Jumat, 14 Maret 2014

Perempuan Penggenggam Ricik

Perempuan Penggenggam Ricik 
Oleh : Airly Latifah

     Dari jarak sejauh ini. Dari balik kaca jendela yang berembun, aku merasa ini sempurna. Gadis itu ada disana, berdiri sejauh sepuluh meter dari sini. Kedua tangan kecil itu ia rentangkan ke depan. Membiarkan ricik luruh air hujan membasahinya. Dari jarak sejauh ini, dadaku sudah bergetar hebat.

     “Apa kau tak pernah takut hujan membuatmu terlihat kuyu dan berantakan?” tanyaku kali pertama melihatnya merentangkan tangan diantara rinai hujan.

     “Tidak. Hujan adalah anugerah. Dan, aku tak mungkin menolak sebuah anugerah.” jawabmu tanpa menengok padaku. Matamu masih saja menatap bulir hujan yang jatuh. Aku sendiri tak berani menyanggah. Kau benar. Hujan adalah anugerah.

     Hujan, akan mengingatkanku padamu. Pada tatapan teduh dan kagum atas bulir yang jatuh. Orang lain akan berlari secapat mungkin untuk menghindari hujan. Tapi, kau. Kau malah berlari menuju hujan.

     “Dirga! Tolong ulangi penjelasan Bapak baru-baru ini!” aku yakin saat ini petir sedang menyambarku melalui sosok guru yang menyebalkan ini. Pak Tyo. Uh, kenapa dia harus tahu aku memperhatikanmu! Rusak sudah khayalanku.

***

      Sesekali aku menarik ujung dasi abu-abuku, hanya memastikan dia tak berantakan. Aku melihatmu di ujung sana. Beberapa detik lagi kau akan berlalu di hadapanku. Setidaknya aku harus bersiap. Dari sini, dari jarak yang sedikit lebih dekat ini, aku melihatmu. Jantungku juga merasakanmu, ia berdegup seolah sedang mendengarkan orkestra acara pernikahan di desa.

      Aduh, sekitar sepuluh detik lagi kau akan berlalu di hadaapanku. Ohh, kumohon organ tubuhku bekerjasamalah denganku! Buat aku bersikap normal! Aku candu melihatmu. Kini yang kulihat, tanganmu sesekali memperbaiki anak rambut yang jatuh menutupi matamu.

    Tapi, kini kau melewatiku, berlalu. Tanpa sedetik pun menoleh.

***

     “Apa kau melihat Sasmita?” pertanyaan itu sudah saya lontarkan kepada beberapa anak perempuan. Jawaban mereka serempak ‘Tidak’. Gadis pecinta rinai hujan itu kini menghilang. Menghilang ketika perasaanku akan membuncah keluar.

     “Ah, kau dimana?” batinku sesak.

      Bahu keras ini kusandarkan pada dinding putih koridor sekolah. Mata yang tersorot lurus pada ricik hujan. Aroma khas hujan tercium memenuhi koridor. Membuatku bertambah rindu padamu. Surat ini belum sampai, lalu kau menghilang. informasi terakhir yang kudapat kau pindah keluar kota. Tepat hari ini.

      Tanganku mencoba mengenggam ricik hujan. Seperti yang biasa kau lakukan. Kau tahu, rasanya sangat menyenangkan. Se-menyenangkan aku membayangkanmu di sini. Sejak saat ini aku menabung rindu. Padamu, pada ricik hujan.

     “Dirga!” kepalaku tertoleh sebentar.

     Sosok guru berkemeja cokelat sedang berdiri tegak di belakangku. “Dirga! Setahun lagi kau akan lulus. Bersekolahlah yang baik. Kuliah dan dapatkan pekerjaan yang baik. Setelah itu, pinanglah gadis yang paling kau cintai.” lanjut Pak Tyo. Tangannya menepuk bahuku pelan. Dahiku berkerut. Berkerut dalam.

     Tapi, kerutan itu menghilang seketika mengingat Sasmita adalah anaknya. Anak Pak Tyo. Kulihat seulas senyum di bibirnya. Hujan masih luruh dengan sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar