Kamis, 09 Januari 2014

Cernak ke-dua yang diterbitkan "Persahabatan Bimbim dan Timy"


Persahabatan Bimbim Dan Timy
Oleh : Airly Latifah

Harian Fajar. (Makassar, Sulawesi Selatan)
Sabtu, 04 Januari 2014
Sahabat Anak (Cernak)
 
     Dulu, sekitar lima ratus tahun yang lalu. Ada dua ekor kucing yang bersahabat. Keduanya tinggal di hutan yang sangat luas tetapi gersang. Mereka selalu bersama-sama sepanjang waktu. Kucing yang berwarna belang kuning bernama Bimbim, sedangkan yanng berbelang hitam putih bernama Timy.

     Suatu hari, Bimbim mendapati Timy menangis di bawah pohon mangga. Padahal hari sudah sangat larut. Rupanya ada sebuah musibah yang membuat Timy tak bisa tidur. “Kamu kenapa, Timy?” tanya Bimbim prihatin.

     “Ibuku...! Dia sakit ... aku harus membelikannya susu domba di hutan sebelah .... sedangkan uangku tidak cukup membeli susu domba di sini... karena harganya sangat mahal.” Timy menjelaskan dengan perasaan tersedu-sedu.

     Bimbim tahu betul hutan sebelah sangat teduh dan menyenangkan. Hanya saja hutan sebelah hanya dijembatani sebatang pohon pisang tumbang. Karena itu, sangat banyak hewan yang tidak berani menyeberang menuju hutan sebelah. Termasuk Bimbim.

     Apalagi ibu, dan ayah Bimbim. Mereka akan sangat marah apabila anaknya menyeberang menuju hutan sebelah. Mereka khawatir anaknya terpeleset dan jatuh di jurang yang dalam.

     “Lalu? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Bimbim khawatir.

     “Aku akan menyeberang ke hutan sebelah demi membelikan ibuku sekotak susu domba!” Timy menatap Bimbim mantap. “Dan aku harap kau menemaniku, Bimbim!” lanjut Timy meminta bantuan pada sahabatnya.

     “Apa?” Bimbim terpelonjak kaget mendengar permintaan Timy.

     “Iya! Besok pagi aku akan berangkat. Kutunggu kau di sini besok yah, Bimbim!” Timy membuat janji dengan Bimbim.

     “Iya!” Bimbim mengiakan penuh rasa ragu.

***

     Besoknya, hingga pukul sembilan pagi. Bimbim tak kunjung menampakkan dirinya pada Timy. Sepertinya Bimbim mengingkari janjinya. Dengan berat hati Timy melakukan petualangan menegangkannya sendirian. Tanpa teman. Timy merasa sangat kecewa. Tapi, Timy tidak menyimpan dendam pada Bimbim.

     Di waktu yang sama, Bimbing yang berada di rumahnya terus saja berfikir bagaimana cara menghindari Timy dan janjinya. Sejujurnya Bimbim sangat takut menyeberangi jembatan hutan sebelah. Untuk menghindari Timy, seharian penuh ini Bimbim menghabiskan waktunya di rumah temannya. Bimbim bermain petak umpet hingga larut malam.

     Bimbim pun melupakan sahabatnya, Timy yang sedang kesulitan.

***

     Matahari telah terbenam. Tepatnya sekitar pukul sepuluh malam. Bimbim datang dengan wajah penuh ketakutan ke rumah Timy. Rupanya Bimbim kelupaan waktu. Bimbim bermain petak umpet hingga lupa pulang, dan sekarang pastilah ayah dan ibu Bimbim sudah pusing mencari anaknya. Bimbim sangat takut untuk pulang. Dan mengaduh pada Timy.

     “Aduhh...! bagaimana ini, Timy? Ibu dan ayahku pasti marah besar.” Bimbim kepusingan. Dia berjalan mondar mandir tanpa henti di kamar Timy.

     “Tenang! Timy bisa bikin orangtuamu tidak marah.” jawab Timy dengan wajah penuh keyakinan.

     “Ah! Apa kau benar, Timy?” tanya Bimbim.

     “Iya, Timy janji!” balas Timy dengan janji yang pasti akan dia tepati.

     Tokk.. Tok.. Tokk
     “Itu pasti ibuku!” tebak Bimbim. Seketika tubuh Bimbim gemetaran hebat karena ketakutan.

      Bimbim menyepakati aturan main dari Timy. Kalau Bimbim tidak boleh ikut membuka pintu. Bimbim hanya boleh duduk mendengarkan di samping jendela kamar Timy, yang tidak berda jauh dari pintu. Sedangkan, Timy keluar menemui ibu Bimbim.

      “Timy! Kamu bersama Bimbim?” tanya ibu Bimbim.

      “Iya, Bu! Bimbim satu hari ini bersamaku. Dia menemaniku menyeberangi jembatan menuju hutan sebelah. Dia sangat berani. Bimbim menolongku karena uangku tak cukup lagi membeli susu domba di hutan ini. Ibuku sakit, Bu. Jadi kami harus berupaya mendapatkan susu itu segera.” Jawab Timy berbohong.

      “Betulkah? Ibu sebenarnya ingin marah pada Bimbim, tapi sekarang yang ada ibu sangat bangga pada Bimbim. Kalau begitu, kamu saja yang sampaikan pada Bimbin kalau dia sudah harus pulang sekarang!” Ibu Bimbim terlihat sangat gembira.

      “Baik, Bu! Nanti Timy sampaikan pada Bimbim.” Timy tersenyum. Ibu Bimbim pun langsung segera pulang.

      Tinggallah di sana Bimbim yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Timy dan ibunya. Bimbim dihinggapi rasa bersalah yang luar biasa. “Maafkan aku, Timy!” ungkap Bimbim. Seraya memeluk Timy.

      “Maaf untuk apa?” tanya Timy.

      “Aku tidak menepati janjiku, dan aku tidak menolongmu menyeberang ke hutan sebelah. Lalu, kini kau menolongku.” Bimbim sangat menyesal.

      “Itulah gunanya sahabat, Bimbim. Kita harus saling membantu. Aku juga tak marah padamu.” Jawab Timy tanpa rasa marah.

      “Kau sahabat terbaikku, Timy!” sejak saat itulah. Bimbim berjanji untuk tidak akan pernah lagi mengingkari janjinya, dan Bimbim akan selalu membantu Timy.

      Karena Timy adalah sahabat terbaiknya. Bimbim tidak ingin mengecewakan Timy untuk kedua kalinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar