanya. Memerhatikan semua wanita yang mencoba mencuri perhatiannya. Cukup banyak. Tetangganya yang  janda juga turut ambil andil dalam menggodanya. Hanya saja Rahman harus berhati-hati. Tak ada yang lebih membahagiakan dari putrinya.
             Belum bersih benar pikiran Rahman. Terkadang ada beberapa jenak Rahman mengukuhkan niat untuk menolak permintaan Mia. Tapi, diurungkan ketika menatap gadis kecil itu. Rahman tidak tega.
            Rahman kembali melajukan kendaraannya. Sesekali melirik gadis yang berjalan di ruas jalan. Ada yang hendak menyebrang ada pula yang hanya sekedar berhenti menerima telepon. Tak ada yang menarik hati. Pakaian mereka terbuka sedada. Seolah berlomba-lomba memamerkan diri. Sungguh! Bukan seperti itu ibu yang baik bagi Mia.
            Rahman melajukan Avanzanya menembus sudut-sudut kota. Mia sendiri masih sibuk dengan biolanya. Mia sangat menyukai biola.
            Pencerahan itu datang dari kawan lama Rahman. Sekitar enam bulan setelah pertimbangan panjang Rahman untuk menikah atau tidak. Tapi biar bagaimana pun. Mia benar. Dia butuh ibu.
Burhan, lelaki itu menceritakan tentang Intan. Seorang calon perawat yang sedang menganggur karena gagal tes terakhir kuliah keperawatan Universitas Indonesia Timur.
            Burhan mendapat kabar bahwa saat ini Intan juga sedang mencari pasangan. Burhan juga sudah pernah mengenalakan Intan pada sepupunya. Tapi, Intan tidak merasa cocok. Karena Intan mencari lelaki yang lebih matang dan dewasa.
            Siang itu, janji bertemu diatur.
***
           
            “Namaku Intan, Daeng! Keturunan asli Makassar. Sebenarnya nama itu Pa Daengang. Daeng Intang tapi saya lebih suka dipanggil intan. Terdengar kampungan kalau Daeng Intang.” jawab Intan malu-malu di siang berikutnya. Di sebuah tempat berkumpul Pisang Goreng Nuget.
            “Kalo Daeng sendiri keturunan Bugis. Mamak tinggal di Malili.” perkenalan yang sangat sederhana. Rahman sendiri masih belum ingin mempertemukan Intan dengan Mia. Rahman ingin menilai gadis itu lebih baik.
            Rahman sekarang sudah menginjak usia tiga puluh tahun. Sedangkan Intan sekitar delapanbelas tahun menurut pengakuannya. Sedangkan Mia masih berusia enam tahun.
            Perkerjaan Rahman sebagai arsitek perumahan dan ruko sebenarnya sudah sangat mencukupi. Perawakan Intan sangat cantik. Rambutnya lurus jatuh. Hanya saja dia terlihat sedikit kanak-kanak. Belum begitu dewasa untuk menikah. Toh, perbedaan jarak yang tak jauh antara Intan dan Mia mungkin akan membuat mereka lebih akrab.
            Hari itu, Rahman membulatkan tekatnya. Dalam waktu sebulan perkenalan Rahman akan memperkenalkan Intan pada Mia. Jika, Mia setuju pernikahan itu akan berlangsung.
            Pernikahan ini hanya akan berlangsung karena Mia. Titik.
***
            “Tahun baru ini kita akan kemana, Ayah?” tanya Mia sambil mencoba mengikat tali sepatunya. Gagal. Tapi Mia terus saja mencoba. Hingga percobaan ketiga baru berhasil. Sedangkan tali sepatu kirinya diikatkan oleh Rahman.
            “Bagaimana kalau kita menginap di Bantimurung Bulusaraung. Ayah akan memesan tiga kamar.” jawab Rahman sembari merapihkan tas selempangnya. Tas yang berisikan gambar arsitektur salah satu bangunan ruko Sudiang.
            “Tiga kamar? Itu berarti Tante Intan akan ikut?” tanya Mia. Terbersit nada tertarik dari suaranya. Rahman hanya bisa membaca pikiran putrinya dari nada bicaranya. Rahman tidak bisa membaca itu dari mata Mia. Karena, kelopak mata itu selalu tertutup.
            “Iya. Kau senang?” tanya Rahman.
            “Aku ingin bermain air bersama tante Intan.” Suara itu benar-benar terdengar bahagia. “Ayah, bolehkah aku membawa biolaku?” lanjut Mia.
            Rahman hanya mengangguk sebentar. Dan, dalam satu hentakan menggendong gadis kecilnya untuk segera berangkat ke sekolah.
Sekolah luar biasa.
***
            Rahman dan Intan menikah di bulan Juli. Di bawah terangnya lampu di rumah Intan janji setia dan hidup semati itu berkoar-koar. Menjadi saksi bahwa mereka akan saling menyayangi dan mencintai dalam suka mau pun duka.
            Rangkaian acara dilewati dengan baik dan sempurna. Acara Lamaran , Mappaci, dan Resepsi. Hanya sedikit terjadi perdebatan dalam pembahasan Dui Pappenre. Tapi, tak begitu diperlebar.
            Mia sendiri yang turun langsung menjadi Passappi. Awalnya keberadaan Mia sempat dipermasalahkan keluarga Intan. Cukup lama. Panjang. Tapi, pernikahan itu tetap berlangsung. Entah kenapa bisa permasalahan tentang Mia dilupakan begitu saja. Dianggap selesai. Tanpa pembicaraan panjang seperti masalah Dui Pappenre.
            Dengan Baju Bodo (Perempuan) dan Baju Bella Dada (Laki-laki) pernikahan itu berlangsung dengan meriah dengan nuansa hijau diacara akad nikah dan Gold di acara resepsi.
***
            Hari ini sekitar lima bulan setelah pernikahan Rahman dan Intan. Sejauhnya berjalan lancar. Dalam beberapa bulan ini juga Rahman masih sering di rumah. Hanya keluar di hari sabtu dan minggu. Selebihnya sibuk menggambar di rumah.
            Mia sendiri masih sibuk bermain dengan biola barunya. Sedangkan Intan sedang sibuk mengurus segala keperluan makan siang.
            Hari santai itu berantakan karena Intan tiba-tiba pingsan di dapur.
***
            Dua bulan kemudian kabar pingsan Intan menjadi hadiah bagi seisi rumah. Dokter menyampaikan kabar bahagia itu. Kabar bahwa Intan mengandung. Baru dua minggu. Tapi, usia kandungan yang sangat rawan.
            Mia turut senang dengan kabar itu. Sangat senang. Akhir tahun itu dilewati dengan riuhnya tangis bahagia.
***
            Tahun baru ini Mia tak berselera untuk ikut bersama Rahman. Untuk pertama kalinya Mia menolak ajakan Rahman untuk menemaninya meledakkan petasan di langit. Atau sekedar makan Pisang Epe di Pantai Losari. Rahman tak tahu kenapa putri kecilnya menolak.
            Rahmat tak bisa membaca apa-apa. Tak ada tatapan mata yang bisa dibaca dari Mia. Kelopak matanya tertutup. Rahmat juga tidak tahu bahwa biola baru Mia sudah patah. Sama kasus dengan biola pertama Mia yang dulu. Patah juga. Dipatahkan. Rahman tidak tahu.
            “Aku hanya ingin di rumah, Ayah!” jawab Mia saat dibujuk untuk kesekian kalinya. Jawaban yang lirih.
            Rahman tak berani bertanya lagi. Tahun baru waktu itu, Rahman lewati hanya berdua dengan Intan. “Aku hanya ingin di rumah, Ayah! Kakiku belum sembuh benar.” batin Mia setelah mendengar deru mobil Ayahnya meninggalkan rumah. Meninggalkannya.
***
            “Bagaimana Ibumu?” tanya Ayah. Hari ini bulan ke tujuh kehamilan Intan.
            “Ibu baik. Ayah seharusnya menemani ibu membeli perlengkapan bayi.” Suara Mia terdengar lirih.
            “Mia, usiamu sudah sepuluh tahun. Ayah mengenalmu. Ayah tahu suara itu.” Rahman tahu. Rahman mulai mengerti sekarang. Suara Mia tak pernah terdengar tegas ataupun manja lagi. Hanya suara lirih atau tangis tertahan yang selalu ia dengar. Hanya saja, Rahman kurang peka akan hal itu.
            “Aku tak apa, Ayah!” tegas Mia. Rahman juga baru menyadari, bahwa putrinya terlihat lebih ringkih. Sebenarnya apa yang Mia rasakan. “Aku hanya tak ingin posisiku diambil, Ayah. Hanya itu.” suara Mia tertahan.
            Rahman memeluk Mia. “Tak akan ada yang digantikan, Nak!” untuk pertama kalinya. Rahman menyadari selama ini putri kecilnya menangis. Tapi, ia tak pernah mengetahui itu. Mata Mia tak menangis. Tapi, hatinya menangis. “Tak akan ada yang menggantikanmu.”
            Malam itu. Dalam pelukannya. Rahman melihat seberkas luka bergaris-garis merah di betis Mia. “Kenapa kakimu?” tanya Rahman dengan suara memburu.
            “Aku tersandung di tangga, Ayah. Tak lebih. Bunda Intan selalu menjagaku.”
***
            Malam itu. Ketika semua pekerjaan itu selesai Rahmat merapihkan semua kertas perhitungan bangunannya. Memasukkanya dalam tas. Tubuhnya mengigil. Sudah malam betul. Tepat pukul duapuluh dua. Pantas saja tubuhnya merasa gigil. Di tengah malam seperti ini pendingin ruangan di ruang kerjanya masih saja menyala. Dengan langkah kaku dan panjang Rahmat meninggalkan ruang kerjanya.
            Segera ingin pulang beristirahat. Beberapa menit kemudian mobil Avanza itu melaju menerobos keramaian jalanan. Tengah malam begini, masih banyak juga kendaraan yang berhilir mudik. Sudah nyaris seperti Jakarta saja.
            Tapi, harapan untuk beristirahat itu sirna. Rahmat tidak bergeming seketika mendapati putrinya, Mia. Tergolek berdarah di bawah pecahan guci. Tubuhnya bergetar. Mulutnya terus saja merpalkan do’a.  Berharap tak ada hal buruk yang terjadi pada, Mia.
            Tunggu, semalam ini. Kemana Intan?
***
            “Maaf, Ayah. Aku hanya tak ingin merusak semuanya. Bunda Intan mencintaimu. Tapi, tidak denganku.”  ungkap Mia setelah sadar dari komanya dua hari. Guci itu membentur syaraf  kepalanya. Rahman bersyukur tak ada pendarah di kepala putrinya.
            “Kenapa kau tak jujur saja, Mia!” suara Rahman meninggi. Tak habis pikir atas skenario yang terjadi di belakangnya. Selama ini, dia menjadi ayah yang buruk bagi Mia.
            “Aku baik-baik saja, Ayah!”
            “Karena Intan menjagamu? Bulsyit! Kamu sudah terlalu pandai membohongiku, Mia! Kau tak pernah berkata jujur bahwa Intan selalu memukulmu. Entah itu dengan sapu, bambu atau rotan.” Rahman memijit-mijit kepalanya. Dia sudah nyaris gila. Bagaimana bisa istri dan anaknya berbohong.
            “Aku sudah hidup dan makan dengan baik, itu sudah cukup. Aku tak mau durhaka dengan merusak hubungan ayah dan bunda.” tambah Mia. Suaranya terdengar lirih. Andai, Mia bisa menangis. Mungkin yang Rahman dapati sepulang kerja adalah tangisannya.
            “Ayah mencintaimu, Nak! Ayah menikah karena itu permintaanmu.”
            “Ayah! Bunda melempar guci itu saat aku tersandung dan merusak kelambu bayi yang baru ia beli tadi sore. Aku tak tahu kenapa. Mia bersumpah, Mia tak sengaja.”
***
            Ini tahun baru kelima Mia dan Rahman. Tak ada Pisang Epe’ atau riuhnya kembang Api di Pantai Losari. Mia memilih duduk di atas bale-bale rumah panggung. Merasakan sepoi angin yang memainkan anak rambutnya. Dengan bandol yang sedikit miring. Mia kembali merapatkan sandarannya pada kursi.
            Nenek ada di sampingnya. Menceritakan semua hal tentang Ayah Rahman kecil yang sedang belajar berjalan. Sesekali nenek meraba-raba bekas jahitan di dahi Mia. Luka karena goresan pecahan guci.
            Tak ada Bunda Intan. Tak ada bayi Bunda Intan. Hanya ayah, nenek dan Mia. Di kampung Ayah. Malili, Sulawesi Selatan.
            Bunda Intan memilih menikah lagi dengan orang lain. Selama ini Intan merasa malu dengan teman-temannya. Mereka meledek dan mendo’akan anak dalam kandungan Intan juga akan buta seperti, Mia. Dalam usia Intan yang belum begitu dewasa. Intan menyalahkan semua itu pada Mia.
            Jika Mia tak ada. Kehidupannya akan berjalan lebih baik. Tapi, yang terjadi Intanlah yang pergi dari keluarga mereka. Intan tidak bisa diterima. Karena, Intan juga sejak awal tak bisa menerima Rahman dan Mia. Intan hanya berfikir pendek saat tahu Rahman mampu membelikannya rumah. Dan mampu menghadiahinya Dui Pappenre tinggi. Itu berarti dia bisa menyombongkan diri pada teman-temannya. Bahwa dia gadis yang terjual mahal dipernikahannya.
 
         Malam itu Mia meraba-raba wajahnya. “Mia sebenarnya tak butuh ibu, Ayah. Ayah yang sebenarnya butuh. Tapi, bagi ayah. Mia adalah segalanya. Mia mencintaimu, Ayah.” batin Mia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar