Minggu, 23 Februari 2014

Getar Akhir Januari

Getar Akhir Januari 
Oleh : Airly Latifah

    Tatapanku menyapu lantai kusam menguning. Lantai yang sebenarnya putih bersih. Lusuh tercoret-coret jejak kaki sepatu penuh tanah. Jejak kaki langkah-langkah cepat yang tak pernah peduli padanya. Sunyi ini menerbangkanku pada rindu.

    Angin sesekali menyambar kerudungku. Kerudung abu-abu yang selaras dengan seragamku. Angin turut membelai rumput. Membiarkan aku bercerita dengan rumput yang bergoyang. Bercerita tentang rindu.

    Kita punya cerita, Daeng. Punya rindu yang selalu hidup. Mungkin untukku saja. Kau menghilang sejauh rindu ini bertumbuh lebih tinggi. Menyulur menutup hati pada orang lain. Daeng. Panggilan itu. Masih melekat kuat padaku.

    Daeng, rumput bergoyang ini tahu kalau senja, rinai, subuh, dan petang selalu hadirkan rindu. Menulis sajak-sajak rindu. Ratusan juta sajak.

    Dua tahun yang lalu. Kesepakatan itu kita ambil. Perpisahan. Meninggalkan hubungan yang terlarang. Perpisahan demi masa depan yang lebih baik. Perpisahan itu tidak sedikit pun merubahku, Daeng.

    Rindu ini setia. Tidak berubah. Semenit pun, sedetik pun, hingga sepersekian detik pun.

***

   “Tirsya! Benar apa yang ibu bilang. Menikah lalu pacaran. Kita ambil jalan terbaiknya.”

   “Tapi, Daeng! Kalau begini pasti kita akan lebih banyak pilihan lagi.”

   “Pilihan memang banyak, Tirsya! Tapi, takdir untuk jodoh hanya satu.”

   Percakapan itu. Rentetan dialog itu yang paling mampu kuingat darimu, Daeng. Di bawah pohon jambu di sekolahku. Keputusan itu kita ambil.

   Daeng, kita pergi tinggalkan kota cinta. Kota Makassar. Pesawat menerbangkan Daeng pergi menuju negeri singa untuk masa depan yang lebih baik. Untuk pendidikan yang lebih baik.

   Tapi, belum pasti aku untuk Daeng.

***

   Daeng, 28 januari kemarin. Salah seorang keluarga ta menyampaikan pesawat sempat menerbangkanmu kembali ke kota kita. Kota cinta kita. Untuk beberapa hari. Tapi, menurutku Daeng sebersit pun tidak berfikir untuk menemuiku.

   Daeng, ada getaran yang begitu nyata di dada ini. Kau sudah benar-benar berubah. Pasti ada pilihan lain di sana.

***

   “Ndi’ , bukan saya tidak mau ketemu. Tapi, saya mau rindu ini lebih meracun lagi sampai nanti kita halal. Tunggu lamaranku, Ndi’” batin Alamsyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar