Minggu, 09 Maret 2014

POHON CARTACELA #Telah terbit


Pohon Cartacela
Oleh: Airly Latifah
            Di sebuah Kerajaan Kereta Emas, tumbuh sebatang pohon yang sangat tinggi menjulang. Tak ada seorang pun yang tahu siapa yang menanamnya. Menurut para tetua kerajaan, pohon itu sudah hidup ratusan tahun. Sebuah Pohon ajaib bernama Pohon Cartacela.
            Pohon Cartacela berbeda dengan pohon yang lainnya. Pohon ini berbatang cokelat dengan dedauanan yang tak pernah gugur. Satu pun.
            Ratu Felicia sangat mencintai pohon itu. Ratu Felicia di kenal sebagai ratu yang sangat bijaksana dan baik hati. Seorang ratu yang tak pernah menyombongkan diri dan selalu bersikap baik terhadap rakyatnya. Sedangkan Raja telah lama meninggal karena peperangan yang pernah terjadi beberapa tahun silam.
            Ratu Felicia memiliki dua orang putri cantik. Catrine dan Rianty, keduanya berparas sangat cantik. Hanya saja ada yang berbeda, Catrine bertabiat buruk. Dia berbicara tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain.
            Sedangkan, Rianty adalah seorang putri cantik yang selalu bersikap baik. Dia merupakan cerminan dari sikap ibunya, Ratu Felicia. Rianty juga mengikuti tabiat ibunya. Setiap sore dia selalu menyempatkan diri menyiram Pohon Cartacela. Seolah-olah ia takut kehilangan pohon itu.
            “Kamu tak harus selalu menyiraami pohon itu. Kamu lebih baik melakukan hal lain. Pohon tua itu tidak akan mati jika kau tak menyiramnya.” ungkap Catrine saat mendapati adiknya sibuk menyiram pohon.
            “Pohon ini menghargai kerajaan kita. Negara kita. Tapi, kenapa kau tak bisa lakukan hal yang sama padanya?” balas Rianty.
            “Pohon itu sama sekali tidak berguna.” dalam satu langkah cantik, Catrine meninggalkan adiknya. Tertelan di balik pintu taman.
***
            Catrine selalu bersikap semaunya, beberapa kali dia pernah mengusir para petani yang ingin bertemu dengan Ratu Felicia. Catrine tak ingin tahu apa alasan para petani itu ingin bertemu ibunya. Catrine tak peduli.
            Hingga pada suatu malam di saat bulan purnama, Catrine melihat adiknya Rianty sedang berbicara dengan nenek tua di taman.
            “Apa yang nenek tua ini lakukan di sini? Bagaimana ia bisa masuk ke dalam istana semalam ini?” tanyanya pada Rianty.
            “Dia nenek yang baik, dia selalu bercerita tentang dunia di luar kerajaan kita kepaadaku. Kau tak boleh berkata sembarangan kepadanya.” Rianty mencoba membela nenek tua dihadapannya.
            “Mana mungkin nenek tua ini menceritakan hal itu padamu. Berjalan beberapa mil keluar kerajaan saja dia pasti sudah jatuh pingsan.” balas Catrine dengan dagu terangkat.
            Saat itu, untuk pertama kalinya. Daun pohon Cartacela jatuh.
***
            Para petani membanjiri istana, mereka mengadukan tanah yang tiba-tiba mengering. Baahkan rerumputan yang beberapa jam yang lalu menjulang tinggi. Kini tertidur layu. Sedangkan, pohon cartacela daunnya menguning.
            Ratu terduduk diam. Mencoba mencari dalang dari penyebab semua kerusakan di lingkungan kerajaanya. Petani mulai mengeluh, jika hal ini terus berlangsung. Maka para ternaknya akan mati.
            Itu berarti kehancuran bagi kerajaan.
            Ratu meminta para petani untuk bersikap tenang, “Semuanya akan kembali normal segera. Saya berjanji.” ungkap tegas Ratu Felicia saat itu.
            Ratu pun memerintahkan seisi istananya di kosongkan. Dan, hanya ada ratu di dalam istana tersebut.
***
            “Aku yang menyebabkan ini semua terjadi. Putrimu menghinaku semalam. Aku hanya menginginkannya. Berikan dia padaku lalu semuanya akan kembali.” balas Peri Carcela yang telah berubah wujud menjadi wanita cantik.
            “Siapa? Rianty? Kukira kau bersahabat dengannya?” tergurat pertanyaan di wajah Ratu.
            “Bukan, Catrine. Gadis itu, aku menginginkannya.”
***
            Dalam dua hari seluruh kerajaan kembali seperti semula. Terkecuali dengan Catrine. Tak ada yang tahu dia kemana. Bahkan Ratu Felicia tak tahu Peri Carcela membawanya kemana.
Pohon Cartacela merupakan jelmaan Peri Carcela. Peri yang memberikan kedamaian pada negerinya.
__________________________________________________________________
“Dari Jabir bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ‘Yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian, dan sesungguhnya yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah mereka yang banyak berbicara, yang memaksa-maksakan bicara supaya didengar dan mereka yang sombong’,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar