Rabu, 22 Januari 2014

Cernak Ke-Tiga yang diterbitkan "Bidadari yang Cemburu!"

Bidadari yang Cemburu 
Oleh : Airly Latifah

     Tania memeluk boneka beruang pink di tangannya. Sembari sesekali memperbaiki posisi baju dan pita kupu-kupu bonekanya. Tania tak ingin bonekanya terlihat jelek ataupun kotor. Setiap Tania selesai bermain dia pasti selalu meletakkan bonekanya di lemari.

     “Tania tidak mau bonekaku kotor, Bunda!” itulah rengekan manja Tania saat meminta dibelikan lemari.

      Tania selalu saja menjaga bonekanya dari debu dan kotoran. Setiap temannya datang ke rumah. Tania pasti mengunci lemari mainannya. Pernah satu kali boneka beruangnya di robek tetangga sebelah. Dan, sejak hari itu Tania tak ingin berbagi mainan.

      “Bunda, boneka barbie ini nggak mau Tania simpan di lemari. Boneka ini mainan kesayangan Tania.” cerita Tania pada Bunda beberapa bulan yang lalu. Benar, untuk boneka yang satu ini Tania membuat pengecualian. Tania selalu ingin boneka kesayangannya berada di dekatnya. Tania tidak ingin boneka itu terduduk mematung di dalam lemari.

***

    Tania mematung di depan lemari boneka jambunya. Dia kebingungan dengan semua mainan boneka yang berantakan karena diobrak-abrik adik sepupunya. Tania menyeka pipinya yang basah. Bagaimana tidak, Tania merasa kecewa.

    “Sabar yah sayang. Nanti Bunda bantu bersihkan.” bujuk Bunda sambil memeluk putrinya. Berusaha menyabarkan Tania.

     “Bunda! Kenapa Arya sangat nakal! Tania nggak mau dekat-dekat dengan Arya! Bunda harus larang Arya masuk ke kamar Tania!” tegas Tania pada Bunda. Airmata Tania masih jatuh sesekali.

     “Jangan begitu sayang, dulukan Tania sangat senang saat Arya lahir.” Bunda mengingatkan.

     “Tapi, nggak sekarang! Tania benci Arya! Arya perusak mainan!”

      Sejak hari itu Tania benar-benar marah terhadap Arya. Apalagi ketika mendapati boneka Barbienya dicopot-copoti Arya. Sekarang boneka barbie kesayangan tania terbagi empat. Kedua tangan dan kepalanya terpisah dengan tubuh. Tania bertambah kesal.

      “Bunda! Barbienya Tania rusak. Dirusak Arya!” aduh Tania pada Bunda yang sedang sibuk memasak.

       “Besok Bunda belikan yang sepasang. Boneka Barbie dan Ken, yah? Tania nggak boleh bilang begitu lagi.” Bunda sesekali menatap Tania lalu kembali memotong wortel untuk makan siang Tania.

        “Tapi, Barbienya Tania itu sangat cantik, Bunda!” keluh Tania lagi.

       “Tania tahu nggak? Kalau bidadari itu jauh lebih cantik dari barbie?” tanya Bunda. Seraya mencuci tangannya dan duduk berjongkok menatap mata Tania.

       “Tapi, Tania tidak pernah melihat bidadari, Bunda!” Tania memanyunkan bibirnya.

       “Bidadari itu sangat cantik Tania. Bidadari itu tujuhpuluh kali lipat kecantikan manusia biasa. Termasuk Barbie.” Bunda diam sebentar. Lalu menambahkan. “Dan, bidadari akan sangat cemburu pada perempuan yang sholehah, yang rajin ibadah, tidak kikir dan berhati baik. Karena bidadari akan merasa malu pada perempuan sholehah.” Bunda mengelus kerudung Tania.

      Tania tak menjawab. Bibir manyun tak tergambar di wajahnya. Hanya hening. Tania sedang berfikir.

***

      “Bunda? Adek Arya mana?” tanya Tania.

       “Adek Arya membatu ayah cuci mobil, Sayang.” Jawab Bunda yang sedang merapikan meja makan.

       Dengan langkah tergopoh-gopoh Tania menghampiri Arya. Dalam pelukannya terdapat sepasang boneka Barbie dan Ken. “Arya, boneka Ken-nya buat kamu, yah? Kalau Barbie-nya buat Tania? Mau, kan?” tanya Tania pada Arya yang sedang mengambil sampo mobil untuk Ayah.

      Lantas, Arya tak jadi mengambil sampo itu. Arya dengan tubuh sedikit gempalnya menghampiri Tania. Langkahnya tergopoh-gopoh mengambil boneka Ken itu. Melupakan niatnya membantu Ayah Tania.

      Tania dan Arya bermain hingga mereka tertidur kelelahan.

      “Bunda, Tania ingin membuat bidadari cemburu. Tania berjanji akan menjadi wanita sholehah seperti, Bunda. Tania nggak akan marah sama Arya.” batin Tania sebelum mempertanyakan dimana keberadaan Arya pada Bunda pagi tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar