Kamis, 05 Desember 2013

Sebelum Beku

Kutulis ini dengan sisa-sisa kekuatanku untuk bercerita. Kutulis ini dalam sisa-sisa puing yang kukumpulkan demi menabung kekuatan. Kutulis ini dengan linangan airmata.

Aku masih melihatmu beberapa jam yang lalu. Kau dengan wajah berserimu mengantarku ke sekolah. Itulah masa terakhir kita bersama. Dengan seragam putih biru yang melekat di tubuhku, kau memboncengku ke sekolah. Sama seperti hari-hari biasanya.
Sampai tak sedikit pun aku berfikir ini pertemuan terakhir kita.

Kemarin malam kau juga menemaniku menyelesaikan pekerjaan rumahku. Pekerjaan dari guru sekolahku. Kau begitu sabar mengajar dan membimbingku. Sungguh. Kau ayah yang sempurna.
Kau selalu bisa tertawa saat para tetangga menghutang dengan seenak jidat mereka.
"Rezeki tak akan kemana!" hanya itu yang selalu kau katakan.

Kehidupan kita tak selebih keluarga yang lainnya. Mereka dengan suka haati mengganti barang-barang lama mereka dengan barang yang lebih baik. Sedangkan kau selalu mengajariku untuk bersyukur dengan jaket kusam yang lebih mirip lap dari pada jaket jins.

Kau tak marah padamu karena kita hidup dalam garis yang sederhana. Aku malah belajar bahwa tiap kucuran teringatmu itu sangat berharga. Kau mengajariku, bahwa kemana pun kaki ini melangkah, semewah apapun pakaian yang kukenakan. Tempat kembaliku adalah tanah.
Sudah kubilang berapa kali kau orang yang luar biasa.

Siang itu. Aku menerima telepon. Dari nomor ibu, hanya saja bukan suara ibu yang terdengar. Lamat-lamat kudengar rasanya ini suara sepupuku. Kabar duka itu sampai juga di telingaku.
Tubuhmu membeku. Kau pingsan. Dan pergi.
Begitu saja. Tak ada riwayat lainnya, tanpa tanda-tanda.
Kau terlalu sibuk membuat kami tak khawatir. Dan mengabarkan kami berita yang berada jauh dari logika kami.

Ibu sudah meneriaki orang-orang yang di Rumah Sakit. Ibu tak kuat menerima kenyataan kau telah ada. Sampai hari ini, ibu tak pernah berhenti memujimu.
Kata ibu kau adalah guru terbaik baginya.
Kata ibu kau adalah sosok yang paling tak suka protes.
Nasi dingin pun kau lahap seakan itu ayam KFC.
Kata ibu.. kau suami yang hebat.
Ternyata kau tak hanya ayah yang hebat. kau adalah suami yang hebat pula.

Sekarang, aku melihat ibu menangis setiap malam. Tapi dalam diam. Ibu menutup dan menyembunyikan airmatanya dari aku dan adikku. Aku tahu ibu merindukanmu ayah. Ibu tak akan pernah berhenti merindukanmu.
Setiap kali aku layu dan malas belajar. Dan, saat aku mengingatmu. Pasti rasa malas itu hilang. Aku selalu berharap dapat bahagiakanmu.
Hari ini belum genap empatpuluh hari kematianmu. Aku tahu ayah, kau ada di sini menemaniku bercerita dalam selembar entri.
Aku mencintaimu ayah...



Dari bilik rindu Airly Latifah
Latifahtifa.blogspot.com  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar