Minggu, 23 Februari 2014

Cernak Ke-Empat Yang Diterbitkan "Jilbab Qadrianda"

Jilbab Qadrianda
Oleh : Airly Latifah

    Sesekali Qadrianda memperbaiki jilbabnya. Dengan bibir tersenyum lebar dia merapikan jilbabnya yang terkibas angin. Hari ini adalah hari pertama Qadrianda memakai kerudung. Kerudung berwarna biru langit yang sangat cantik. Qadrianda akan bangga dengan penampilan barunya.

    Angin seolah ikut senang dengan kerudung Qadrianda.

    Qadrianda, gadis cantik bermata cokelat yang selalu tersenyum ramah. Gadis kecil kebanggaan Bunda.

    “Qadri! Jilbab itu membuatmu bertambah cantik. Sangat cantik. Artis kalah, deh!” kata-kata Bunda terngiang di kepalanya. Qadrianda sangat sayang pada Bunda. Selalu menaati perintah Bunda. Termasuk menggunakan jilbab.

    Setiba di sekolah seluruh teman sekolah Qadrianda menatap dengan tatapan aneh. Sesekali ada yang tertawa lalu berlari meninggalkan Qadri. Dalam hati Qadrianda tersenyum. “Pasti temannya melihat Qadri begitu cantik hari ini. Hingga tak tahan untuk senyum.” batinnya.

***

    Sudah tiga hari setelah Qadrianda menggunakan jilbabnya. Qadrianda merasa sangat nyaman dengan jilbab itu. Hanya saja. Ada yang aneh.

   Qadrianda sudah menginjak kelas tiga tingkat sekolah dasar. Teman sekolahnya belum ada yang menggunakan jilbab sepertinya. Hanya Qadrianda. Sebuah pandangan yang ganjil di sekolah.

    Beberapa temannya menjauhinya dan selalu tertawa kecil ketika melihat Qadrianda. Entah, Qadri tidak mengerti apa yang sebenarnya temannya tertawakan. Tak ada yang lucu disini.

    Qadrianda kembali merapikan kerudungnya.

***

    Rabu. Jam sembilan pagi. Qadrianda menerobos rumah dan menghambur kepelukan Bunda. Qadri pulang lebih cepat. Tapi, bukan karena dia jatuh sakit.

    “Kamu kenapa, Sayang?”

    Dengan mata merah ber-air Qadrianda mendesah pelan. “Ridho.... dan Alvian..... menarik kerudungku. Mereka mem.....benciku, Bunda!”

    “ Loh? Kenapa bisa seperti itu?” tanya Bunda dengan wajah sedih.

    “Mereka bi..lang Qadrianda...... sangat jelek.” Dengan tersedu-sedu Qadrianda mencoba berbicara. Suaranya tak begitu terdengar jelas. “Qadrianda katanya mirip ninja.” aduhnya.

    “Ridho dan Alvian tidak membencimu. Mereka hanya belum terbiasa.” Suara Bunda terdengar sangat lembut. Bunda menarik Qadrianda kedalam pelukannya. Lebih dekat. Lebih nyaman.

    “Semuanya! semuanya suka menertawakan Qadrianda, Bunda! Qadri nggak mau pake kerudung lagi!” wajahnnya mengeras. Suaranya terdengar lebih baik sekarang.

    “Allah meminta kita memakainya, Sayang! Karena Allah sayang.”

    “Qadrianda nggak mau, Bunda!”

    “Qadri.. Ibu Guru, Mama, Tante, dan Nenek, kan pakai kerudung. Itu karena Allah yang memintanya. Teman-teman Qadri itu tidak akan pernah puas dengan penampilan Qadri. Jadi, dari pada memuaskan mereka. Lebih baik kita memuaskan perintah Allah. Lebih bermanfaat.”

    “Bunda! Apa Qadri jelek pakai kerudung?” tanyanya dengan tatapan kosong. Menunduk. Takut dengan jawaban (Iya) Bunda.

    “Tidak! Qadri sangat cantik dengan kerudung. Terlihat seperti muslimah.”

    “Apa bagusnya, Bunda?” mata Qadri mulai berbinar penasaran.

    “Kerudung juga membuat Qadri mempercantik hati. Kerudung membuat Qadrianda dekat dengan surga!” Bunda merapikan kerudung Qadri yang kusut. “Seseorang yang berkerudung saja belum tentu masuk surga. Apalagi yang tidak berkerudung. Dengan kerudung, Qadrianda setidaknya menghindari neraka. Qadri mau jadi penghuni surga, kan?” tanya Bunda melanjutkan.Bunda mempererat pelukannya.

    “Mau! Qadri akan pakai kerudung, Bunda! Ridho, Alvian daan semuanya sok tahu bilang Qadri jelek. Padahal sikap mereka yang jelek.” Qadri menyeka airmatanya lalu tertawa. Membalas pelukan Bunda.

    “Aku sayang Bunda. Harusnya Qadrianda yang menertawakan mereka yang tidak menggunakan jilbab.” batinnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar