Kamis, 05 Desember 2013

Singkamma Tau

Oleh : Airly Latifah

   Tepat, sekitar pukul satu siang. Semua kelengkapan untuk berlibur menuju kampung nenek rampung sudah. Entah itu makanan, bantal tidur di mobil, pakaian, alat komunikasi, semuanya sudah tertata rapi.

   Perjalan ini memang tak akan lama. Hanya memakan waktu satu hari. Kami mulai menarik gas pemutar roda mobil Avanza putih dua puluh menit setelah pengumpulan barang bawaan. Ada aku, ayah, ibu, kakak, tante dan om. Menuju sebuah pedalaman di Malili, Sulawesi Selatan.

   Kuhabiskan waktuku dengan bermain gadget, dan berbaring malas. Kakak terus saja berceloteh dengan ibu dan ayah. Kakakku memang cerewet. Tante dan om tertidur pulas di bangku paling belakang. Tiga jam pertama cukup menyenangkan.

   Hingga dua jam selanjutnya atau sekitar tiga jam lagi sampai ke kampung. Kakak minta berhenti untuk ke kamar kecil. Kak Naya, mengeluh sangat kebelet waktu itu. Ayahpun menyetujui sekalian singgah sholat magrib di persinggahan jalan di Pindrang.

   Perjalanan dilanjutkan. Kak Naya sudah selesai dengan panggilan alamnya. Dia kembali dengan tatapan lurus yang tajam, hanya sekitar dua menit. Sangat sebentar. Sedangkan ayah, tante, dan om telah selesai delapan menit kemudian. Aku dan ibu hanya menunggu di mesjid karena berhalangan untuk sholat.

   Satu jam ini dilewati dengan tertidur. Kecuali ayah dan Kak Naya. Jelas karena ayah sibuk di belakang kemudinya sedangkan kak Naya hanya menatap keluar jendela. Dia sedikit lebih diam.

***

    Delapan jam telah ditempuh. Sekitar pukul sebelas malam kami tiba di kampung nenek. Malili, Sulawesi selatan.

    Nenek dengan bugarnya datang menjemput kami, padahal beberapa tahun yang lalu dia sempat terserang stroke. Terlukir senyum dibibir keriputnya sangat lebar. Dia bahagia. Kedatangan kami disambut hidangan konro yang mahamenggiurkan. Air liur ini tumpah kemana-mana.

***

    Pagi di kampung ini dimulai dengan riuhnya kok-kok-kan ayam. Bau persawahan yang benar-benar asri dan sejuk. Matahari mengintip di sela-sela jendela. Sempurna! Ohh, andai saja kota bisa seindah ini!

    Merasakan sesuatu yang basah aku segera terbangun. Aneh saja, kan kalau telingaku ngompol. Ternyata aku dibangunkan kucing kesayang nenek yang cukup besar. Kucing itu menjilati telingaku.

    Pagi ini, di mulai dengan sarapan yang lebih menggiurkan. Ayam panggang. Wah!! Lagi-lagi lidah ini bergoyang. Nenek memang paling pintar memasak.

   Siangnya, aku menghabiskan hariku dengan bermain kucing. Kucing yang berusia sekitar tiga tahun dengan bobot tubuh yang besar. Berbulu putih solid. Rasanya tak ingin pulang.

    Sedangkan, ayah mencabuti bulu ayam kampung. Kemudian mengorek kupingnya dengan bulu di tangannya. “Rasanya geli, Dek!” adunya padaku.

    Ibu masih di dapur. Tante juga ada di sana, mereka saling berlomba mengikuti kursus kilat. Om hanya duduk di halaman menikmati hisapan batang rokoknya.

    Sekitar pukul tujuh malam kami memulai perjalanan untuk pulang ke kota. Hari yang sangat melelahkan. Perjalan ini kumulai dengan tidur di mobil.

***

    Ayah tiba-tiba merem mendadak. Ada sekumpulan orang mesjid yang menahan kami. Mataku menatap lamat-lamat. Aku baru saja terbangun dari tidurku, aku tak tahu apa yang terjadi. Semua yang di luar dan di dalam mobil riuh saling berlomba mengeluarkan suara.

   Semua yang ada di mobil di minta turun oleh para orang berbaju kokoh. Mataku masih sempat menatap kakak yang terlihat begitu pucat. Ah mungkin dia ketakutan. Itu tebakku.



***

   Berita tentang banyak misteri di dunia era globalisasi ini. Banyak hal misterius yang disimpan para tetua. Sebagian dari di dunia ini menolak mempercayai. Dan, ada pula yang ingin mempelajari misteri ini lebih dalam.

   Aku bukan termasuk golongan mereka yang ingin memperdalam pengetahuan dan kemampuanku di tunas alur gaya berpikir yang sudah hidup dari leluhur tetua. Ataupun aku termasuk kedalam golongan mereka yang mati-matian menolak kepercayaan itu. Tidak! Aku bukan keduanya. Tapi, aku yang berada dalam posisi netral. Merasakannya. Begitunya nyata.

***

    Mereka yang meminta kami turun dari mobil adalah para warga Pindrang, Sulawesi selatan. Mereka mengatakan kami meninggalkan kakak sendirian.

    Aku melihat kakak di peluk wanita gemuk paruh baya. Kakak dan wanita itu berada sekitar dua meter dari mobil. Aku kepalaku otomatis tertoleh kesamping. Sosok kakak yang kulihat pucat tadi tidak ada di sampingku!

    Kakak mengaku di tinggalkan saat pergi ke kamar kecil. Antrian di kamar kecil mesjid cukup panjang. Sehingga, kakak tersita cukup lama di situ. Sekembaliannya kakak ke luar mesjid. Kakak langsung menangis mendapati mobil yang terparkir sudah menghilang. Kakak berlari mencari sosok yang dikenalinya di mesjid. Namun, nihil. Semua wajah baru.

    Dengan bantuan warga semua mobil yang lewat diperiksa nomor polisinya. Kakak menatapku kuyu. Sedangkan, kami yang di mobil menyimpan banyak tanya di kepala. “ Lalu, siapa perempuan yang bersama kami kemarin?” batinku

***

    Menurut keterangan warga. Memang sering terjadi hal serupa ini. Warga menyebutnya dengan “ Si Singkamma Tau” dia selalu merubah wujudnya menjadi seseorang untuk mengelabuhi. Sudah banyak yang menjadi korban. Dulu ada seorang pemuda mabuk yang didatangi wanita cantik. Sangat cantik. Dan, ternyata jelmaan “ Si Singkamma Tau”. Ada pula anak kecil yang membantu seorang nenek mengangkat kayu bakar menuju sebuah gubuk tua dan sang anak tertidur setelah membantu sang nenek membersihkan gubuknya. Dan ketika sang anak kecil itu terbangun dari tidurnya karena kelelahan dia kaget bukan main mendapati dirinya di tengah perkuburan.

     Sekarang, sejak hari itu. Kehidupanku berubah. Mereka yang terkelabui jelmaan akan mendapat penyakit aneh yang tak dapat dijelaskan oleh dokter. Sekalipun dokter profesional.Sang pemuda ditemukan tewas esoknya tanpa sebab. Dan, anak kecil itu mengalami mentruasi yang tak berhenti.

     Sedangkan aku lumpuh. Tak ada yang bisa bergerak dalam diriku. Persendianku mati. Aku menyesali malam ketika aku tidur dan berbagi kasur dengan Si Singkamma Tau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar