Rabu, 26 Februari 2014

Tentangmu, pencuri akal, yang tak masuk akal.

Aku masih ada disini. Menatap berbaris-baris papan qwerty komputer. Aku sedang ingin bercerita tentangmu, memprasastrikan cerita yang sempat terjadi diantara kita. Cerita yang bagaimana mungkin bisa aku lupakan. Kau terlalu pandai untuk mengatur jalan permainan kisah kita. Ohh, andai saja aku bisa menjadi penonton saja. Tapi, tidak.
Kau memintaku memerankannya. Kau memintaku menjadi tokoh utama dalam ceritamu.

Dalam sambungan telephone kau lebih sering mendominasi cerita. Kau seorang pencerita, sedangkan aku. Aku lebih nyaman bercerita melalui jemariku. Karena aku mampu merangkai jutaan kata indah nan cantik yang kuyakin tak seorang pun kan tersinggung.
Disaat kita kehabisan bahan pembicaraan. Atau bahasa lainnya setelah kita kehabisan pertanyaan, seperti, sedang apa? Sudahkah makan? Bagaimana harimu? Bagaimana kuliah atau sekolahmu? Adakah kau merindukanku? Masih samakah perasaan itu. Setelah semua pertanyaan itu selesai. Kau selalu saja bercerita tentang aku dan tatapan pertamamu padaku.
Aku juga masih dapat mengingatnya, hanya saja lebih jelas setelah kau menceritakannya kembali.

Bagaimana tidak, hal itulah yang sebenarnya membuatku merasa konyol dan sangat bodoh. Aku menjalani banyak test psikologi saat ikut bimbingan belajar, agar para Tentor tahu bagaimana cara yang tepat saat mengajarku. Sedangkan kala itu, di saat masa 'Seleksi Test Psikotes anggota Osis baru' aku yang paling kau lihat mencolok. Dengan wajah dan tatapan khas seolah sedang memecahkan kasus detektif. Kau bercerita bahwa mimikku benar-benar menggelitik. Aneh. Dan saat itu, sudah banyak temanmu yang menganggapku berbeda dari peserta lainnya. Kau yanng paling terakhir menyadari itu. Kau tahu, kisah kita dimulai di situ. Dimana kau benar-benar memperhatikanku seolah aku sedang bermain sulap.
Bodohnya dengan segala mimik aneh itu, wajah aneh itu, kepala pusing itu. Aku menyelesaikan test dengan nilai yang jauh dari harapanmu. Dibawah angka yang kau harapkan.
Entah, Tuhan mungkin sedang memberikan kita sebuah batu krikil. Menguji sekuat apa insting diantara kita.

Setelahnya...
jangan tanya aku, kau lebih pandai lagi bercerita.

Aku merindukanmu.


Kekasihmu, dari kota kita.
Makassar, Sulawesi-Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar