Jumat, 14 Maret 2014

Ayah

Ayah 
Oleh : Airly Latifah

    Aku masih ada disini, Ayah. Masih duduk menatap pecahan gelas yang beberapa jam yang lalu kau lemparkan ke dinding. Tak selangkah pun aku beranjak. Aku akan menikmati sakit ini lebih lama. Aku ingin menumbuhkan rasa benci padamu, Ayah.

     Ini memang terdengar bodoh. Bagaimana mungkin seorang gadis yang tumbuh besar dan lahir atas keringat yang mengucur kulit gelapmu, tengah belajar memupuk benci padamu. Aku hanya ingin tahu dimana Ibu. Hanya itu. Tapi, kenapa selalu reaksi Ayah, seolah aku sedang berkata, bahwa Tuhan itu tidak pernah ada.

     Ayah, kau pergi begitu saja setelah melemparkan gelas kopimu ke dinding. Menodai putih dengan tinta bubuk kopi yang tak larut sempurna. Tinta yang menetes turun perlahan mewarnai lantai semen kita. Ayah, disini baunya sangat pekat. Keras. Tajam.

     Disini. Di ruangan tempatmu membuang penat setelah seharian melukis.

     Ayah, aku rindu pada Ibu! Aku selalu rindu pada sorot mata lembut Ibu. Apakah kau tidak merasakan hal yang sama? Kenapa sekarang kata ’Ibu’ kau letakkan dalam daftar hitammu. Ayah, aku rindu pada Ibu. Hanya itu.

     Ibu! suara lemparan gelas kopi Ayah masih terus terngiang dalam telingaku. Masih begitu jelas. Tidakkah, Ibu ingin datang memelukku, menemaniku barang sebentar. Menuntaskan rindu dan sakit hatiku. Ibu, Apakah kau mengizinkanku untuk membenci Ayah?

***

    Ibu, Apakah Ayah benar membencimu? Jika ia, kenapa ruang tidurnya masih dipenuhi akan lukisan wajahmu. Tapi, mengapa Ayah berubah menjadi meriam yang siap meledak ketika mendengar namamu. Apa yang sebenarnya membuat ini begitu rumit. Apa yang sebenarnya tidak aku ketahui disini.

    Ibu, andai saja kicauan burung itu dapat kumengerti. Mungkin mereka akan menjelaskan semuanya padaku. Mereka akan bercerita tentang hal yang selama ini kalian sembunyikan dariku.

***

     Apapun resikonya, Maafkan aku memaksamu Ayah. Tapi, Aku harus mengetahuinya.

    “Ayah, sekarang apa boleh aku tahu Ibu ada dimana?” raut wajah Ayah berubah dingin. Sangat dingin. Tangannya mengeras. “Tak ada kopi, tak ada gelas. Tak ada lagi yang bisa kau lemparkan. Apa kau berniat melempariku.... meja?” suaraku terdengar sedikit parau.

     “Kenapa kau ingin menemuinya?” hanya itu yang kudengar.

     “Aku merindukannya, Ayah! Hanya itu.” sebulir airmata jatuh mewakili perasaan sakit yang tersemat sejak kemarin. Sangat dalam. Sangat tajam.

     “Kenapa kau merindukannya? Wanita yang rela meninggalkanmu. Membiarkanmu menangis meraung-raung. Apa masih pantas kau memanggilnya Ibu?” dahiku berkerut. Apakah Ayah sedang berkelakar saat ini? “Aku mencintainya. Kau juga mencintainya. Tapi, apa boleh jadi, dia memilih untuk bersama laki-laki yang lebih kaya dari Ayah. Dia meninggalkan kita.”

     Aku semakin tidak mengerti. Wanita? Siapa wanita itu? Apa dia Ibu? Apa yang ayah sedang bicarakan? Batinku sesak. “Ibumu. Dia kini menjadi wanita simpanan para pejabat di pulau jawa sana.” lanjut Ayah. Apa? Apa yang kudengar barusan? Ayah masih terus berbicara. Tapi, tak satu pun lanjutan kalimat Ayah yang mampu kudengar. Aku tak sanggup mendengarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar